Part 9: Rencana Rahasia

3335 Kata
Sastry tak bisa tidur karena luka di sekujur tubuhnya begitu perih. Dia naik di atas truknya yang diparkir di depan rumah restu lalu bersandar memandangi langit Batul malam itu. Bintang-bintang tak berkilau, Bulan pun pudar di langit Batul. Awan hitam di langit tak pernah mau pergi seperti kota itu selalu bersedih tiap waktu. Sastry memikirkan kembali sudah sekuat apa dirinya mampu berkorban. Sudah setegar apa dirinya rela menahan sakit demi orang lain. Semua ia pikirkan agar teater mengerikan tidak akan pernah terulang lagi. “Aku harus bagaimana?” tanyanya pada langit. “Bos?” Jumbo menyapanya dari dalam. Sastry memukul truknya. Jumbo pun tak jadi bicara dan membiarkan Sastry menyendiri. “Tolong katakan padaku kenapa?” tanya Sastry pada langit malam. “Kenapa aku tidak mampu membuatmu tersenyum.” Sastry merunduk, dia malu memperlihatkan wajahnya pada langit mendung. Ryou muncul di sana, dia melemparkan jaketnya ke arah Sastry. “Nanti kau kedinginan.” Dia berjalan pergi mengitari malam seperti malam sebelumnya. Sastry memandangi tiap langkah Ryou. Pria itu berjalan tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa alasan jelas. Sastry merenungi dirinya lagi sembari menatap Ryou hilang ditelan kabut malam. “Aku pun sama seperti dirinya, hanya menggenggam alasan tabu menjalani hidup. Oh langit, tolonglah aku...”   Matahari masih mengantuk untuk terbit lebih awal. Nenek Restu yang akan beranjak ke dapur dikagetkan oleh Sastry yang sedang memasak. “Syukurlah kau kembali.” Nenek Restu senang. “Iya nyonya Semapta, Aku ingin membuatkan kalian sarapan sup sayuran pagi ini.” Dengan semangat baru Sastry mengawali pagi menebar senyum.   Mata Darwin dan Wahid berkaca-kaca menelan sup paling enak yang pernah mereka makan. “Enaknya...” keduanya berebut ingin tambah lagi di depan Sastry. “Maaf Nona manis, si bodoh ini kelakuannya memang kurang beradab,” Darwin mengambinghitamkan Wahid. “Halah cari muka, dasar genit!” Wahid menyikutnya. Sastry begitu senang semua suka dengan supnya, “Nanti aku buatkan lagi.”   Restu dan neneknya, bersama Wahid dan Darwin, serta teman-teman Sastry sarapan bersama pagi itu. Mereka saling berbagi cerita. Semua senang, Sastry lega dirinya masih bisa memberikan senyuman terbaik untuk orang terdekat. Wahid, Darwin, dan Jumbo berlomba-lomba menghabiskan sup. Makan mereka begitu banyak. Hanya tersisa satu mangkuk, ketiganya meraih mangkuk itu secara bersamaan. “Punyaku!” “Punyaku!” “Hey aku juga mau!” Sastry memukul ketiga tangan pria itu, “Ini punya Ryou.” “Yaaahh...” mereka kecewa karena sudah kehabisan sup. Restu tak mau mengecewakan Sastry tapi sebaiknya dia harus mengatakan yang sejujurnya. “Kalau kau menunggunya dia tidak akan datang.” Restu tak mampu menahan semua rahasia itu sendiri, dirinya tak sanggup. Restu bercerita pada semua bahwa Ryou setiap malam berkeliling Batul untuk menghabisi penjahat. “Dia tidak akan pulang hingga matahari terik.” Restu sudah memata-matainya dan tahu apa saja yang dikerjakan Ryou setiap malam. “Dia... Aku tahu dirinya tak ingin melibatkan kita dalam bahaya. Tapi...” neneknya memotong, “Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ryou itu pria tangguh. Dia pasti kembali.”   