Part 6.a: Scars of Past

739 Kata
Dua tahun sebelum bertarung dengan Conquest, aku bertemu dengan seorang gadis dengan sifat yang “menarik”. Dia suka menyakiti, dia selalu menghantui, dia senang menjadi apa yang dirinya tidak inginkan. Aku bertanya pada diriku sendiri kenapa? Kenapa tidak ku angkat senjataku? Dia adalah teror. Senyumnya mengelabuhi mangsa, tangisnya menjatuhkan ke dalam keperihan, kesendiriannya membunuh siapa saja yang ingin menemaninya. Aku bertanya pada diriku sendiri kenapa? Kenapa tidak ku angkat senjataku?   Setelah menyelidiki kabar hilangnya orang-orang secara misterius, Ryou akhirnya bertemu dengan gadis berambut merah, dalang dibalik keresahan masyarakat Batul. Kemeja merah tua gadis itu dibiarkan berjumbai hingga pangkal paha tak dikancing. Ketukan sepatu heels merah hati mulai terdengar jelas, gadis itu mendekat. Ryou begitu fokus memperhatikan, seorang gadis dengan penampilan layaknya seorang elite Hefei berkeliaran di saluran pembuangan. Ada yang tak beres menuturnya. Namun konsentrasinya terpecah saat tatapan bola mata hijau berlian gadis itu melintas, “Ke mana dia?” Ryou kehilangan jejak. “Permisi tuan...” Ryou membalikkan badan, dia kaget gadis itu sudah berada di belakangnya. Wajah gadis itu begitu murung penuh ketakutan. “To... tolong aku,” kata gadis itu sambil merunduk. Dia kemudian pergi tanpa menjelaskan agar Ryou mengikutinya. Setelah Ryou mengikutinya, gadis itu kemudian meminta Ryou untuk menyelamatkan kucing kecil yang tersangkut di antara jeruji besi karena terseret arus limbah saluran pembuangan. “Kumohon,” pintanya pelan. Ryou kembali menemui gadis itu setelah bajunya basah dan berbau busuk berendam di air limbah. Gadis itu lalu mengambil kucing kecil dan menaruhnya bersama dengan kucing lain yang sedang makan. Ryou tidak mengerti, dia bertanya, “Kau tinggal di sini?” Tanpa memandang Ryou dia menjawab, “Kucing-kucing tinggal di sini.” “Oh ok.” Ryou bergegas pergi, merasa dia perlu mengintai wanita itu dari jauh untuk menemukan jawaban. “Tunggu...” kata gadis itu, “Maukah kau menolongku sekali lagi?” Tanpa memandang Ryou menjawab “Ya?” “Tolong pukul aku sekencang-kencangnya.” Ucapnya sambil mengelus kucing yang memanjat roknya. Ryou berpaling dengan arah badan tetap, tatapnya tajam ke mata indah gadis itu. “Tolong...” Jari jemari Ryou sudah panas, dirinya siap bertahan dan menyerang. “Terima-“ Ryou melesat cepat menarik tangan kiri gadis itu ke belakang lalu menginjak punggungnya dan mencekik leher gadis itu. Belum sempat Ryou berkata, ia melihat makanan yang diberikan oleh gadis itu pada kucing-kucing adalah daging manusia. Manusia utuh dengan darah yang masih segar. “Terus,” katanya sambil menggigit bibir, “Terus sakiti aku...” gadis itu menikmati. Ryou menghempaskan gadis itu, dia menjauh. “Kenapa kau berhenti?” Ryou semakin waspada, ia merasakan getaran di dalam sana. “Apa kau tidak punya hati?” Ryou menahan semua kata-kata, ucapan gadis itu sungguh di luar dugaannya. “Yang kuinginkan hanyalah cinta... kenapa tidak ada seorang pun yang mau membalas cintaku,” ungkapnya merunduk menyembunyikan wajahnya. “Gadis ini gila, dan berbahaya. Akan kuhabisi dia ketika dia menyerang.” “Ayo pukul aku! Pastikan kau memukulku penuh cinta.” Gadis itu menyingkirkan kucing-kucing dari kakinya. “...” suasana perlahan menjadi hening. Ryou masih menunggu. “Tak apa, biar aku saja yang memberikan cintaku padamu!” tembok seketika bergerak menabrak Ryou. Ryou melompat, dia tahu serangan tiba-tiba akan datang. “Sudah kuduga!” Gadis itu berdiri, memperlihatkan topeng coklat di wajahnya pada Ryou. “Hatiku sudah biasa bertepuk sebelah tangan.” Tembok dan tanah seketika bergejolak, pasir dan debu beterbangan, bebatuan menerjang Ryou tak henti seperti bumi sedang dikendalikan oleh emosi gadis itu. Benturan keras satu persatu masuk ke bagian tubuh Ryou, dia kewalahan harus diserbu di tempat sempit. Gadis itu dengan kekuatannya mengubur Ryou dan meremukkannya hidup-hidup dengan batu dan tanah. “Tak ada yang mencintaiku...” keluh gadis itu. Bongkahan batu dan tanah itu seketika meledak, Ryou keluar dari sana dengan topeng merah dan pedang api membara di tangan. Ryou melompat, lalu menyemburkan api dari pedang bermata merah di genggamnya. Ujung pedang itu kini sudah berada tepat di depan topeng si gadis, Ryou menahan serangan mematikannya. “Lakukan!” bentak gadis itu. Ryou menurunkan pedangnya, “Siapa namamu?” Kucing-kucing kembali berdatangan, mereka bermain di bawah kaki gadis itu. Mata hijaunya sedikit melebar, Ryou melihatnya. “Lakukan!” bentaknya lagi. Ryou menjentikkan jarinya, pedang dan topeng apinya hilang ke dalam jiwa. “Topeng itu, dari mana kau mendapatkannya?”   Teror dimata indahnya tetaplah sama. Air mata di pipinya masih menyimpan luka. Namun hati kecilnya berkata “Cinta... Cinta... Tolong seseorang balas cintaku.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN