Ryou tak sempat bertanya siapa nama wanita misterius itu, tidak juga bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ketika ular raksasa menerkamnya, suara tangisan wanita itu bergema. Keperihan yang dirasakan oleh wanita itu dirasakan oleh Ryou. Dirinya ingat pernah merasakan hal yang tak jauh berbeda darinya meski hingga saat ini Ryou masih belum tahu kenapa.
Setelah dia berhasil menyelamatkan diri, Ryou mencari ke mana wanita itu namun badai pasir menghalanginya untuk dapat melihat. Dia sudahi pencariannya dan memutuskan untuk kembali menemui Sastry. Kini Ryou membawa Sastry ke rumah Restu untuk meminta pertolongan pada nenek Restu. Sastry masih belum bangun dari tidurnya.
Mereka sampai, Ryou membuka pintu dan tidak ada orang di rumah Restu. Ryou meminta Jumbo untuk mengurusi Sastry, setidaknya sampai nenek Restu pulang dari pabrik. Ryou kemudian keluar dan berkata kalau dia akan menemui nenek Restu meskipun sebenarnya Ryou tidak pergi ke sana. Hatinya masih tertuju pada kumpulan orang misterius berjubah hitam yang datang padanya.
Nenek Restu pulang diantar oleh cucunya, dia kedatangan tamu tak diundang. Restu kaget, Jumbo menjelaskan bahwa Ryou yang membawa mereka kemari dan saat ini mereka butuh pertolongan untuk merawat Sastry yang masih belum sadar. Nenek Restu tak mempermasalahkan kehadiran mereka, dia senang rumahnya ramai dan bersedia menolong.
Restu masih berpikir sisi kejam Ryou masih ada. Dia bertanya pada Jumbo kenapa Ryou membawa seorang gadis tak sadarkan diri kemari, “Siapanya Ryou gadis itu? Tak biasanya dia peduli sama orang lain.”
Jumbo mengangkat bahunya, “Tidak tahu, tapi kurasa bisa dibilang kenalan. Ryou juga sebenarnya kurang peduli pada kami. Sering kali dia bertengkar dengan Sastry.”
“Di mana dia sekarang?”
“Katanya dia mau menjemput nenekmu. Tapi karena kalian sudah di sini jadi aku tidak tahu di mana dia sekarang.”
“Uhh! Ryou ini kenapa sih!” Restu pamit pada neneknya untuk kembali keluar mencari Ryou.
Peter saat ini sedang menyelidiki sebuah gedung tinggi yang diindikasi merupakan markas besar kelompok separatis Undernity-Movement di pusat kota Hefei. Dari luar tampak seperti kantor biasa, pegawai kantor lalu-lalang di pintu depan tanda jam kerja telah berakhir. Peter mencoba masuk, satpam menyapanya dengan ramah karena tahu siapa Peter. Dia dipersilahkan duduk Peter di ruang tunggu lalu disambut oleh seorang resepsionis. Peter meminta agar orang yang bertanggung jawab menghadap padanya sekarang. Resepsionis meminta maaf bahwa saat ini direktur sedang ada keperluan penting dan tidak bisa bertemu dengan Peter.
Tinggi hati Peter berkata, “Kau tidak tahu siapa aku?”
Resepsionis merundukkan kepala, “Saya tahu Tuan Miracle, siapa yang tidak mengenali Tuan. Tapi saya sangat meminta maaf karena keputusan direktur sudah final.”
Orang-orang mulai ramai memperhatikan, ketenaran Peter benar-benar nomor satu. Mereka yang berada di luar pun ikut masuk hanya untuk melihat Peter melakukan penyidikan. Awak media dengan sigap bermunculan entah dari mana, mereka tak ingin kelewatan aksi dari sang pahlawan untuk menumpas kejahatan. “Pasti ada penjahat di sekitar sini,” komentar mereka.
Peter mulai kesulitan dengan situasinya, penyelidikannya terganggu tetapi dirinya bangga menjadi pusat perhatian. Dengan keyakinan tinggi dia mengabaikan sang resepsionis dan mencari direktur kantor itu dari ruang ke ruang tanpa izin.
Di tengah kerumunan itu Peter tak sengaja berpapasan dengan Ryou. Dia yakin sekali itu Ryou, namun saat Peter berpaling Ryou sudah hilang di tengah kerumunan. “Mau apa dia di sini!”
“Aku tahu dia melakukan semua ini demi kebaikan. Tapi tak kan ku biarkan dia mendahuluiku. Topeng itu harus kembali ke tanganku sebelum jatuh ke tangannya.”
Ryou berhasil masuk ke dalam sebuah aula besar rahasia di mana seluruh pintunya dikunci penuh penjagaan. Dia menemukan seorang lelaki dan perempuan sedang makan malam bersama di sebuah meja panjang penuh dengan hidangan mewah. Ryou mengenali wajah perempuan itu, dia penyihir tadi siang. Ryou keluar dari bayang-bayang dan menunjukkan dirinya, mengganggu kenikmatan keduanya.
“Kita kedatangan tamu.” Ucap pria itu membasuh mulutnya.
Wanita itu hanya menoleh, tak berkomentar namun menghentikan makannya. Ia taruh garpu dan pisaunya di piring lalu meminum anggurnya.
“Selamat datang...?” sambung pria itu menunggu Ryou menyebutkan nama.
Ryou hanya diam tak menjawab.
“...Tuan tanpa nama. Ada kegentingan apa sehingga Tuan sampai mengganggu ritual kami?” Sambungnya lagi.
Penyihir wanita serentak berdiri, dadanya bergejolak. Pria itu paham dengan bahasa tubuh wanitanya, ia belai lembut pundaknya lalu berbisik lembut, “Jangan khawatir Karin, biar aku saja yang mengurusnya.” Pria itu maju ke depan melindungi Karin namun dia bersikeras ingin menyelesaikan gejolak di hatinya.
“Jadi namamu adalah Karin,” ucap Ryou.
Karin menggenggam erat kalung besi berantai di lehernya. Dia lepas lalu menyerahkannya ke pria itu, “Biarkan aku.”
Alis pria itu naik, dia terkejut. Belum pernah dia melihat Karin bertingkah seperti ini di depan seseorang selain dirinya. Dia simak apa yang ingin dilakukan Karin.
“Kau terlambat,” ucap Karin datar pada Ryou
Ryou tidak tahu apa maksudnya namun dirinya mencoba mengikuti alur yang diinginkan Karin, “Yah maaf, Aku tidak tahu harus berbuat apa ketika memandang matamu. Tapi sebenarnya aku kesini bukan untuk membicarakan hal itu.”
“Diam!” bentak Karin hingga minuman di atas meja bergoyang. “Kau... kau!”
“Di mana topeng apiku?” tanya Ryou mengalihkan pembicaraan yang dia tak mengerti.
Gelas di meja terjatuh ke lantai dan pecah, ruangan itu semakin bergetar. Pria itu sudah tahu batasan Karin. Dia pakaikan kalung besi itu dari belakang lalu kembali berbisik. “Kita sambung lain hari, ayo Karin,” katanya sambil menarik Karin dengan rantai dari kalungnya.
Ryou berusaha mengejar namun dua iblis muncul menghadangnya. Mereka berdua berhasil pergi melalui pintu rahasia. Dua iblis itu menghilang. Tak lama kemudian Peter masuk ke dalam melalui pintu depan bersama awak media.
Para wartawan terkejut bukan kepalang menemukan buronan penjara paling menakutkan sejagat, penjara khusus Steywa. Kamera sudah siap, kilau jepretan sudah berkelip, mereka menunggu aksi dari sang pahlawan membekuk buronan itu.
Ryou berjalan mendekat dengan amat tenang, para wartawan perlahan mundur seirama dengan langkah kaki Ryou, “Mereka sudah pergi.” Peter diam tanpa kata, tak ingin membahayakan orang dengan memulai pertarungan. Ryou berjalan melewati Peter dengan santai lalu pergi. Peter melanjutkan penyidikannya, fokus utamanya adalah menguak dalang dibalik selebaran yang kini mulai jadi perbincangan hangat.