Matahari sudah begitu menyengat, teriknya membakar jalanan hingga meleleh. Sastry menugaskan krunya tanpa ampun seperti biasa. Dengan nada layaknya bos, penuh tekanan dan irama yang mengatur. Dia kirimkan mereka ke seluruh penjuru Batul. Setelah semua pekerjaan rumah selesai Sastry membongkar truknya untuk memperbaiki beberapa bagian yang sudah mulai rusak. Cristian datang siang itu untuk bermain bersama Restu dan yang lainnya. Di depan rumah Restu dia melihat mobil truk milik Sastry. Dia berkomentar padanya, “Ini truk siapa?” Sastry menyapanya, dia mengenalkan diri, “Namaku Sastry Adrysachmy, pemilik truk teater ini. Salam kenal.” Senyumnya indah dihiasi coretan oli mesin. “Ohh jadi kau Sastry itu, Amber sudah cerita padaku.” “Aku sementara akan berada di sini.” “Sementara? Kukira kau akan menetap di sini. Kata amber kau kan pacarnya Ryou.” “Kau pasti salah sangka.” kunci-kunci di saku Sastry beradu, wajahnya masam. “Maaf, kan katanya.” Cristian lalu permisi dan masuk ke dalam berkumpul bersama temannya.   Petang sudah tiba, Sastry yang gelisah tak melihat Ryou mengajak Restu keluar, “Ayo kita jemput nenekmu.” “Tapi kan dia pulang jam tujuh.” “Pokoknya sekarang!” Sastry menariknya masuk ke dalam truk. Dia injak pedal gasnya dan pergi melesat kencang. “Dia itu galak juga ya,” komentar Cristian. “Cocok kalau sama Ryou.” “Sastry pasti jadi milikku!” Darwin begitu yakin. “Sistry pisti jidi milikki,” mulut Wahid maju seperti bebek mengolok. “Aapppppaaaa...?!” Darwin tidak terima. Cristian masuk ke dapur dan menemukan semangkuk sup dingin dibiarkan di atas meja. Dia makan sup itu dan terkesan dengan rasanya yang enak. “Aku heran kenapa ada orang membiarkan makanan enak di sini.” “Haaahh??” Wahid dan Darwin kecewa mangkuk terakhir sup Sastry dimakan oleh Cristian.   Sambil menunggu nyonya Semapta pulang di pinggir pabrik, Sastry bertanya pada Restu di dalam truknya tentang Ryou. Dia ingin tahu seperti apa Ryou dimata Restu. “Kurasa kau yang paling mengerti, tolong ceritakan padaku.” Restu menceritakannya, kehidupan Ryou saat masih menjadi ketua kru pahlawan, pertarungannya melawan Peter, hilangnya Ryou secara misterius, hingga akhirnya dia kembali dengan sikap barunya. “Aku tak tahu kenapa, tapi aku merindukan Ryou yang dulu. Dia sangat b******k kan sekarang?” keluhnya kecewa. “Jadi seperti itu ya...” Sastry berpikir sambil menyandarkan dagunya di setir truk. Restu begitu kesal mengungkit-ungkit masa lalu Ryou. Sesosok pahlawan berhati besar di matanya kini kandas menjadi seorang pecundang yang berlagak ramah di depan muka. “Aku paling benci ketika dirinya berkata, ‘Iya aku ingat, hanya saja ada bayang-bayang putih yang menggangguku berpikir.’ Alasan konyol macam apa itu! Cristian sudah menasihatiku, ‘Biarkan saja, itu karena dirinya khawatir dengan kita.’ Tapi aku tidak percaya! Ryou bukan orang seperti itu! Apa maksudnya aku ini hanya menghalanginya saja? Apa aku ini tidak cukup kuat? Lalu untuk apa selama ini kami berjuang bersama?” Sastry mengelus pundak Restu, “Sudah, sudah. Ryou melakukannya demi kita kan?” senyumnya manis menghibur. “Maaf kalau kelewatan, soalnya kau harus tahu siapa Ryou sebenarnya.”   Hingga malam tiba Ryou belum juga menampakkan wajahnya. Sastry memulai teater jalanannya dengan amat cemas. Bukan karena takut akan ada zombi yang menyerang, tapi takut Ryou tidak akan pernah datang lagi padanya.  