Part 6: Penyihir Pasir

1580 Kata
Sastry dan tim belum bisa memasuki wilayah Batul. Administrasi untuk melintasi perbatasan begitu rumit dan berbelit-belit. Seperti pemerintah tidak mengizinkan siapa saja masuk ke sana secara tidak langsung. Sastry sudah memohon namun penjaga tetap tidak mengizinkan truknya melintas. “Maaf nona, jangan main-main atau kami akan mengusutmu!” jelas penjaga perbatasan. “Sudah tidak usah ikut,” Ryou merayu Sastry. “Tidak mau!” Sastry masuk ke dalam truk lalu mengambil tabungannya untuk menyuap penjaga perbatasan. “Aku punya sedikit uang, tolong izinkan kami masuk.” Sastry menyodorkan uang dua puluh ribu BP. “Kau benar-benar ingin dikasuskan ya?” penjaga itu mengancam. Di tengah negosiasi yang tak kan ada hasil, seorang wanita dengan pakaian mini datang untuk melintasi perbatasan. Sastry melihatnya, pikirannya mengatakan bahwa para penjaga berhidung belang. Penjaga itu membolehkan wanita seksi itu melintas. Sastry makin jengkel, ia protes pada penjaga. Wanita itu mendengar keributan yang diciptakan Sastry, dia menghampirinya dan kaget ketika melihat Ryou. “Ryou?” Ryou berusaha untuk pura-pura tidak melihat tapi wanita itu mendekat, “Oh hai Amber,” jawabnya terpaksa. “Ohh benar ini kau uhh si ganteng. Apa yang sedang terjadi?” “Aku tidak bisa melintas perbatasan.” Sastry memelototi keduanya, dia tidak mau dikucilkan. “Orang sepertimu harusnya sudah tahu kan jalan ke rumah?” Amber mengedipkan mata. “Iya tapi masalahnya...” Ryou menggaruk kepala. “Jadi seperti ini pergaulanmu di Batul ya Ryou?” kata Sastry dengan nada negatif. “Maaf?” Amber menyipitkan mata. “Haduh...” Ryou malas meladeni Sastry, “Tidak usah didengar gadis nakal itu.” “Siapa yang kau sebut nakal?” Sastry melotot. Amber tersenyum, ia menutupinya dengan tas. “Hey jangan berpikir aneh!” Ryou tidak mau Amber salah paham. “Aku terkejut seleramu seperti ini. Uuuhh sayang sekali padahal banyak wanita cantik kesepian,” kata Amber genit. “Kami Cuma teman!” Ryou dan Sastry secara bersamaan menanggapi. Amber tak kuat menahan tawa, “Sepertinya cowok ganteng ini butuh bantuan.” Amber memberikan tiket spesial di kafe malam Cristian untuk para penjaga. Dia merayu penjaga itu, mengelus dagunya dengan jari-jarinya, “Akan ada pesta spesial, datang ya!” kedipnya genit. Penjaga membolehkan truk Sastry lewat dengan syarat mereka harus lulus pengecekan. Ryou sudah tahu jenis pengecekan apa yang akan dilakukan sehingga ia berdiri di paling belakang. Ryou tahu dia tidak akan lolos pengecekan menggunakan Zonosphere. Sastry bertanya kenapa Ryou bertingkah demikian dan Ryou menjawab karena dia sudah tahu prosesnya sehingga mempersilahkan orang-orang baru dicek terlebih dahulu. “Alasan tidak masuk akal.” Tetapi Sastry cuek, yang terpenting dirinya bisa ikut bersama Ryou ke Batul. Sastry mulai digeledah, tahap pengecekan pertama berhasil dia lewati. Ryou perlahan pergi diam-diam untuk masuk melalui jalan lain. Sebelum Ryou pergi jauh ia mendengar suara teriakan Sastry. Ia terkejut mendengar Sastry merintih kesakitan terkena sensor Zonosphere, “Tidak mungkin!” Amber membantunya, dia katakan pada penjaga kalau Sastry sedang tidak enak badan. Penjaga menolak masuk Sastry karena dia diindikasikan memiliki kemampuan sihir. Namun dengan rayuan Amber, Sastry akhirnya diperbolehkan masuk.   Ryou semakin pusing dengan keadaannya. Kini Sastry sudah masuk wilayah Batul tanpa pengawasannya. Dia juga berhutang banyak pada pacar Cristian, Amber. Belum lagi hutangnya pada Cristian yang selalu membantunya secara finansial selama hidup di rumah nenek Restu. Dia bergegas pergi ke jalur bawah tanah di mana biasanya para kriminal Batul masuk ke wilayah Hefei. Di tengah perjalanan dia terpikirkan sesuatu, “Untuk apa aku kembali pada Sastry, ini kesempatan bagus bagiku untuk kabur darinya.” Setelah dipikirkan matang-matang Ryou melintas di jalur rahasia Batul lalu pergi menuju dermaga Batul di mana Wahid biasanya memulung sampah. “Apa yang terjadi pada kalian malam itu?” Tanya Ryou ingin tahu di mana topeng apinya hilang. “Loh kok tahu kami diselamatkan Flanagan?” Wahid terkejut dengan pertanyaan Ryou dan kedatangannya yang tiba-tiba. “Ah pokoknya katakan saja!” Wahid tidak tahu apa pun soal Flanagan. Dirinya saat itu sudah hampir pingsan karena dipaksa harus berlari sekencang mungkin oleh Darwin. Wahid juga mengatakan Restu dan yang lainnya mengkhawatirkan Ryou karena sudah tiga hari tidak mampir ke rumah Restu. “Restu khawatir mencarimu, sapalah dia.” Ryou kembali merasa terbebani. Dia tidak enak hati pada Restu dan neneknya. Namun Ryou sekuat mungkin untuk tidak memedulikan apa yang orang lain pikirkan. “Biarlah, bukan urusanku.” Ketika Ryou ingin pergi, ia kaget bukan kepalang karena harus kembali melihat Sastry sedang keluyuran di pasar dermaga. Ryou meninju tangannya sendiri, bertanya pada dirinya kenapa selalu bertemu dengan Sastry. Wahid bertanya kenapa Ryou kembali, “Loh kok balik lagi?” “Sssttt! Kalau ada yang menanyakan bilang aku tidak pernah di sini.” Ryou kabur melalui gang sempit, dia menjauh dari keramaian secepat mungkin agar Sastry tidak menemukannya. Ryou melewati jalan yang sangat sepi, begitu kotor dan bau. Tempat yang tepat untuk para penyihir melakukan kegiatan gelapnya. Dan benar dugaan Ryou, dia melihat seorang dengan jubah hitam sedang berjalan ke arah dermaga. Ryou berusaha tidak peduli, prioritas utamanya adalah mencari topeng apinya yang hilang. Lalu dia teringat dengan kejadian di penjara khusus Steywa, “Jangan-jangan! Orang berjubah itu!” Ryou kembali ke area dermaga, mencari di mana orang berjubah itu berada. Angin di pinggir dermaga itu berhembus semakin kencang. Butiran debu terbang terbawa angin menyulitkan pandangan. Pasir dan kotoran masuk ke mata Ryou. Dia kini mencari di mana orang berjubah itu. Perasaannya tak enak, dia tiba-tiba teringat akan janjinya pada Sastry. Dengan cepat Ryou berlari mencari Sastry, takut sesuatu terjadi padanya. Sastry melihat seorang berjubah hitam, dia pikir orang itu adalah Ryou. Dia menghampiri orang berjubah itu dari belakang untuk mengungkap identitasnya. Belum Sastry menyentuh penutup kepalanya, orang itu berbalik dan menepis tangan Sastry. “Maaf, sepertinya salah orang.” Sastry bergegas pergi namun ia tersandung batu. Orang berjubah itu mengenakan topeng coklat. Dari balik topeng itu dia berteriak kencang seperti orang gila. Sastry takut dirinya menyinggung perasaan orang itu, dia merunduk, “Aku sungguh minta maaf.” “Kepedihan... Kepedihan!” dia menjerit. “Kau kenapa nyonya,” Sastry mencoba menolong namun dirinya malah dicekik oleh orang misterius itu. Jari telunjuk orang itu masuk ke dalam mulut Sastry. Sastry merasakan ada butiran-butiran asing bergerak di dalam mulutnya. Orang-orang di sana pergi, mereka ketakutan. Tak ada yang berani menolong Sastry. Dan saat itulah Ryou datang tepat pada watunya. “Berhenti!” Wanita misterius itu melihat Ryou, dia langsung melempar Sastry. Ryou berlari menyelamatkannya, “Kau tak apa?” Sastry tersedak, dia batuk-batuk karena pasir dimasukkan ke mulutnya secara paksa dari jari wanita misterius itu. Wanita berjubah itu meneriaki Ryou, “Kau!” katanya sambil menunjuk dengan tongkat di tangan kirinya. Ryou tak asing dengan kejadian ini, dia juga seperti mengenal suara wanita tersebut. Dan saat dia menatap mata hijau di balik topeng wanita itu kepalanya tiba-tiba berdenyut keras. Pasir menghujani Ryou, badai mengguncangnya, dan bebatuan secara ajaib meluncur ke arah Ryou. Tak ada pilihan baginya kecuali menggunakan kekuatan topengnya untuk bertarung melawan. Namun kepala Ryou semakin sakit, perlahan semua titik putih yang menghalanginya memproses semua ingatannya kini sirna. Dengan cepat Ryou melompat, menghindar, dan menepis bebatuan yang terbang ke arahnya. Ryou tak bisa menghilang karena saat ini dia sedang berada di bawah sinar matahari, hanya ada sedikit bayangan yang bisa ia gunakan. “Kepedihan...” sambil mengentakkan tongkatnya wanita misterius itu menggerakkan tanah, memanipulasi gravitasi dan menarik Ryou ke dalam. Bebatuan besar kini keluar dari dalam tanah, melesat cepat menghantam Ryou. Pasar itu mulai hancur dibuatnya. Ryou melompati tiap batu besar yang meluncur ke arahnya untuk dapat mendekat dan menyarang wanita itu. Gerakannya sangat cepat dan lincah, cakarnya sudah siap membelah. Ryou tiba-tiba berhenti dengan cakar tepat di samping leher wanita itu. Memori mata hijau wanita itu melintas jelas di kepalanya. Pertarungan itu belum usai, Ryou melakukan kesalahan dengan membiarkan wanita misterius itu. Wanita itu kemudian memanggil seekor ular coklat raksasa dari dalam tanah. Dengan kendalinya, ular itu menerkam Ryou dan membawanya ke dalam tanah. “Cinta...” bisik wanita itu. Terjadi gempa dahsyat, bangunan di sebagian besar pasar itu roboh dan hancur hampir rata dengan tanah. Sastry berteriak, “Tidak!” hatinya hancur melihat Ryou harus dimakan ular raksasa di hadapannya. Dia genggam sebongkah batu lalu berlari memukul kepala wanita misterius itu. Dengan sihirnya wanita itu menghempaskan Sastry dengan badai pasir, “Aku tak punya urusan denganmu,” ucapnya pergi dari sana meninggalkan ribuan kertas yang bertuliskan bahwa manusia harus tunduk pada kegelapan. Di dalam pesan itu tertulis bahwa satu-satunya cara untuk menebus kehidupan sengsara umat manusia adalah dengan bergabung bersama kelompok revolusi bernama Undernity-Movement. Dengan menjual jiwa pada iblis, mereka menjanjikan kehidupan enak seperti layaknya orang Hefei. Gempa sudah berhenti, pasir tak lagi beterbangan, dan wanita misterius itu hilang bersama dengan Ryou. Sastry berteriak meminta pertolongan sekuat tenaga. Ia batuk bercampur darah akibat tenggorokannya yang terisi pasir terus menerus dipaksa untuk berteriak. Orang-orang mengintip namun tak ada yang mau membantu. Warga Batul sudah biasa hidup untuk tidak mengurusi urusan orang lain. Teman-teman Sastry datang, mereka menggali dan terus menggali untuk dapat mengeluarkan Ryou dari dalam tanah. Jumbo berkali-kali menyarankan Sastry untuk berhenti, “Bos, Ryou tidak mungkin kembali.” Tetapi Sastry membantah, “Tutup mulutmu! Aku harus menemukan Ryou!” ia membentak Jumbo untuk menggali dua kali lebih cepat. Lubang baru tergali sedikit, tidak sampai lima meter Sastry menggali. Sastry yang berada di dalam lubang dikejutkan dengan seorang yang turun dari atas.  “Cukup Sastry, aku sudah kembali.” Ryou memegang tangan Sastry yang memar karena mencangkul. Sastry terdiam sejenak, tubuhnya sudah tak sanggup bertahan lebih lama. Ia terjatuh di pelukan Ryou.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN