Di sebelah barat laut Hefei, di area hutan tepat di lembah pegunungan Hulao terdapat sebuah penjara khusus untuk para manusia yang telah melakukan kontak dengan roh. Sebuah penjara dengan penjagaan eksklusif langsung dari para petinggi Vanguard Label Society. Kelompok ekstremis anti makhluk astral ini sudah bertahun-tahun eksis di daratan Kuzech untuk menjaga stabilitas kehidupan. Menurut mereka semua orang yang telah melakukan kontak dengan makhluk astral harus dibersihkan demi menjaga keseimbangan kehidupan. Dan saat ini Ryou sedang menjalani proses pembersihan di sana.
Ryou akhirnya sadar dari pertarungan malam itu. Peristiwa itu menguras semua tenaganya. Ryou terbangun dalam keadaan tanpa busana. Tangan, kaki, dan lehernya dirantai seperti hewan buas. Di sana, seorang sipir sedang memonitor Ryou. ia berbicara pada Ryou melalui sebuah sepiker. Sipir itu mengucapkan selamat datang di penjara eksklusif Steywa lalu memberitahu Ryou bahwa sebentar lagi sipir akan datang menghampiri.
Beberapa saat kemudian tiga orang sipir datang ke sel tahanan Ryou. Mereka membawa semangkuk roti. Sebelum mangkuk itu diberikan, salah satu sipir meludah ke mangkuk lalu melemparkan mangkuk itu ke wajah Ryou. “Menderitalah wahai makhluk terkutuk,” katanya menghina. Makanan Ryou berhamburan di lantai. Ia tetap memakan semua yang ada. Belum sempat Ryou menelan, sipir lainnya kini menendang kepala Ryou, memukulinya dengan tongkat dan menginjak injak makanannya. Ryou tak bisa berbuat apa-apa, ia terima semua siksaan itu hingga mereka meninggalkan Ryou yang hampir pingsan sendirian di dalam tahanan.
Sejam kemudian, Ryou kembali didatangi oleh sipir, kemudian mereka membawa Ryou ke ruang pengadilan khusus. Di sana Ryou kembali bertemu dengan Peter yang hadir sebagai saksi. Sebelum sidang dimulai, Ryou harus menjalani beberapa tes untuk menghapus seluruh sihir Ryou. Ia melewati berbagai penyiksaan oleh pengawas eksekutif Vanguard Label Society. Ryou disetrum, disiram cairan panas, dan kedua telinganya dibuat sakit dengan suara frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Hal itu dipercaya dapat menghilangkan kemampuan sihir seseorang. Dengan kesadaran hampir hilang, Ryou bergabung dalam sidang. Dimulai dengan membacakan semua perkara Ryou, hakim bertanya pada Peter apa hukuman mati adalah hukuman pantas bagi seorang pengabdi setan yang mengganggu kesucian kehidupan. Tanpa ragu Peter mengatakan bahwa mati adalah hukuman tepat bagi Ryou. Hakim tersenyum sinis sembari berkata pada Peter kalau Vanguard Label Society akan terus mengawasi seluruh pergerakan Peter. Meski dia adalah figur perdamaian bagi Kuzech, Vanguard Label Society akan terus mencari kesalahan Peter hingga dia pantas diadili dan dihukum sama seperti Ryou.
Vanguard Label Society sebenarnya sudah lama ingin menindak Peter dan memberikannya hukuman karena telah bersekutu dengan roh berbahaya, setidaknya menyucikan semua kekuatan astral di dalam diri Peter. Tetapi perlakuan khusus dari Kementerian Ketertiban mencegah hal itu terjadi.
Palu telah diketuk dan Ryou digiring kembali ke tahanannya untuk menunggu hari eksekusinya besok. Setelah Ryou kembali sendiri di sel tahanan, para sipir kembali merantainya. Penjara itu begitu hening dan sunyi, hanya ada Ryou di sana. Lorong penjara itu sangat dingin, auranya begitu mencekam. Ryou mulai menggigil, dingin menusuk hingga ke dalam inti sari. Dia ingin mengusap kedua tangannya namun kedua rantai yang mengikat kencang tak mempersilahkan Ryou. Pandangannya mulai kabur, kepalanya hampir terjatuh. Tiba-tiba seluruh lampu berkedip, dari ujung lorong mati satu-persatu. Ryou berusaha mengangkat kepalanya, dia ingin tahu siapa yang datang.
Semua lampu sudah padam, gelap gulita menyelimuti Ryou. Di depannya terdengar suara seorang pria,
“Bertarunglah!” lampu di dalam sel Ryou menyala, memperlihatkan sesosok pria berjubah hitam dengan wajah yang tertutup jubah dan rambut warna putih panjang.
“Bertarunglah!” ucap pria itu lagi. Ryou memandangnya, bibir pria itu tersenyum.
“Bertarunglah!” ulangnya lagi.
Sambil menggigil Ryou menjawab terbata-bata, “Kalau ti... tidak?”
Pria itu menyodorkan sebuah topeng hitam penuh aura kegelapan. Ketika Ryou memandangnya, kepalanya langsung berdenyut kencang hingga kesadarannya hanyut dalam gelap.
Seluruh bayang-bayang di kepala Ryou seketika terhubung dengan jelas. Begitu erat seakan semua cahaya putih yang menghalangi Ryou untuk berpikir hilang ditelan kegelapan. Ryou mulai melihat lagi mimpi-mimpi buruknya. Begitu jelas seperti menonton di dalam sebuah teater kosong. Bayang masa kecilnya, keluarganya, tumpah darah, perjuangan, kegelisahan, ketakutan, dan kematian. Semua terlihat jelas, semua terasa nyata setelah bertahun-tahun Ryou mencoba melupakannya.
“Tidaaaakkk!” Teriakan Ryou bergema di dalam kegelapan. Tangannya berusaha untuk meraih kepala, Ryou tak tahan dengan semua ingatan itu.
“Bertarunglah! Bertarunglah! Bertarunglah!” bisik pria itu muncul melingkari kepala Ryou.
Kemudian ingatan Ryou membawanya kembali ke gua mistis pegunungan Hulao, tepat saat dirinya bertarung dengan Conquest. Ryou tahu dirinya akan kalah, kepalanya akan remuk di cengkeram lalu hancur digerus. Darah mengalir di kepalnya, Ryou akan merasakan kematian sekali lagi.
Conquest tertawa, “Ke mana keangkuhanmu itu?”
Ryou ketakutan, dia lari menjauh. Dirinya tak mau mati lagi.
“Hoooyy peepsqueak! Aku ada permen untukmu hahaha!”
Ryou tergelincir, dia terjatuh akibat bebatuan licin, “Jangan ganggu aku!” Ryou memohon.
“Bertarunglah! Bertarunglah! Bertarunglah!” bisikan itu kembali terngiang di kepalanya.
“Pergi! Pergi!” Kencangnya detak jantung Ryou seakan ingin meledakkan tubuhnya dari dalam. Kengerian yang dirasakan bukan main.
Conquest tidak ingin berlama, ia melesat dengan tinju besarnya untuk mengulang kejadian yang sama tiga tahun silam.
“Bertarunglah! Bertarunglah! Bertarunglah!”
“... Aku... ...”
Ryou membuka matanya. Lampu-lampu kembali menyala. Kepalanya berdenyut seperti kereta melintas di otaknya. Ryou menjambak rambutnya, sakit bukan main tak tertahan hingga ia sedikit tersadar. “Hah?” Ryou sadar kedua tangannya mampu meraih rambutnya. Rantai tak lagi membelenggunya. Ryou mencoba mengingat siapa pria berjubah itu namun dia tak mengerti. Dia hirup udara dalam-dalam untuk beristirahat sejenak. Seiring angin berhembus Ryou melihat pintu sel sudah terbuka. Tanpa pikir panjang ia bangkit keluar, “Kesempatan tak akan datang dua kali.”
Ryou keluar dari selnya. Dia memperhatikan sudut ruangan di mana kamera keamanan sudah tidak aktif. Dirinya mulai berhati-hati, ada yang janggal dengan kehadiran pria berjubah itu. Ryou melihat jubah hitam yang sama tergeletak di lantai tepat di depan pintu keluar area sel khususnya. Diraihnya jubah itu untuk dikenakan lalu topeng hitam yang sama terjatuh ke lantai dari gulungan jubah. Ryou berusaha untuk tidak melihat, dirinya takut bayangan itu kembali muncul jelas di kepalanya. Dia singkirkan topeng itu dari hadapannya lalu pergi.
Lima orang penjaga sedang berpatroli mengelilingi pintu masuk area tahanan khusus. Mereka kelihatan tegang dari raut wajahnya. Ryou tak bisa keluar dari sana kecuali dia menggunakan kekuatan topeng api miliknya. Ryou coba untuk mengeluarkan topengnya dari dalam diri namun gagal, “Seharusnya muncul!” Dia coba lagi memanggil topengnya dan masih gagal. “Apa aku sudah gila?” pikirnya sepintas ingin mencoba lagi topeng hitam itu.
Ryou menggulung jubahnya, perlahan mengendap-endap mendekati salah satu penjaga. Dililitnya jubah itu di salah satu penjaga dengan kuat, satu penjaga tumbang. Penjaga yang lain melihat Ryou, tanpa ragu keempat penjaga itu menembakkan senapan beracun. Dengan sigap Ryou menghindar melompat ke sana kemari tetapi ia harus tersudut setelah dirinya terpaksa menangkis tembakan itu dengan tangan kirinya. Ryou mati rasa seketika racun itu mengalir di darahnya, sendi-sendinya lemas.
Tiba-tiba pria dengan jubah yang sama datang kembali. Dia menjulurkan tangan, jari-jarinya mengeluarkan listrik menyengat para penjaga hingga tak sadarkan diri. Ryou terus menatapinya sambil memegangi tangan kirinya yang kejang. Pria itu menatap Ryou sejenak dibalik uraian rambut putihnya lalu menunjukkan topeng api Ryou. Tanpa kata dia kemudian pergi sambil menendang pintu keluar. Tendangannya meledakkan pintu hingga mental sehingga alarm penjara berbunyi. Ryou mencoba mengejar pria itu namun dirinya tak sanggup. Pandangannya mulai kabur, langkahnya mulai lamban. Suara langkah kaki semakin bergenderang, bergetar makin kuat di telinga Ryou.
“Ryou....” Suara bisik halus membelai lembut. Kali ini terdengar begitu nyata.
Tangan Ryou berguncang hebat, topeng hitam di genggamannya hampir jatuh. “...Apa yang baru saja terjadi?” Ia merasakan sesuatu dari dalam topeng itu, seakan dia mengenali suara bisikan di telinganya. “...Siapa kau?”
“Aku adalah kau. Kau bukanlah aku...” ucapnya begitu nyata.
Kepala Ryou seketika sakit, dirinya perlahan kehilangan kendali tubuhnya. “...Pergi!”
Peluru kembali bersarang di tubuh Ryou, kali ini di kedua kakinya. Para penjaga menyergap Ryou dan melumpuhkannya. “Jangan bergerak kau manusia kotor!”
Ryou jatuh dari kedua kakinya, sendinya tak mampu menopang tubuhnya. Dia terbaring lemas sambil tetap memegang topeng hitam di tangan kanannya.
Penjaga berjalan perlahan mendekati Ryou, mereka tahu topeng hitam itu memiliki aura misterius yang amat jahat. Salah satu dari mereka berkata, “Topeng itu berbahaya, kita harus menjauh. Seseorang penyusup belum lama ini menghancurkan generator Zonosphere.”
Penjaga dengan pangkat tertinggi kemudian mendorong orang dengan pangkat terendah, “Cepat singkirkan topeng itu, kami akan mengawasi.” Ucapnya bersama penjaga lain perlahan mencari jarak aman.
Penjaga berpangkat rendah itu melangkah perlahan mendekati Ryou yang tergeletak lemah. Ia singkirkan pelan-pelan topeng itu dari tangan Ryou namun Ryou memegang topeng itu dengan kuat.
“Apa yang kau lakukan!” sahut Ryou.
Penjaga berpangkat rendah berteriak, ia lari menyelamatkan diri tetapi usahanya sia-sia. Kini ruangan itu penuh dengan darah. Anggota tubuh para penjaga saling terpisah, terpotong oleh cakar dari sarung tangan tempur Ryou. Topeng itu memberikan Ryou kekuatan kegelapan. Dengan topeng hitam di wajahnya, Ryou mampu berjalan keluar dari sana.
Satu batalion penjaga bersenjata berat dikerahkan. Pengumuman dari sepiker mengatakan bahwa Ryou harus segera ditundukkan, hidup atau mati. Tak ada rasa gentar bersarang di benak Ryou, dia maju dengan gagah berani. Semua gundahnya hilang bersama cahaya ditelan kegelapan. Ryou dengan mudah menghindari pasukan itu dengan menyatu ke dalam bayang-bayang. Wujud aslinya tak terlihat dengan mudah melewati penjaga yang kebingungan mencari Ryou. Namun Ryou menghentikan langkahnya sebentar, menggerak-gerakkan jari jemarinya lalu mencakar satu persatu penjaga yang terpisah dari rombongan. Perlahan pasukan itu habis, tubuh mereka dipotong menjadi beberapa bagian oleh Ryou untuk memuaskan hasrat membunuhnya yang selama ini terpendam begitu dalam.
Tiga batalion pasukan bersenjata berat datang, kali ini tim gabungan antara polisi dan penjaga dari Vanguard Label Society yang datang. Mereka membawa generator Zonosphere mini yang digantungkan di tubuh mereka. Ryou kehilangan kekuatannya ketika berada dekat dengan generator itu. Secepat mungkin Ryou kabur sebelum penjaga dengan Zonosphere berpencar.
Prajurit khusus Vanguard Label Society mulai berpencar mencari Ryou. Mereka adalah pasukan terpilih yang telah dimodifikasi dengan teknologi. Manusia cyborg dengan dorongan tenaga tambahan dari kubus kecil bernama Ionicube mampu mengeluarkan kekuatan dua puluh kali lebih besar dari manusia biasa. Tinju besi mereka mematahkan tulang Ryou. Lompatan mereka sangat tinggi sehingga mampu meluncurkan tendangan dengan kecepatan tinggi. Tubuh mereka dilengkapi senjata kimia. Ryou terkena beberapa tembakannya hingga dirinya berulang kali jatuh bangun.
Tubuhnya benar-benar sekarat namun Ryou terus mendorong diri melampaui batasnya. Topeng hitam itu semakin memaksanya untuk membunuh. Hasrat kejinya semakin tak terkontrol. Matanya menghitam penuh kegelapan. Gerakan Ryou semakin cepat, cakarnya merobek tubuh besi para prajurit khusus. Dengan cerdik Ryou mencungkil Ionicube yang ada di d**a mereka lalu menghancurkannya hingga meledak.
Setelah Ryou berhasil mengalahkan beberapa prajurit khusus, dia berhasil melarikan diri dari penjara khusus Steywa. Dirinya kini berada di area hutan Hulao. Ia lepas topengnya lalu muntah hebat hingga mengeluarkan darah. Nafasnya hampir lepas, matanya merah menahan perih di sekujur tubuh. Ryou tergelatak pingsan setelah berhasil kabur malam itu.
Wahid datang berkunjung ke rumah Restu yang seperti biasa selalu sepi. Wajahnya berseri menyaingi matahari pagi, senyumnya selebar jalan tol, dadanya membusung penuh bangga setelah mendengar kabar Darwin berhasil menjual perhiasan curian mereka.
“Woy Restu!” katanya cengengesan membuka pintu. Wahid menggaruk kepalanya karena heran tak ada orang di sana. “Kok sepi?”
Restu saat ini sedang berada di kafe Cristian. Dirinya penuh dilema antara harus mengatakan yang sejujurnya atau memendam sendiri semua ketakutannya.
“Anu Cristian, soal Ryou...” ucapnya memandangi lantai
Dahi Cristian sedikit berkedut, “Hah?”
“... tch... ...“
“Mau pinjam uang?” katanya sambil membersihkan meja.
“Bukaaann! Uh bagaimana ya mengatakannya... ah tidak jadi.” Restu lari keluar.
Cristian berhenti mengelap meja sejenak, menghembuskan nafas sedikit lebih banyak lalu kembali membersihkan meja.
Restu kini berada di pabrik cat tempat neneknya bekerja. Dia lari menghampiri neneknya dan bertanya dengan nafas ngos-ngosan, “Nek... bagaimana kalau Ryou...”
Nenek Restu tersenyum, “Duduk dulu Restu.” Neneknya mengambilkan Restu kursi.
“Tapi nek ini genting!”
Nenek Restu menepuk kepala Restu dan mengelus rambut panjang hijau tua Restu, “Aah apa sih yang genting?”
“Bagaimana Kalau Ryou kembali bertarung? Apa aku harus kembali ikut?”
“Bukannya kau bilang kau sudah dewasa? Orang dewasa pasti bisa mengambil keputusan tanpa bantuan neneknya.”
Restu gelisah, ia bergerak ke sana kemari tidak jelas. “Tapi nek-”
“Uushhh shh shhh...” nenek menghentikannya. “Ryou pasti baik-baik saja. Jangan khawatir, dia pria tangguh.”