Pergi, hutangmu sudah lunas. Aku bilang pergi! “Aku ingin minta maaf telah berkata kasar padanya.” “Bos, ayo mulai.” Jumbo menegur Sastry yang melamun. “Ya.” Jawabnya setengah hati. Sastry tampil tidak seperti biasanya. Jiwa raganya tidak mengalir dalam permainan di atas panggung. Sebagian jiwanya tidak bisa melupakan Ryou, bagaimana bisa dia melewatkan seseorang yang tidak pernah tersenyum pergi begitu saja di depan matanya. Sastry terjatuh dari atas heelsnya di atas panggung, dia menghembuskan nafas lalu kembali berdiri dan tersenyum meski tak ada yang menonton teaternya. Semua sudah usai, jalanan tidak ada yang peduli. Semua pesan dan kesan kegembiraan dan kebersamaan yang diceritakan di dalam teater tak ada yang mau mendengar. Batul tidak akan pernah berubah hanya karena sebuah dongeng. “Ayo kita pergi bos,” Jumbo menyerah, hatinya kecewa tak ada yang peduli pada teaternya. “Diam!” Bentak Sastry. “Tapi bos-“ “Diam!” Sastry pergi meninggalkan teman-temannya dengan perasaan hancur. Jumbo dan lainnya segera berkemas lalu menunggu Sastry kembali.   Sastry ingin melihat secara langsung bagaimana cara orang Batul hidup. Dia memutuskan untuk langsung turun tangan dan membantu siapa saja yang bisa dia bantu. Hatinya ingin sekali menebar senyum di wajah kelam mereka. Dia pilih opsi terburuk dan masuk ke dalam sebuah lorong gelap jalur kereta bawah tanah di mana biasanya para kriminal sedang berkumpul. Seorang berandal bersiul melihat Sastry melewati wilayahnya. “Kau salah jalan nona.” Sastry menghampirinya. Dia matikan rokok di mulut berandal itu dan merebut beer dari tangannya. “Ini bisa merusak tubuhmu.” Berandal itu bingung, “Hey, kau punya masalah denganku nona?” Dengan senyumnya dia berkata, “Ayo kita ke atas, aku akan buatkan makanan untukmu.” Sastry menarik tangan berandal itu tetapi dia menepisnya. “Aku tidak butuh belas kasihanmu, sana pergi sebelum aku berubah pikiran.” Sastry menelan tolakan itu, ia tahan senyumnya, “Akan ada banyak kebahagiaan! Ayo jangan sampai kelewatan!” Berandal itu menatap Sastry begitu dekat. Bau alkohol dari mulutnya menusuk tajam di hidung Sastry. “Kau! Mau tahu apa yang bisa membuatku bahagia?” Sastry menelan ludahnya sambil menahan nafas, “Kalau begitu apa yang bisa kubantu agar dirimu bahagia?” senyumnya masih belum pudar. Berandal itu mengangkat dagu Sastry, ia genggam pipinya dengan kasar hingga mulutnya terbuka. “Kau mau tahu?” tatapnya melotot. Sastry mengangguk, jantungnya mulai berdebar. “Kau benar-benar ingin tahu?” cengkeramnya makin kuat. Berandal itu mencium bibir Sastry amat liar. Air liurnya berceceran begitu lengket dan busuk. Sastry takut, ia dorong berandal itu hingga terjatuh. “Kenapa nona? Kau bilang ingin membuatku bahagia?” berandal itu mengeluarkan belati dari dalam sakunya. Sastry menendang berandal itu, dia melawan. Tak mau kehormatannya sebagai wanita dilecehkan. Dengan gerakan kakinya yang cepat Sastry menendang pisau itu dari tangannya lalu menendangnya cukup di kepala. “Sekarang aku marah!” Berandal itu kini serius. Berandal lain kini datang. Sastry terdiam, dia tak menyangka akan seburuk ini jadinya. “Kau sudah tak bisa lari lagi! Mulai sekarang bibir manismu akan jadi sumber kebahagiaan para preman di sini!” Berandal lain menangkap Sastry, dia tak bisa melawan. Mulutnya ditutup, sudah terlambat untuk berteriak. Dari dalam kegelapan tiba-tiba seorang dengan jubah hitam menjulurkan tangan. Seketika para preman itu merasa kepanasan, seperti darah di nadinya mendidih. Mereka menjerit memohon ampun karena kepala mereka melepuh. Darah mengalir dari mata dan telinga mereka semua. Sastry benar-benar ketakutan. Jantungnya berdebar sangat kencang. Belum pernah dia melihat sihir sekejam itu. “Ryou? Apa itu kau?” Penyihir itu menampakkan wajahnya, dia adalah pria yang ada di aula besar bersama Karin ketika Ryou menyelidiki kelompok Undernity-Movement. “Namaku Teuron Rushmoore,” dia berjalan menghampiri Sastry. “Gapailah kebahagiaan.” Teuron memberikan selebaran pada Sastry, “Bergabunglah. Bersamaku kau bisa menyelamatkan Ryou.” Sastry membacanya dengan tangan bergetar. Ketika dia selesai membaca, Teuron sudah hilang dari hadapannya. Sastry merunduk menutup mata, dia benar-benar gagal.   Sastry kembali ke rumah Restu seperti tidak terjadi apa-apa. Senyumnya tetap terjaga, kata-katanya indah didengar, tak ada yang curiga Sastry baru saja melewati satu lagi malam mengerikan. Ryou datang sekitar jam sepuluh ketika matahari sudah terik. Mukanya kusut, matanya hitam, rambutnya acak-acakan. “Hoam... selamat pagi...” dia muncul dari pintu depan lalu melompat tidur di kursi favoritnya. Sastry menghampirinya, Ryou membuka matanya sebelah, “Hah?” Sastry mengembalikan jaket yang sebelumnya Ryou berikan, “Terima kasih ya,” senyumnya secerah mentari. Ketika Ryou hendak memakai jaket itu, air matanya menetes. “Hah kau kenapa?” Sastry heran.  “Uhh bau parfum perempuan, bersihkan!” dia tak tahan wewangian yang mencolok. Senyum Sastry langsung sirna, “Itu baru saja ku cuci ya!” “Tapi wangi perempuan, apa nanti kata orang?” “Jaketmu bau comberan, harusnya kau bersyukur aku peduli!” “Tidak mau pokoknya.” Ryou kembali menutup mata. “Hiiih! Tidak tahu terima kasih!” Sastry merengut namun ia menuruti permintaan Ryou. “Iya terima kasih” gumam Ryou.   Sastry keluar untuk mencuci kembali jaket Ryou, di sana dia sudah ditunggu oleh Darwin. “Pagi Nona manis.” Sastry tersenyum sedikit, “Pagi juga.” Darwin berusaha mencuri perhatian Sastry dengan menaruh bunga di atas topinya. “Oh Nona Sastry, bunga itu begitu cocok bersanding dengan helai rambut indahmu. Wajah yang ayu menjadi saksi bahwa...” “Bahwa apa?” Sastry menyeringai. Darwin menyolek Sastry, dia melihat seorang pria besar nan kekar datang dikawal oleh belasan pelaut seram. “Nona manis... Tolong jangan melihat ke jalan.” “Ahoy! Apa benar Ryou ada di sini?” pria itu masuk ke halaman belakang rumah Restu bersama kawanannya. Sastry menoleh, dia dan Darwin lupa-lupa ingat dengan penampilannya. Kapten Tenacity menunjukkan pedang air biru miliknya, “Sastry...” “Ohh kau yang waktu itu! mau apa kau?” Darwin berdiri di depan Sastry melindungi. “Lama tak jumpa Tenacity.” Balas Sastry. “Hah? Kalian saling kenal?” Darwin menoleh ke sana-kemari. “Ada keperluan apa kau kemari?” tanya Sastry. Tenacity memegang pundak Sastry, “Yaaaoooo aku hanya ingin bertanya pada Ryou.” “Bagaimana kau tahu Ryou di sini?” tanya Sastry. “Wahid yang menunjukkan jalan ke rumah ini.” “Hays si bodoh itu...” umpat Darwin. Restu muncul dari dalam karena mendengar ada keributan di luar, “Astaga... mau sepenuh apa rumahku?”   “Maaf aku ngantuk, tolong beri aku waktu satu jam setengah ya.” Ryou kembali tidur ketika Kapten Tenacity mengajaknya berbicara. Anak buahnya langsung ribut, mereka murka melihat Ryou tidak sopan padanya. Restu menutup telinganya, dirinya tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika kerumunan pelaut itu mengamuk. “Tolong aku Sastry kumohon, apa nanti kata nenek kalau mereka ribut di sini.” Sastry mencoba membangunkan Ryou, dia bisiki telinga Ryou dengan lembut. Menimangnya hingga Ryou tidur semakin terlelap lalu menjewer telinganya. “Bangun!” “Iyaa maaf.” Ryou mengajak Kapten Tenacity Berbincang di luar.   Alasan kedatangan Tenacity kemari adalah pertempuran yang memorak-porandakan dermaga Batul. Penduduk di kepulauan Cranberries kini tidak mendapat stok pasar dengan harga bersahabat karenanya. Banyak perompak menjarah kapal dagang Cranberries karena langkanya bahan sandang dan pangan. Dan Tenacity ingin menghentikan sumber masalah itu. “Di mana Penyihir pasir itu?” Ryou memberitahunya secara singkat, “Aku mungkin akan menghampirinya tapi untuk saat ini aku punya hal yang lebih penting.” “Yo berarti kau ada di pihakku yo orang baik.” “Apa pedulimu? Aku Cuma pengangguran.” Tenacity menceritakan kalau topeng miliknya dan topeng Ryou saling berkaitan. Ada enam topeng dengan enam kekuatan. Masing-masing memiliki kekuatan unit yang begitu dahsyat jika tahu cara menggunakannya. Jika sampai topeng itu disalahgunakan seperti yang dilakukan oleh si penyihir pasir, Tenacity bersumpah akan mengalahkannya. “Aku berjuang atas nama lautan untuk selalu menjaga perdamaian.” “Iya hebat sekali, nanti aku bantu-bantu kalau sempat.” Ryou sudah tak tahan, matanya tinggal setengah watt.   Kini suara sirene terdengar makin jelas menuju ke rumah Restu. Suara bising baling-baling helikopter bergejolak di angkasa. Debu di luar beterbangan masuk ke dalam rumah. Menteri Ketertiban Umum turun tangan langsung dalam menangkap kriminal yang sedang buron. Puluhan polisi bersenjata lengkap menyergap rumah Restu, mereka menodongkan senapannya. “Tangkap Wahid Situmoras, dan Darwin Engswan dengan dakwaan pencurian.” Ryou berusaha lari namun kali ini dirinya tak kan bisa. “Ryou Rouza...” kata David dari pengeras suara helikopter. “Anda tidak akan lari kali ini. Terlalu berat bagi Anda meninggalkan semua orang yang Anda pedulikan?” Ryou pasrah, dirinya tak mampu mengorbankan orang sebanyak ini. David turun dari helikopter. Dia berjalan tenang menghampiri Ryou. “Tangkap Ryou Rouza dengan dakwaan berlapis.” “Kalian penjahat?” Tenacity tidak percaya. Pedang airnya mulai basah. Sastry merunduk, dia akhirnya mendengar kenyataan tentang kenapa Ryou di hutan Hulao. Dirinya memang sudah curiga namun dia tak mau berburuk sangka. Tangan Ryou diborgol, dia dibawa oleh polisi menuju helikopter. David berbisik padanya ketika berpapasan, “Nanti kita kompromi.” Restu menolak teman-temannya untuk ditangkap, dia menghadang para polisi itu. “Mereka bukan penjahat!” David melemparkan sebuah tablet pada Restu yang berisi rekapan kejadian saat Ryou berbuat onar di Hefei menyerang polisi dan saat Ryou memorak-porandakan penjara khusus Steywa. Restu tak peduli, dia tak mau teman-temannya dimasukkan ke penjara. Polisi terpaksa melakukan kekerasan. Restu dipukul dengan tongkat listrik, membuat ototnya kejang tak bisa bergerak.   Ryou dibawa oleh David ke kantor Kementerian Ketertiban Umum di distrik pemerintahan Hefei. Penjagaan di sana sangat ketat, empat kali lebih ketat daripada penjara Steywa. Suara generator Zonosphere berdenging di telinga Ryou. Ada empat generator besar yang di pasang di sana demi keamanan pejabat. “Merasa pusing?” tanya David saat ia dan Ryou beranjak menuju ruangannya. Ryou tak menjawab, yang ia dengar hanya suara denging berfrekuensi tinggi, rasanya telinganya mau memuncratkan darah tak lama lagi. David menepuk tangannya lalu dengan seketika hilang suara dengungan di telinga Ryou. Generator Zonosphere berhenti dengan kendalinya. “Tolong tinggalkan kami,” perintah David pada polisi yang mengantarnya. “Silakan duduk tuan Rouza.” David duduk di kursinya sambil menuangkan vodka untuk mereka berdua. Ruangan David begitu dingin. Temboknya terbuat dari baja metalik keras, “Tembok ini bisa meredam kekuatan hingga 5 megaton.” Dari sana Ryou bisa melihat dari kaca meganya kota Hefei sebagai sumber kekayaan dan kekuatan negara Kuzech, “Kaca itu anti peluru, peluru tank sekalipun tak bisa menembusnya.” David menutup pintu ruangannya, seketika Ryou merasakan tempat itu sangat hening, “Tempat ini kedap suara, Anda bebas berkata apa pun.” Ryou terkesan, namun yang mengejutkan adalah saat dia melihat topeng apinya terpajang di lemari kaca David. “Dari mana kau dapatkan itu?” “Tertarik dengan benda antik?” tanyanya tersenyum. Ryou duduk, dirinya sudah siap. “Mari kita bernegosiasi.” David menjentikkan jari lalu muncul proyeksi yang menampilkan data lengkap Ryou. Di layar itu Ryou melihat data dirinya. Dahinya mengerut, “Apa benar ini dataku?” David tersenyum, “Secara hipotesis, semestinya saya yang bertanya demikian.” Ryou tidak ingat dirinya berumur 22 tahun. Tanggal lahirnya pun salah. Ryou tahu dirinya tidak lahir tanggal 8 April 2178. “Maaf Pak kau salah orang.” David memberikan Ryou papan tulis digital dan pena, “Kalau begitu tolong dikoreksi.” Ryou meraihnya, dan ketika dirinya ingin menuliskan data diri, tangannya mulai bergetar. Matanya penuh gundah, hatinya kacau, pikirannya terombang-ambing. Ryou memegang pena semakin kuat, David bisa melihat ketegangan Ryou. “Ada yang bisa saya bantu Tuan Rouza?” Ryou kembali sadar, “Tidak.” Dia tulis data dirinya beserta tanda tangan di papan itu. David tersenyum, “Orang seperti Anda harus punya KTP.” Dia menjentikkan jarinya lalu keluar KTP Ryou dari mesin pencetak. Ryou bengong kenapa dibuatkan KTP, “Apa masuk penjara harus punya KTP?” “Seperti yang telah saya katakan, Anda harus punya KTP.” “Iya tapi kenapa?” “Hukum.” David meminum vodka di gelasnya. Dia ambil KTP itu dan memandanginya sebentar, “Ryou Rouza. Tempat tanggal lahir, Batul Barat 16 September 2177. Anak dari tuan Barrenate Rouza. Tangan kanan dominan. Golongan Darah B.” Matanya melirik Ryou, “Apa konsekuensi jika data ini fiktif?” Mata Ryou berkedip, ia memalingkan pandangannya sekejap lalu kembali berkontak mata sambil menarik nafas pelan. “Aku tidak tahu... mungkin penambahan masa tahanan?” Senyum David makin tinggi, “Yakin sekali Anda akan bebas?” “Maksudmu...” “Begini saja, bagaimana kalau Anda mengabdikan sisa hidup Anda untuk sesuatu yang lebih berguna. Akan sangat disayangkan jika Kuzech harus kehilangan potensi besar seperti Anda.” “Apa yang kau pikirkan Pak?” “Selain itu, kita memiliki tujuan sama.” David bangkit dari kursinya, dia berdiri di depan kaca memandangi indahnya kota “Anda ingin tahu dari mana saya mendapatkan topeng api itu? Topeng itu saya dapatkan dari roh akhir zaman. War, The Apocalypse – 1.” Seketika Ryou kembali teringat dengan mimpi buruknya. Waktu tiba-tiba berhenti. Ruangan itu menjadi sangat panas, begitu merah karena kobaran api. Muncul roh Conquest dari dalam tubuh David. “Peepsqueak! Kenapa kau belum menyusul ayahmu?” cemoohnya. Jantung Ryou ingin meledak, rasa takutnya yang amat sangat buruk kembali menghantui, “Pergi kau!” “Uuuhh kasihan Peepsqueak, jangan menangis haha.” Ryou berusaha menggerakkan kaki namun seluruh tubuhnya membeku. Dirinya panik bukan kepalang. Conquest mendekat, ia gebrak meja di depan Ryou, “Ayo lawan aku!” “Kau!” pompa jantungnya sudah tak terkendali seakan mata Ryou ingin lepas. “Bakar aku!” Conquest menaikkan kaki ke atas meja. “Aaaaahhhh!!!” Ryou meledak hancur namun rohnya masih berada di sana, dia masih ingin melawan. Kegelapan di jiwanya semakin kental, menghitam dan gelap membusuk seperti bangkai. David memalingkan wajahnya, dia melihat Ryou melamun dengan pandangan kosong. Kata-katanya tidak didengar oleh Ryou karena dia terperangkap dalam bayang ketakutan. “Anda baik-baik saja tuan Rouza?” David menepuk pundak Ryou, menyelamatkannya dari teror menakutkan. Ryou menarik rambutnya dengan kedua tangan, jambaknya kencang saking takutnya.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN