Chapter 2 – Part 1: Perasaan Tersembunyi

1416 Kata
Chapter 2 – Incessant Despondency Mimpi bukan berarti khayalan semu, tak selalu gambar itu melintas tanpa tuju Mungkin dia bekas luka di hati, atau rintangan di hari nanti Kita tak tahu jika kita tidak mulai menuliskan mimpi itu Mulailah meggerakkan hati menemukan arti  Malam berganti malam, tapi tetap tidak ada yang berubah. Sastry bahkan tak mampu menarik satu orang pun untuk menyaksikan teaternya. Tak kan ada kebahagiaan di Batul, kota itu sudah mati. Jumbo tak mau memudarkan cahaya semangat di mata Sastry namun dirinya sendiri sudah patah hati. Semua usahanya sia-sia, serasa seperti orang bodoh tampil di atas kuburan. Malam itu Sastry kembali merenungi apakah jalan yang ditempuhnya sudah benar. Masih di atas truknya, di bawah asap tebal yang menutupi cahaya bintang. Sastry berandai apa yang akan ia lakukan jika usahanya akan terus seperti ini. Restu melihatnya dari balik jendela kamar. Ia menghampiri Sastry untuk menemaninya. Restu yakin banyak yang ingin Sastry ceritakan, begitu pula sebaliknya. “Kak Sastry?” Sastry menepuk atap truk di sampingnya, mengajar Restu duduk melamun saling mengungkapkan rasa. “Itu jaket Ryou kan?” Restu melihat jaket Ryou ada di pangkuan Sastry. “Iya.” “Kau tidak percaya kan Ryou tega melakukan semua itu?” tanya Restu langsung. “Aku percaya.” Restu mau mendengarkan apa yang ingin dikatakan Sastry, dia duduk di sampingnya. “Aku dan Ryou memang belum berteman lama seperti kalian, tapi kami saling menolong. Aku tahu dirinya pasti punya alasan, tapi aku tak perlu tahu karena aku percaya padanya.” “Iya, aku pun merasa seperti itu. Hanya saja sulit rasanya untuk menerima. Melihatnya bertarung menyelamatkan seseorang dengan membunuh seseorang yang lain... itu berlebihan.” “Kau tahu apa yang ada di dalam pikirannya?” “Yang ku tahu dia memikirkan dirinya sendiri. Tidak seperti dulu... meski kekejiannya sudah berkurang, tapi dulu dia baik dan peduli. Tidak berpura-pura seperti sekarang ini.” “Kalau menurutku, aku merasa dirinya begitu tertekan. Sesuatu menekannya dan dia tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa.” “Dia punya kita! Kita ini temannya kan? Iya kan? Kau pasti berpikir begitu kan?” “Iya, tapi... bisakah kau berusaha lebih keras lagi? Kalau hari itu datang kita harus siap menolongnya.” “Andai dia mau berterus terang. Andai hatinya bisa berubah.” “Aku akan berusaha.” Sastry tersenyum. Restu menoleh, “Apa maksudmu?” “Tidak, lupakan. Mari berharap yang terbaik untuk Ryou.”   Dari dalam gelap malam, Ryou kembali tidak seperti hari lainnya. “Jangan keliaran larut malam!” sahutnya. “Ryou benar, tidak baik kak Sastry di luar hingga larut,” kata Restu. “Kau juga!” sambung Ryou. “Eh...” mata Restu bergulir. Sastry turun dari mobilnya, ia menghampiri Ryou dan berdiri di hadapannya dengan sebuah senyuman. “Ryou...” “Iya?” “...Kau ini benar-benar bodoh ya?” Sastry langsung masam. “Hah? Kukira kau mengkhawatirkanku.” “Hih untuk apa!” ungkapnya jijik. “Hey... aku hanya mencoba untuk bersikap baik, kenapa malah marah?” “Lain kali pikirkan orang lain, jangan selalu berbuat seenaknya!” “Seenaknya? apanya yang seenaknya?” “Restu mengkhawatirkanmu dan kau tidak memberitahu sepatah kata pun padanya?” “Iya. Biasakanlah.” Ryou pergi masuk ke dalam rumah. Sastry melemparkan jaket Ryou ke arahnya, “Ryou kau egois!” Ryou ambil jaketnya yang terjatuh lalu dia kembalikan jaket itu pada Sastry kemudian pergi.   Ryou terbangun dari mimpi yang mulai berulang. Dirinya bermimpi lagi tentang kematiannya di gua Hulao melawan Conquest. Lagi-lagi dia menjambak rambutnya. Semakin hari bayangan itu semakin nyata di kepalanya. Tak lama kemudian Ryou tersadar oleh belaian aroma sedap. “Selamat makan.” Ryou mendengar teman-temannya sedang sarapan. Dia pun bangkit dan mencoba melupakan apa yang terlintas di pikirannya. Seluruh orang terlihat begitu menikmati sarapannya. Menggoda Ryou untuk segera mencicipinya. “Mana punyaku?” tak ada lagi makanan tersisa untuknya. Orang-orang mengacuhkannya, mereka sibuk sendiri dengan masakan Sastry yang sangat lezat. Ryou menggigit bibirnya karena mulai lapar. Tetapi karena dia dikucilkan akhirnya Ryou memilih pergi dan mencari makanan sendiri.   “Ayam goreng satu,” pesan Ryou di sebuah warung makan. Ibu pemilik warung kaget mendengar Ryou memesan ayam, “Hah ayam?” Ryou bertanya polos, “Iya, Habis ya?” Ibu itu mengomel, “Heh memangnya kau punya uang?” dia sering mengusir Ryou karena tak bisa membayar belanjaannya. Ryou menepuk selembar sepuluh ribu BP dari sakunya ke meja. Ibu pemilik warung itu kaget melihat dompet tebal Ryou, dia pergi dan membuatkan pesanan Ryou dengan ekspresi jijiknya, “Pasti habis maling.” Sambil menunggu pesanan Ryou melihat KTP barunya. Kepalanya masih pusing karena tak bisa berhenti memikirkan apa yang terjadi di ruangan David. Dirinya sudah sepakat untuk menjadi mercenary di bawah David dengan bayaran jaminan kebebasan Wahid dan Darwin serta keringanan hukuman mati dirinya. “Aku tak mengerti pada akhirnya menjadi seperti ini. Aku menemukan alasan tapi bukan ini yang ku harapkan.” Ketika ibu pemilik warung hendak mengantar makanan, dia melihat seorang bertubuh kekar membawa pedang menghampiri Ryou, “Tuh kan benar!” Dia simpan ayam gorengnya di balik lemari dan mengintip dari dalam. Orang kekar itu ialah Tenacity, dia datang melabrak Ryou, “Ahoy dompet yang tebal, dari mana ya datangnya?” Ryou menyimpan dompetnya, “Apa maksudmu?” “Hoy pencuri! Mengaku saja!” Ryou bangkit dari kursinya, “Kau menuduhku mencuri?” tatapnya tak senang. Pedang Tenacity mulai basah, dirinya b*******h, “Ohoy aku tahu akan ke mana arah perbincangan kita yo.” Ryou mengambil KTP-nya lalu memberikan dompetnya pada Tenacity, “Maaf kalau begitu, tolong kembalikan pada pemiliknya ya.” Ryou pergi dari sana. Tenacity melihat Ryou pergi dengan santainya tanpa rasa bersalah. Dia remuk dompet itu dan membuangnya ke tanah. Lengannya cepat mencengkeram leher Ryou dari belakang, dia cekik Ryou dengan otot besarnya. “Kau seharusnya di penjara yo! Akan kupulangkan kau!” Ryou tak ingin melawan, dia menyerah begitu saja hingga tersedak dan lemah. Sepatu Tenacity berkali-kali melayang di tubuhnya, tapi dia biarkan karena dia tak merasa perlu melawan. Ryou takut hilang kendali dan membunuhnya. Dengan wajah babak belur Ryou digeret Tenacity dan dibawa ke pos polisi untuk dilaporkan. Sastry melihatnya, padahal dia ingin minta maaf pada Ryou dan memutuskan untuk mencarinya namun dirinya terlambat. Dia berlari mengejar Tenacity, “Hentikan!” Tenacity bersikeras, “Lupakan penjahat ini, dia tidak baik untukmu.” “Dia temanku!” “Berhenti berteman dengannya kalau begitu.” Tenacity masih terus menggeret Ryou. “Aku bilang berhenti!” dia mendorong Tenacity.   Mereka sampai di pos polisi. Petugas sedang mencari data di komputernya untuk memastikan apakah Ryou baru saja kabur lagi dari tahanan. Ryou hanya menunggu sambil terus dibekukan dengan tembakan Zonosphere. Sastry dan Tenacity beradu mulut di luar sambil menunggu kepastian dari polisi. “Apa hakmu mengaturku memilih teman?” Sastry masih marah. “Sastry, aku masih menjadi penjaga dirimu. Janjiku padamu tetap sama.” “Kalau begitu aku perintahkan kau untuk berhenti mengusik Ryou!” “Tapi dia penjahat! Kau lihat dengan mata kepala sendiri!” “Kau tidak tahu siapa dia!” Tenacity memegang kedua tangan Sastry, “Tidak sepantasnya orang sepertimu berteman dengan kriminal.” Sastry melepaskan tangannya, “Diam! Kau tak tahu apa-apa soal Ryou.” Polisi keluar membawa Ryou dan melapor, “Orang ini sedang dalam masa percobaan dengan status kriminal dalam pengawasan dan telah diberikan hak spesial untuk tetap bermasyarakat dengan pantauan langsung dari menteri Ketertiban Umum. Pak David mengkonfirmasi sendiri bahwa dia memang memberikan fasilitas padanya. Orang ini tidak melanggar aturan.” Sastry langsung berlari menghampiri Ryou, dia menopang Ryou yang sulit untuk berdiri, “Bertahanlah!” “Iya terima kasih, bisa tolong antar aku ke warung? Aku lapar,” sindirnya halus untuk Sastry.   “Hey kenapa orang ini datang lagi?” Restu mengeluh kenapa Tenacity ada di rumahnya. Dia baru saja kembali setelah mengantar neneknya dan melihat Tenacity, Ryou, dan Sastry saling duduk berhadap-hadapan tanpa saling bertegur sapa. “Hey Ryou kau kenapa?” tanya Restu melihat wajah Ryou babak belur. Ryou tidak menjawab, pandangnya muak masih menuju ke arah Tenacity. “Kak Sastry, Ryou kenapa?” tanya Restu berbisik. Sastry merunduk, dia juga tak mau menjawab. Restu kemudian menyolek Tenacity, “Hey pak, ada perlu apa kemari?” Tenacity tak mau melepaskan pandangannya dari wajah Sastry, dia juga diam tak mau menjawab. Restu ingin marah, orang-orang seenaknya keluar masuk rumahnya tanpa sepengetahuannya. Kini dia dikucilkan sebagai tuan rumah. Hatinya sudah greget ingin membentak namun ia memilih untuk mengalah dan pergi sambil membanting pintu. “Oy...” ketiganya jadi tak enak hati pada Restu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN