Part 5: Gadis Teater Jalanan

2461 Kata
Pertama kali diriku merasa begitu bebas. Mengapung lepas hanyut dalam kegelapan tanpa ada setetes cahaya menghadangku. Nyaman sekali, seakan aku tak ingin kembali. Sesuatu di dalam topeng itu menghubungkan titik-titik buta di batinku. Menuntunku menemukan jawaban di dalam keraguan hati. Aku tahu saat itu bukan diriku yang melakukannya, aku sangat yakin bukan diriku yang melakukannya. Namun kenapa ketika diriku membuka mata semua terjadi begitu saja. Diriku hilang kendali, aku merasakannya. Akal sehatku mengatakan membunuh sangatlah keji, namun kenapa tubuh ini tak bisa berhenti. Apakah titik-titik itu adalah diriku yang sebenarnya? Apakah saat ini aku bukanlah diriku? Lalu siapa sebenarnya aku?   “Selamat pagi!” sapa seorang perempuan ceria. Ryou memaksa tubuhnya untuk bangun, matanya kembali terpejam karena harus menahan sakit. Saat ini dirinya sedang berada di dalam sebuah mobil box yang dimodifikasi seperti rumah berjalan. “Hey pelan-pelan!” sahut perempuan itu memegang tangan Ryou. Ryou menenangkan dirinya, mencoba perlahan membuka mata kembali tanpa terburu-buru. “... Sastry....” Sesosok wanita dengan rambut coklat sebahu ditutupi topi tampak di pandangan Ryou. “Hai Ryou!” sapanya dengan senyum. “Aku sudah memakaikanmu pakaian, nyaman?” “Kau melihatnya?” “Uumm... kalau maksudmu tonjolan di antara kakimu, iya,” Sastry  menyeringai. Ryou mencoba berpikir sejenak, kali ini ia mengingat semua mimpi yang datang. Dia bisa mengingat semua mimpi yang muncul saat dirinya tak sadarkan diri. Meski masih samar, dirinya merasa sedikit lega karena bisikan tiap kali dirinya terbangun hilang. Dan yang paling penting, dia merasakan kekuatan topeng hitam itu ada pada dirinya. “Ada apa?” Sastry khawatir melihat Ryou melamun. “Tak apa, lupakan.”   Keduanya kini saling bertanya kabar sambil menyantap sarapan di tengah hutan rimbun yang sejuk. Sastry Adrysachmy, seorang wanita teater jalanan yang mengembara untuk menaburkan bibit senyum di tengah kerasnya kehidupan Kuzech. Dia seorang periang dan penuh energi, mungil namun berhati besar. Penuh ekspresi dan sangat penyayang. “Sedang apa kau di tengah hutan? Dan kenapa telanjang?” tanyanya langsung ke inti. Ryou tersedak mendengarnya, “Haruskah kau mengatakannya?” “Kau bukan orang jahat kan? Kau tidak punya sihir kan?” tatapnya lebar. “Lagi pula orang tidak punya semangat sepertimu mana mungkin jadi penjahat. Jangan-jangan...” pupil Sastry perlahan membesar. “Hey...” “Jangan-jangan kau habis diperkosa oleh om-om ya?” “Hey!” “Kau pasti banyak hutang!” mata Sastry melotot. Ryou menyandarkan punggungnya di kursi, dia tak habis pikir. “Hey dengarka-” “Ryou... aku senang melihatmu kembali,” ekspresi serius berubah menjadi gembira. Ryou terhenti sejenak, “Ya, terima kasih.” “Terima kasih? Hanya itu?” bibirnya monyong. “Yah, terima kasih telah menyelamatkanku, lagi.” ucap Ryou santai.   “Sudah tiga tahun sejak terakhir kita sarapan bersama” kaki-kaki Sastry bermain di atas rerumputan. “Aku masih belum mendapat jawaban darimu.” “Jawaban apa?” “Tentang dirimu, tentang kenapa kau tergeletak di tengah hutan seperti ini. Dan kali ini hal itu terjadi lagi. Mungkin kita memang ditakdirkan untuk bersama...” Kepala Ryou sakit kembali, dirinya tak bisa mengungkapkan kejadian tiga tahun yang lalu. Matanya menutup rapat menahan perih. “Hey! Kau kenapa?” ucap Sastry memegang pundak Ryou. Ryou sekuat tenaga menutupi rasa sakitnya dengan terus memandangi mata Sastry. “Jawab aku!” bibir Sastry maju kembali. “Pertahankan ekspresi itu, kau lucu sekali.” Katanya tersenyum. Tak lama kemudian seseorang berbadan besar dengan tinggi hampir dua setengah meter datang membawa empat kotak kayu di pundak kiri dan kanannya. “Hey Bos, aku sudah sele... Oh hey Ryou, lama tak jumpa.” Ryou melambaikan tangan, “Hai Jumbo.” “Jumbo! Kalau sudah selesai tolong masak tumbuh-tumbuhan yang sudah aku daftarkan di kertas di atas meja ya,” perintah Sastry. “Siap Bos! Kalau begitu aku permisi dulu, maaf mengganggu kalian berdua.”   “Jumbo melakukan tugasnya dengan baik menjaga dirimu,” kata Ryou santai dengan senyum tipis. “Tidak, dia tidak melakukan tugasnya dengan baik!” “Kenapa tiba-tiba kau berpikir demikian?” “Pokoknya tidak! Dan aku mau kau menjadi penjagaku mulai saat ini.” “Aku menolak,” jawabnya enteng. Sastry menyodorkan dua jari di wajah Ryou, “Kau berhutang dua nyawa padaku, bayar!” “Akan kubayar dengan cara lain.” “Kumohon...” wajahnya cemberut. Sastry merengek. “Yyy... tidak!” “Kenapa?” Sastry bersedih, matanya mulai berkaca-kaca. “Karena aku... hmm...” Ryou berpikir, “Aku harus pergi ke Batul.” “Kau punya pacar ya! Siapa dia? Siapa namanya!” kini wajahnya masam, bibirnya maju seperti bebek. Ryou tertawa, “Uupp! Aku suka dengan ekspresi yang ini.” “Iiihh!” pukul Sastry manja. “Sungguh, aku hanya ingin ke sana tanpa alasan. Aku tinggal di sana dan aku suka.” “Kau punya rumah sekarang?” ekspresinya berubah lagi, kini matanya mengaga. “Tidak, aku... menumpang di rumah seorang wanita tua yang cucunya tak sengaja ku tolong.” “Kalau begitu kau harus bertahan di sini saja! Kau tidak punya kampung halaman, tidak juga orang-orang tercinta, kenapa tidak di sini saja bersama!” rayunya. “Hmm sebenarnya aku punya urusan yang belum selesai di sana.” “Kalau begitu kita ke Batul bersama!” “Tidak.” Hidung Sastry mekar menghembus nafas kencang, “Ryou... Aku dan kamu itu sama. Kita berdua tidak memiliki apa-apa. Tidak rumah, tidak keluarga, tidak juga kenangan. Lalu kenapa kita tidak memiliki satu sama lain, kita bisa hidup bersama di dalam trukku, berkeluarga, dan menuliskan kenangan bersama. Terdengar menyenangkan bukan?” senyumnya manja. “Baiklah, tapi tolong kalau situasinya memanas berjanjilah untuk tidak terlibat. Gadis baik tidak seharusnya datang ke Batul.” “Dan itu menjadi satu alasan lagi kenapa aku harus ikut bersamamu! Bayangkan! Banyak orang bersedih di sana, tak ada kegembiraan. Kita bisa membantu dan membuat mereka kembali tersenyum! Kita bisa Ryou! Kita bisa!” Ryou tersenyum, “Aku yakin tidak semudah itu Sastry, tapi apa salahnya mencoba.” “Semangat yang bagus!” balasnya dengan senyum manis.   Sebelum sampai di Batul, Ryou bersama Sastry dan kawan-kawan sedang bermalam di Pinggiran kota Hefei. Mereka akan mengadakan pentas teater jalanan seperti di kota lainnya sambil mengumpulkan uang. Sastry sedang duduk di kursi depan mobil truknya,  “Kau harus ikut bermain di atas panggung!” perintah Sastry. “Sejak kapan kau memerintahku?” balas Ryou dari dalam bak mobil truk yang dimodifikasi seperti rumah. “Pokoknya harus!” Sastry menggedor bak mobilnya. “Hal itu tidak ada di dalam perjanjian!” “Kalau begitu aku minta dua ratus juta BP, kau berhutang dua ratus juta BP!” “Tidak adil!” “Harold, cepat riasi pria kusam itu!” perintahnya. Mata Ryou bergulir, dia lelah dengan sifat Sastry dan mengalah. “Setidaknya berikan aku peran yang keren, jadikan aku ksatria atau raja atau-“ “Kau akan jadi pohon!” “Jadi apa?” “Pohon! Jadi pohon bicara.”   Ryou begitu gusar, geram, jengkel, dan merasa terhina tampil di depan para penonton sebagai pohon. Hanya diam di sana tanpa ada dialog selama setengah jam membuat kepalanya mendidih hingga selesai pentas. Sastry yang bermain sebagai gadis petualang yang menyelamatkan kota khayalan dari kutukan pohon bicara menutup pentas dengan tepuk tangan dari penonton. Ryou turun ke belakang panggung, dia langsung membasuh wajah hijaunya. Menyemprot kepalanya dengan air keran karena bingung harus bagaimana menyikapi Sastry. Di sana Ryou melihat bayang-bayang mencurigakan sedang melewati gang sempit. Tanpa pikir panjang, dengan kostum pohonnya dia langsung mengendap-endap mencari tahu apa yang terjadi. Sastry melihat Ryou pergi, dia berpikir bahwa Ryou ingin kabur darinya. Sastry kejar Ryou dengan mengambil jalan lain untuk mengejutkan Ryou bahwa dia tidak bisa kabur darinya. Ryou melihat ada beberapa orang sedang membawa bungkus seukuran manusia memasuki sebuah apartemen. Ryou melepas kostum pohonnya, dirinya tak bisa mengikuti dengan pakaian lucu seperti itu. Tak lama kemudian Sastry melihat kostum pohon itu sudah tergeletak di dekat tong sampah. Dirinya geram, “Dasar tidak tahu terima kasih!” dia tendang tong sampah itu hingga isinya berhamburan. “Ada apa nona?” tiba-tiba seseorang pria dengan kacamata hitam menegur Sastry. “Manusia pohon itu pergi, dia berhutang dua ratus juta BP padaku!” jawabnya kesal. “Kau tahu tata krama di sini?” Sastry tiba-tiba dibius dari belakang oleh kawanan pria berkacamata, kini dirinya dimasukkan ke dalam bungkus hitam sama seperti yang sedang diawasi Ryou.   Ryou berhasil mengikuti rombongan misterius itu. Di dalam apartemen itu banyak sekali benda-benda mistik. Lilin-lilin menyala di setiap sudut, tengkorak menghiasi sudut ruangan, noda darah berceceran, dan aura dingin yang tidak menyenangkan dirasakan oleh Ryou. Seorang hampir saja memergokinya, namun Ryou dengan kekuatan topengnya bersembunyi di balik bayangan dan menghilang. Di dalam sana ada sebuah jalan rahasia menuju ruang bawah tanah. Ryou menemukan tempat ritual di mana kantung hitam yang mereka bawa adalah tumbal untuk memanggil roh dari dimensi lain, dengak kata lain sedang terjadi kontrak kegelapan di dalam sana. Ryou ingin sekali menyelamatkan orang yang baru saja dibawa masuk, namun ada sesuatu yang menghalanginya. Seperti hatinya tiba-tiba bergejolak, dirinya bingung ketika topeng itu melekat di wajahnya. “Ayo Ryou lakukan sesuatu!” Ryou masih berpikir, dirinya ragu dan bertanya kenapa dia harus menyelamatkan orang lain. Dia bertanya tentang tujuan hidupnya dan semua tidak ada jawabnya. Suara jeritan manusia dari dalam kantung hitam itu bergema. Ryou masih belum yakin ingin menyelamatkan orang itu. lalu tiba-tiba suara bisikan halus berdesir di telinganya. “Ryou....” bisikan halus membelai lembut telinga. “Sial suara itu lagi!” “... Bunuh!” Ryou kaget, kini bisikan itu mulai berbicara padanya. Jeritan manusia di dalam kantung hitam itu makin menjadi, Ryou tersadar dari lamunannya lalu keluar dari dalam bayangan. Dengan cakar dari sarung tangan tempur, Ryou membelah mereka yang sedang melakukan kontrak kegelapan. Muncul sesosok iblis dari hasil ritual yang belum selesai itu. Ryou dengan tangkas menyerangnya, semua gerak geriknya begitu lincah ketika kekuatan topeng hitam itu bersamanya. Komplotan yang menculik Sastry datang, mereka kaget melihat kawanannya tergeletak mati. “Apa ritualnya gagal?” mereka gentar. Dengan segera mereka menaruh Sastry di papan ritual kemudian membaca mantra. Ryou mendengar teriakan Sastry dari dalam kantung itu. Kali ini Ryou punya alasan untuk menolong. Sebelum Ryou muncul dari bayang gelap, dua orang polisi datang menodongkan pistolnya, “Jangan bergerak!” Ryou menunggu, dirinya tak mau kembali menjadi kejar-kejaran polisi. Apalagi harus memakai topeng hitam yang mengakibatkan penjara khusus Steywa porak-poranda. Salah satu pria berkacamata hitam berlari mengeluarkan Sastry dari dalam kantung dan menempatkan belati di leher Sastry. “Jangan macam-macam atau kubunuh tumbal ini!” Ryou tanpa topeng hitam muncul dari belakang memelintir leher pria berkacamata itu, menyelamatkan Sastry dari bahaya. Polisi dengan sigap beraksi dan mengurus sisanya. Sastry selamat dan sisa komplotan pria kacamata hitam itu ditangkap. “Jarang sekali ada masyarakat yang mau membantu polisi saat ini, terima kasih ya.” Kata polisi pada Ryou. Mereka berjalan pergi tetapi salah satu dari mereka kembali menatap Ryou. “Tunggu dulu...” Ryou langsung menarik Sastry dan pamit dengan para polisi, “Terima kasih pak sudah menyelamatkan gadis nakal ini, saya akan antar dia pulang.” Ryou berjalan cepat sambil menutup mulut Sastry, dia tahu salah satu dari polisi itu mengenali wajahnya. “Tunggu dulu!” polisi itu akhirnya ingat, “Jangan bergerak! Kau adalah kriminal yang sedang buron!” Ryou beralibi, “Ah mana mungkin, aku ini manusia pohon,” katanya sambil tersenyum riang gembira. “Namaku Ridho Rodriguez pak, saya pemain teater yang ada di depan taman tadi, bapak lihat kan? Iya kan?” tingkahnya bodoh. Polisi tidak percaya, “Tunjukkan tanda pengenal!” Ryou menarik nafas dalam-dalam, dia panik sudah tak punya alasan lagi. Sastry angkat bicara, “Maaf bapak polisi yang terhormat, dia adalah anak buah saya dan benar dia bernama Ridho Rodriguez, bapak pasti salah orang.” Sastry menarik tangan polisi yang curiga itu keluar dan mengajaknya bernegosiasi. “Maafkan tingkah bodohnya pak, dia memang agak kurang.” Bisiknya pada polisi mengalihkan perhatian.   Ryou dan Sastry bertengkar di dalam mobil saat perjalanan menuju pantai timur Hefei. Meski keduanya terlepas dari masalah, Ryou dan Sastry saling melempar tuntutan satu sama lain. “Hutangku lunas satu!” Ryou mengungkit dirinya telah menyelamatkan Sastry. “Iya lunas satu, kau melunasi hutang tutup mulut polisi yang curiga padamu! Hutangmu masih dua ratus juta BP.” “Kau ini rentenir ya?”   Sastry dan tim sudah sampai di pinggir pantai timur Hefei, mereka akan bermalam di situ. Sastry yang sedang kesal tidak mau tidur di dalam truck. Dia membawa kantung tidurnya keluar dan menyalakan api unggun. “Hey kenapa ikut keluar?” tanya Sastry pada Ryou yang ada di luar. “Aku duluan di sini!” Akhirnya mereka berdua tidur bersama di luar meski saling berjauhan dan saling membelakangi. “Kau sudah tidur?” tanya Sastry. Tidak ada jawaban dari Ryou. “Kau sudah tidur?” ulangnya lagi. Masih tidak ada jawaban dari Ryou. Sastry tidak mau dikucilkan, ia bangun lalu menendang pasir ke arah Ryou. “Jangan pura-pura tidur!” “Haaihh... apalagi?” keluh Ryou. “Kau ini siapa sebenarnya?” tanya Sastry memaksa meminta jawaban. “Pengangguran. Puas?” Jawabnya acuh. “Akan kulaporkan pada polisi!” ancamnya. Ryou menepuk dahinya, menggaruk kepalanya karena tak tahu harus berkata apa menghadapi Sastry. Sastry menaikkan volume ponselnya hingga maksimal, tiap sentuhan jari di layar kaca terdengar nyaring. “Aku tidak main-main!” “Dengar-” “Halo pak polisi-” Ryou merampas ponsel Sastry lalu mematikannya.   Pada akhirnya Ryou menceritakan kenapa dia dicurigai polisi. Dia ceritakan kenapa ia tergeletak pingsan di hutan. Ryou mengakui dirinya baru saja kabur dari penjara khusus Steywa. “... Jadi... kau seorang penyihir?” “Kau marah padaku?” Sastry menggelengkan kepala, “Tidak.” Bulan sudah berada tepat di atas kepala tanda malam sudah sangat larut. Ryou dan Sastry berdiam diri saling menahan kata. Belum ada yang berani bertanya lebih dari itu. “Tidurlah, sudah malam.” Ryou memecah kesunyian. “Aku belum bisa tidur.” Pada akhirnya Ryou berani mengeluarkan pertanyaannya, “Sastry...” “Iya?” “Kenapa kau berkeliling mengadakan teater jalanan? Kualitasmu sudah bagus, harusnya kau melangkah ke panggung yang besar.” “Menjadi terkenal atau kaya bukanlah tujuanku.” Jawab Sastry. “Aku hanya ingin membuat orang lain bahagia.” “Kenapa kau lakukan itu?” “Karena aku tahu rasanya bersedih.” “Kau senang melakukan semua ini?” “Iya. Senyum dari mereka sudah cukup bagiku,” ucapnya seirama dengan gerak pipinya.   Kini Sastry balik bertanya, “Kenapa kau menjadi penyihir?” “Entah, aku tak tahu kenapa.” “Tapi... kau pasti punya alasan kan?” Ryou memandang buih di lautan luas. Sama seperti pemandangan malam itu, Ryou masih tersesat tanpa tujuan. “Aku sedang mencarinya. Mencari alasan kenapa aku bertarung dengan kekuatan ini.” “Jadikan aku alasan kenapa dirimu bertarung.” “Kenapa harus?” “Kau berhutang padaku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN