Part 2: Hutan Mistik

788 Kata
Peter kembali ke ruangan David, dia protes kenapa David mempekerjakan Ryou dan memasukkannya ke dalam proyek penghapusan Undernity-Movement. “Dengan penuh rasa hormat aku menghargai setiap keputusanmu, tapi yang satu ini sudah benar-benar kelewatan. Apa kau gila David?” bentaknya di depan meja David. “Kita kekurangan tenaga, dan Ryou punya potensi untuk mengisi lubang di dalam tim kita.” “Lubang katamu? Aku bisa menanganinya!” “Benarkah Tuan Miracle?” David tersenyum. “Akan kubuktikan!” “Kalau begitu saya memohon dengan sangat, cepat kalahkan penyihir pasir itu. Terornya semakin hari semakin banyak.” Peter keluar dari ruangan David dan langsung memerintahkan Anita untuk segera mencari di mana keberadaan Karin. “Cepat cari!” “Baik Tuan.” Dengan gesit Anita menghubungi sektor intelijen dan memproses semua informasi yang didapat.   Peter sampai di pegunungan Hulao. Anita dari belakang layar mengarahkan Peter menuju titik koordinat terakhir Karin ditemukan. “Hati-hati Tuan Miracle,” ucapnya tiap kali Peter memulai misinya. Peter membenarkan earbuds di telinganya, “Arah mana yang harus ku ambil?” “Timur laut menuju kota Rozhorg.” Dengan bantuan Anita, Peter berhasil sampai di suatu kebun bunga di tengah hutan belantara Pegunungan Hulao. “Tempat apa ini?” Peter terpesona dengan keindahan alam yang tersembunyi dari jamahan manusia. “Sejarah mengatakan tempat itu adalah salah satu sumber kehidupan hutan mistik yang membentang di pegunungan Hulao.” Anita membacakan referensi dari monitornya. “Mistik ya? Kita sudah dekat!” Peter mengenakan topengnya. Dia berjalan menyusuri kebun itu. suasananya begitu asri, menenangkan hati dan pikiran. Gemuruh air terjun mengisi kekosongan jiwa, bergejolak seirama jantung. Serangga dan burung bermain ke sana-kemari, gembira ria dalam harmoni. “Sinyal terputus!” earbuds Peter kehilangan sinyalnya. Anita tak percaya hutan itu bisa memutus jaringan komunikasi satelit. “Hati-hati Tuan Miracle,” harapnya cemas. Peter tidak begitu peduli dengan gangguan sinyal, dia rasa dirinya sudah dekat dengan tujuannya. Dia melihat aliran air sungai menjadi merah seperti noda darah kental. Dengan segera Peter menyusurinya. Dia menemukan sesosok wanita berambut merah tanpa busana duduk di tepi sungai. Tubuhnya penuh luka. Darahnya mengalir dari bekas sayatan hitam di sekujur tubuh. “Kau kenapa?” Luka wanita itu seperti disengaja, sayatannya seperti kumpulan gambar kecil. Di samping wanita itu ada banyak sekali kucing hutan kecil bermain di kaki dan tangannya. Mereka mengeong manja, manis sekali membuat hati meleleh. Wanita itu menoleh ke belakang menunjukkan mata indah hijau berliannya. Dia tidak lain dan tidak bukan Karin Raviel. “Apa yang kau lakukan?” Peter khawatir melihat darah tak berhenti mengucur di sekujur tubuh Karin. Karin menaruh kucing-kucingnya ke pinggir sungai untuk mandi bersamanya. Karin mulai memasukkan kakinya perlahan ke aliran air dingin di sungai itu. Sisi matanya berkedut, Karin merintih, “Iihh...” Karin kembali melangkah ke tempat yang lebih dalam, kini air sudah berada di atas perutnya. “Aaaahh...” perih makin terasa. Kedua tangan Karin memercikkan air dan membasuh tubuhnya yang penuh darah. “Aaahhh...” jeritnya makin keras. Macan besar tiba-tiba muncul dari dalam semak. Ada lima macan mengaum menggelegar ke arah Peter. “Sihirkah?” Tak lama kemudian muncul dua ekor gajah dengan gading besar dan panjang, mereka juga menatap Peter dengan tajam. “Ada apa ini?” Peter berlari menyelamatkan Karin, ada yang tak beres dengan binatang di sana. Ketika Peter menyentuh tangan Karin untuk menariknya pergi, tangan wanita itu terkikis menjadi pasir. “Hey kau kenapa?” dia kaget bukan kepalang. “Ayo cepat pergi sebelum kau diterkam macan!” Karin hanya diam, dia masih terus membasahi lukanya dengan air. Peter mencoba menggendong Karin tetapi ketika dia menyentuhnya Karin hancur menjadi pasir dan hanyut terbawa arus. Peter terpaksa meninggalkan Karin dan pergi menyelamatkan diri, binatang buas sudah mulai bergerak mengejarnya. Pohon-pohon tiba-tiba bergerak, akar dan ranting secara ajaib menyabet Peter. Lebah berdatangan, mereka juga menyerbu Peter. Semua makhluk menyerang Peter seperti hutan itu sedang melindungi Karin. “Gawat!” Peter keluar dari kebun itu. “Tuan Miracle? Tuan Miracle!” sambungan komunikasi kembali terhubung. “Sihir apa itu?” tanya Peter. “Saya tidak melihat adanya indikasi sihir Tuan.” “Omong kosong! Seluruh makhluk menyerangku di sini!” “Tapi gambar di satelit tidak menunjukkan ada keanehan apa pun.” Peter mendengar jeritan Karin, teriakannya begitu kencang hingga burung-burung beterbangan dari atas pohon. “Dia masih hidup?” Pasir-pasir yang terbawa arus itu perlahan menggumpal dan menyatu. Karin kembali muncul dari tumpukan pasir. Sihirnya yang membuat dia menjadi pasir. Teuron datang menghampiri Karin yang sedang mandi di sungai, “Luar biasa, Karin.” “Lagi... aku mau lagi,” katanya.  Teuron memecut punggung Karin dengan besi berduri. Darah kembali bercucuran, perih dirasakan Karin semakin menjadi. Jeritan Karin semakin kuat, dirinya puas, hasratnya terpenuhi. “Terima kasih atas cintamu, Teuron.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN