Dari laut lepas, sebuah kapal tempur melaju kencang menuju dermaga Batul. Di atas kapal itu, berdiri seorang kapten muda yang gagah berani. Seorang pria berbadan kekar berkulit coklat dengan sayap hitam dan topi khas bajak laut abad pertengahan. Di sisi kiri pinggulnya sebuah pedang bermata biru laut selalu menemaninya kapan pun dia berlayar. Sebuah pedang mistis yang dapat menirukan perasaan layaknya memiliki sebuah hati. Ketika pedang itu merasakan bahaya, air mengalir deras dan ketika sedang tenang pedang itu kering. Tenacity Raigor kini sudah sampai di lokasi kejadian di mana dia mendengar seorang dengan kekuatan topeng bertarung di sana.
Ryou saat ini sedang berjalan kembali ke rumah Restu setelah beberapa hari meninggalkan Sastry. Rumah itu sekarang sangat penuh. Tidak hanya Sastry dan krunya yang ada di sana, Wahid dan Darwin pun sudah kembali dengan wajah berseri. Nenek Restu begitu senang rumahnya ramai, seakan kesepian di hari-harinya hilang.
“Sastry, menurutmu seperti apa Ryou itu?” tanya nenek Restu.
“Baik... Tapi menyebalkan.” Sastry meminum teh hangatnya.
“Mungkin kalian tidak percaya, tapi aku dan cucuku bukanlah yang saat ini kalau bukan tanpanya.”
“Apa yang dilakukannya?”
Nenek Restu kemudian duduk bergabung dengan yang lain, dia ingin bercerita. Wahid dan Darwin juga ingin lebih mengenal seperti apa Ryou, mereka menyimak dengan seksama.
“Saat perang sipil masih begitu panas, kurang lebih delapan tahun silam. Restu masih sangat kecil. Usianya baru tujuh tahun. Kedua orang tuanya adalah buruh Batul yang tersudut di medan pertempuran.
Orang-orang Hefei datang menginvasi Batul, memorak-porandakan kota karena mereka pikir Batul adalah kota penghianat. Restu kecil dipaksa melihat ganasnya perang. Aku menjadi saksi bisu ketika Restu menangis di pelukan ayahnya. Aku juga menjadi saksi bisu ketika Restu menjerit membangunkan ibunya yang selamanya tak kan bisa lagi membuka mata.
Aku di sana, tak mampu berbuat apa-apa karena usia. Aku di sana, tak tahu harus bagaimana. Restu sudah putus asa, bencinya sudah menusuk perih hati kecilnya. Dia ambil senjata dari genggam ayahnya lalu maju ke medan pertempuran.
Sudah kucari pertolongan, sudah kuminta mereka berhenti, sudah bersujud diriku melupakan semua harga diri. Mereka tak mendengar. Restu tak mendengar, dia masih bertarung atas nama orang tuanya.
Lautan api berdasar darah tercipta. Orang-orang Hefei dengan senjata militernya mulai menembakkan rudal api dan membakar seluruh pemukiman. Aku begitu khawatir pada Restu hingga hilang akal. Ku arungi lautan api demi membawanya pulang.
Langkahku sudah lamban, paruku sudah tidak mampu menghirup asap dan debu. Tapi tak apa, hanya Restu satu-satunya yang tersisa. Jika dia sudah tiada, untuk apa aku meneruskan usiaku. Ku arungi lautan api demi membawanya pulang.
Pasukan penyembur api Hefei maju mengentak bumi, mengingatkanku bahwa jantung usang ini masih berdetak. Jariku berhasil menyentuh Restu, dia melindungiku. Jeritnya menyayat hati, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Lalu, suara seorang pemuda terdengar di balik kabut pertempuran. Dengan lantang dia memaksa Restu untuk pergi. Restu tidak mau, aku mendengar jeritannya yang terakhir.
Perang sudah usai, aku pun melihat Restu berada di pelukanku. Saat itulah aku melihat wajah pemuda itu. Ryou, dia sudah kuanggap sebagai keluarga sejak saat itu. Meski pendiam dan penyendiri, dia begitu peduli pada Restu. Dia ajari Restu agar menjadi lebih baik, lebih tegar, dan lebih kuat untuk mengangkat kepalanya dan melangkah ke depan.
Kalau bukan karena dirinya, aku tidak mungkin bisa mengenal gadis baik sepertimu Sastry.”
Darwin dan Wahid saling melirik satu sama lain. Keduanya memikirkan apa yang Sastry pikirkan. Tidak percaya.
Wahid mengacungkan jari, “Nek, apa benar Ryou seperti itu? Nenek tidak salah ingat kan?”
“Yahh walau sudah mulai pikun tapi cerita itu masih ada benarnya. Tidak mungkin aku berkata seperti itu tanpa alasan.”
“Aku sangat ingat, di depan mata kepalaku sendiri dia lari saat kami dipukuli oleh preman yang dibawa oleh si t***l ini.” Darwin menguatkan poin Wahid, “Dia bahkan berkata ‘aku tidak peduli, bukan urusanku.’ Apa Nenek tidak salah orang?”
“Dia memang seperti itu.” Sastry angkat bicara, “Percaya atau tidak, dia memang berlagak seperti orang menyebalkan di depan muka. Aku begitu benci padanya. Namun ketika dirinya berada di balik topengnya, ketika semua sudah menjadi serius, dia rela mengorbankan nyawanya hanya untukku. Kalau bukan karenanya mungkin aku sudah mati berulang kali.”
Wahid dan Darwin semakin bingung, mereka banyak ketinggalan informasi. “Topeng apa?” keduanya bertanya.
Ryou secara mengejutkan muncul di depan pintu, “Permisi...”
Sastry menahan jawaban untuk Darwin dan Wahid, dia tersenyum melihat Ryou sudah pulang. Sastry beranjak menyambut Ryou. Raut wajahnya langsung berubah, “Heh ke mana saja! Nenek Restu khawatir padamu!”
“Hey siapa kau bicara begitu padaku?” Ryou dan Sastry kembali bertengkar ketika keduanya dipertemukan.
Tak lama kemudian Restu datang, dia mempertanyakan kenapa rumahnya makin ramai. “Hey kenapa orang-orang seenaknya masuk ke rumahku?”
Hari ini Sastry akan kembali memulai teater. Sudah saatnya ia turun ke jalanan menebar senyum. Setelah Nenek Restu pulang dari pabrik, Sastry yang sudah membersihkan rumah Restu berpamitan.
“Maaf merepotkan nyonya Semapta,” Sastry dan kru berterima kasih.
“Loh jangan pergi, nanti nenek sendirian. Kapan lagi ada gadis baik yang mau menolong wanita tua ini.”
“Aku pasti akan berkunjung lain hari.” Sastry pergi dengan senyum di wajahnya.
“Hey tunggu!” Ryou menghadangnya. “Sangat berbahaya kalau kau berkeliaran di sini. Lebih baik buat teater di sini saja.”
“Kalau begitu ayo ikut bersamaku. Kau yang akan melindungiku, iya kan?” pintanya halus.
“Itu... hmm...” Ryou membuang muka.
“Jangan salah paham, kau masih berhutang padaku!”
“Siapa yang salah paham? Kau yang salah paham!”
Sastry mengacungkan dua jari, “Ingat, dua ratus juta.”
“Seratus!”
Sastry menurunkan jari tengahnya, “Oh iya benar,” katanya dengan senyum palsu. Dia pergi meninggalkan Ryou dan masuk ke dalam truknya. “Ayo Jumbo!” sahutnya pergi.
“Sastry itu wanita yang baik ya?” tanya nenek Restu. Ryou pergi dari sana meninggalkan nenek Restu tanpa jawaban.
Panggung sudah berdiri, Sastry dan kawan-kawan sudah siap. Pertunjukan teater perdana di bawah sinar rembulan pudar Batul dilapisi asap pabrik segera dimulai. Kali ini teater yang dimainkan bertema tentang seorang penggembala domba yang bertemu dengan serigala sekarat. Dan Sastry memainkan peran sebagai sang penggembala itu.
Umumnya serigala adalah musuh utama dari seorang penggembala domba. Serigala suka memakan domba, dan penggembala harus bisa melindungi domba-dombanya dari serangan serigala. Tapi kali ini ceritanya lain.
Sang gembala domba merasa iba melihat serigala itu terkapar tak berdaya di ladangnya. Dia bertanya, “Kenapa kau terkujur lemah?”
Serigala itu menjawab, “Aku belum makan, aku lapar.”
Sang gembala kembali bertanya, “Di mana kawananmu? Biasanya kalian selalu bersama.”
“Hanya aku yang tersisa, kawananku semua dibunuh oleh para gembala.” Jawabnya bersedih.
Lalu sang penggembala membalas, “Aku juga sendirian...” Ia korbankan satu ekor domba agar si serigala bisa makan.
Hal itu terjadi terus menerus tiap malam hingga keduanya mulai saling berhubungan erat. Setelah merasa saling percaya, si serigala datang membawa seorang gembala bersamanya. “Mungkin kalau kau punya teman, kau tidak akan sendirian lagi.” Sang gembala senang bisa bertemu dengan gembala lainnya. Dirinya kini tidak sendiri. Kehidupannya kini lebih berarti. Lambat laun dia melupakan serigala yang dulu sempat ia selamatkan nyawanya.
Suatu malam di mana salju turun begitu lebat. Domba sang gembala menjerit, seekor serigala datang menyerang. Teman sang gembala keluar membawa senapan untuk membunuh serigala itu. Sang gembala dengan cepat merebut senapan temannya, dia tak mau serigala itu terbunuh. Sang gembala berkata pada serigala, “Pergilah, aku sudah membalas kebaikanmu.”
Musim dingin berganti, udara mulai hangat dan bunga mulai tumbuh di ladang. Musim baru itu menjadi lembaran baru bagi sang penggembala. Lembaran baru di mana dia hampir saja menggoreskan pena di lembar ceritanya untuk terakhir kali. Sang penggembala yang sedang bermain di ladang tidak tahu kalau ladangnya ada seekor ular mematikan. Kakinya hampir digigit oleh binatang berbisa itu, namun serigala yang dulu pernah menyelamatkannya kini datang lagi untuk menerkam ular itu.
Meski kita berbeda, bukan berarti kita tidak bisa saling membantu. Gapailah tanganku, niscaya akan kugapai tanganmu kelak.
Berkorban bukan berarti kehilangan sesuatu, karena suatu saat seseorang akan datang memberi lebih dari apa yang telah kau beri.
Hidup itu indah. Bahu membahu membangun mimpi. Hidup dalam harmoni jika kita saling berbagi.
Sastry mengakhiri pentasnya. Orang-orang hanya lewat tak peduli dengan teaternya. Tak ada secercah senyum muncul di bibir seseorang kecuali Darwin yang menonton teater itu dari awal sampai habis. Sastry membalas senyumannya, senyum dari seorang saja sudah cukup untuk melanjutkan misinya menebar senyum di jalan. Sastry tidak akan menyerah dan berhenti.
“Omong kosong... Omong kosong... Omong kosong...” terdengar sahutan seseorang dari balik gang gelap. “Cerita itu omong kosong...” langkahnya makin jelas.
“Ada apa Tuan?” sapa Sastry santun.
Darwin datang menghadang Sastry, “Mundur nona manis, dia bukan manusia!”
Sesosok zombi muncul di akhir pentas. Dia adalah roh yang masuk ke dalam tubuh orang mati. Orang-orang melangkah semakin cepat, tak ada yang mau ikut campur dengan derita orang lain. Hanya Darwin yang berani bertindak. Jumbo dan temannya tak tinggal diam, mereka bersama Darwin bekerja sama melindungi Sastry.
Malam belum larut, namun tiap malam di Batul bukanlah malam yang menyenangkan. Tak ada cerita baik tertulis di jalanan Batul ketika malam tiba. Darwin kewalahan, makin malam makin banyak zombi yang keluar dari tiap sudut jalan. Dia berkata pada Jumbo, “Bawa nona manis itu pergi, aku punya ide.”
Jumbo menarik Sastry ke dalam truk tetapi Sastry melawan, dia tak mau meninggalkan Darwin sendirian. “Aku harus membantu!” Dia ambil sebuah pipa bekas lalu maju memukuli zombi. Jumbo tak bisa menghentikannya ketika Sastry sudah membulatkan tekad. Dia kembali bertarung dari sisi ke sisi saling melindungi.
Seorang penyihir berjubah hitam muncul di tengah kerumunan zombi itu. “Hahaha, menyerahlah! Tunduklah pada iblis! Bergabunglah... dengan Undernity-Movement!”
“Aku tak percaya pada iblis!” Darwin berusaha keras melawan. Kerumunan zombi semakin menggila. Tangannya hampir digerogoti beruntung Jumbo datang membantu.
Sastry sudah tersudut, tangannya terluka terkena cakar zombi. Dia terjatuh. Sastry mengambil penutup tong sampah lalu melemparkannya ke kepala zombi itu hingga jatuh tak berdaya.
Si penyihir melihat Sastry, dia mengincarnya sekarang. Kapak di tangannya kini menari, menerjang Sastry yang gesit berkali-kali menghindar. Darwin dan Jumbo menerjang penyihir itu namun tiba-tiba iblis datang memukul keduanya dengan keras. “Tunduklah pada iblis!” penyihir itu tertawa. Sastry kini tak bisa kabur, zombi menghalangnya dan hanya ada penyihir itu yang tersisa di hadapannya. “Bergabunglah bersama kami.” Penyihir itu memerintahkan semua zombi untuk menggerogoti Sastry. Tangan dan kakinya ditarik oleh kerumunan zombi, perih terasa akibat cakar mereka menancap menembus kulit. Sastry merintih, dia tak bisa lagi melawan. “Ucapkan sumpahmu sebelum kau juga jadi zombi!”
“Nona manis!”
“Bos!”
Kepala zombi-zombi itu seketika putus, mereka diterkam oleh Ryou dengan cakar hitamnya. Dibalik topeng hitamnya dia gagah berani melindungi Sastry. Penyihir itu mencoba kabur, dia tahu kekuatannya tak sebanding. Ryou tak membiarkannya, dengan cepat ia berpindah tempat dan muncul di hadapan penyihir itu. dia kembali lari namun Ryou kembali menghalangnya.
Iblis penyihir itu kini meluncur menyerang Ryou. Amat mudahnya ia hindari serangannya. Menghilang di dalam bayang lalu muncul menerkam iblis, mengirimnya kembali ke dimensi lain. Penyihir itu kini kehilangan kekuatannya, dia merangkak pergi namun Ryou menginjak jubahnya. Cakarnya sudah siap, hasrat Ryou untuk membunuh kembali meluap ketika dirinya sedang berubah. Darah di cakarnya menetes ke tanah, tubuh penyihir itu sudah dicincang.
Jumbo lari menyelamatkan Sastry, “Ayo Bos kita pergi.”
“Tunggu,” genggamnya erat di baju Jumbo.
Kristal es dari atas langit berjatuhan ke arah Ryou. Dia menghindar ke dalam bayangan. Seorang dengan topeng berwarna biru dan pedang berair tiba-tiba datang dari sudut jalan. Dia adalah si bajak laut, kapten Tenacity.
“Itu dia makhluk bertopeng hitam misterius itu!” kata Wahid memberi tahu pada Tenacity.
Dia memberi Wahid uang lalu melesat menyerang Ryou. Cipratan air dari pedangnya berubah menjadi kristal es tajam. Tiap tebasannya memberi luka dalam bagi siapa saja yang terkena. Ryou bergerak lincah, menghilang dalam bayang dan menyerang dari belakang bajak laut itu.
“Cukup Ryou! Berhenti!” Sastry berteriak, dia tak mau melihatnya lagi. Wahid dan Darwin kaget mendengarnya, Jumbo juga baru tahu kalau pria bertopeng hitam itu adalah Ryou.
Pedang Tenacity tiba-tiba kering, hasratnya untuk bertarung kini hilang. Dia lari lalu menghilang di kerumunan orang.
Ryou melepas topengnya, dia menghampiri Sastry. “Kau tak apa?”
“Pergilah, Hutangmu sudah lunas,” jawabnya tak mau memandang.
Ryou mengacuhkannya, dia menggendong Sastry lalu membawanya ke dalam truk secara paksa.
“Aku bilang pergi!” bentak Sastry.
Ryou tak menjawab. Sastry terdiam ketika Ryou menurunkannya di jalan. Sastry berjalan sendiri masuk ke bak belakang tanpa protes. Jumbo dan yang lainnya segera mengambil perlatan teater mereka lalu masuk ke dalam bak mobil. Ryou kini duduk di kursi kemudi di temani oleh Jumbo. “Terima kasih Ryou,” ucap Jumbo karena sudah peduli pada Sastry.