Keluarga Restu dan teman-temannya kembali menyambut pagi dengan sarapan lezat buatan Sastry. Restu mulai akur dengan Jumbo dan yang lainnya. Dirinya juga sudah sedikit puas mendengar semua yang terlewatkan dari mulut Ryou. meski dirinya masih berumur lima belas tahun, kerasnya Batul sudah mengubahnya menjadi seorang dengan jiwa yang lebih matang. Lebih dewasa dari sebagian orang.
Mereka berkumpul bersama, bersuka ria saling melepas rasa. Termasuk Sastry dan Ryou, mereka sudah lebih baik.
“Maafkan aku Ryou...” kata Sastry saat memberikan lauk pada Ryou.
“Untuk apa?” balasnya senyum.
“Karena aku suda-“
“Ahh sudahlah aku tidak ambil hati kok. Ayo makan.”
Sastry senang mendengarnya, “Ayo!”
Tak lama kemudian Darwin datang mengagetkan mereka semua. “Pagi Nona manis.”
Wahid lalu menyusul, “Selamat pagi semua!”
Tenacity memandang dengan wajah jijik, “Yo bukankah kalian seharusnya di penjara?”
“Yah seharusnya, tapi seseorang yang sangat dermawan menebus semua denda dan mendatangkan pengacara untuk kami. Dan boom! Kami bebas.”
“Aku tidak percaya,” ucapnya muak.
Dengan enteng Darwin membalas, “Yah aku juga tidak, tapi aku tidak peduli. Yang terpenting kami bawa makanan!” Darwin dan Wahid memamerkan bebek bakar hangat. Mereka sungguh ceria.
Nenek Restu hendak bangun menyajikan tapi Restu berkata, “Biar aku dan Kak Sastry saja yang urus, Nenek duduk saja.”
“Tolong ya Nona manis,” kedip Darwin genit pada Sastry.
Semua hidangan sudah tersaji di tengah kerumunan. Makan besar telah tiba. Darwin sengaja duduk di sebelah Sastry agar bisa merayunya. Dia ambilkan Sastry bebek yang paling besar sebelum direbut Wahid, “Ini untukmu.”
“Sastry tolong ambilkan aku mangkok,” pinta nenek Restu.
Darwin menyerobot, “Biar aku saja ya Nona manis.” Tatapnya sok keren di depan Sastry.
Sastry mencoba tersenyum meski agak sedikit dipaksa.
“Sastry aku mau-“
“Aku saja!”
“Sastry tolong-“
“Biar aku yang urus!” senyumnya tidak pudar di depan Sastry.
Semua sudah dapat makanan kecuali Darwin, dia memulai aksinya lagi. “Aku sudah menyajikan makanan pada semuanya, tapi siapa yang mau menyajikan makanan untukku?” ucapnya manja pada Sastry.
Wahid mengambilkan bebek untuk Darwin tapi dengan cepat ia tolak, “Hush, kau makan saja sana!”
Sastry mengerti, dia ambilkan makanan untuk Darwin. “Ini untukmu,” dia membalas senyum Darwin.
Darwin makin keranjingan. Dadanya berdebar, hatinya begitu senang. Dengan lahap dia makan semua yang disiapkan Sastry.
Tenacity makin jijik, mukanya merah melihat gelagat Darwin terus menggoda Sastry. Nafas dari hidungnya bisa terdengar oleh Restu yang duduk di sampingnya.
Restu berbisik pada Ryou, “Orang di sebelahku ini kenapa?”
“Tidak tahu.”
“Kau kenal?”
“Tidak juga.”
“Lalu kenapa dia ada di rumahku?” Restu mulai gereget.
“Ah biarlah, dia teman lamanya Sastry.”
“Kalau ada apa-apa kau yang tanggung jawab.”
“Loh?”
“Aku tidak mau tahu!”
“Tch iya...”
Darwin makin manja dan makin nakal, makin lama duduknya makin dekat dengan Sastry. Meski agar risi, Sastry membiarkan Darwin dekat dengannya. Dia tak mau menghapus senyum Darwin. Tenacity makan makin cepat. Makannya sudah tidak di kunyah lagi. Dia minum lalu keluar tak tahan melihat Darwin makin menjadi.
Ryou berbisik pada Restu, “Aku rasa dia sakit perut.”
Restu hampir tersedak, “Bodoh!”
Matahari sudah terik, Ryou pergi ke halaman belakang untuk mengambil jaketnya yang sudah kering. Jaketnya kini beraroma jeruk, sedikit aneh untuk pelembut pakaian namun lebih baik daripada parfum perempuan. “Ahh segar, lumayan.”
“Kau suka dengan baunya?” tanya Sastry.
“Yah daripada bau comberan.” Ryou cengar-cengir.
Sastry tersenyum, “Haha kau ini.”
Telepon Ryou berbunyi, raut wajah santainya seketika hilang. Dia pergi tanpa mengatakan apa pun. Sastry ingin tahu dan memutuskan untuk mengikutinya diam-diam. Tenacity melihat gerak-gerik Sastry, dia begitu penasaran kenapa Sastry bisa begitu percaya pada Ryou. Dimatanya, Ryou adalah seorang kriminal dan juga pembunuh yang kejam setelah melihat dirinya mencacah penyihir yang menyerang Sastry malam itu. Tenacity memutuskan untuk mengikuti Sastry.
“Sastry, kenapa kau mengikutinya?” kata Tenacity khawatir.
“Kenapa kau mengikutiku?”
“Aku masih penjagamu. Aku akan melindungimu.”
Sastry terdiam sesaat, “Oh... baiklah kalau begitu.” Senyumnya baik.
“Sastry, jawab pertanyaanku.” Tenacity menggenggam tangan Sastry.
“Aku...” Sastry melepaskan tangannya dari genggam Tenacity lalu kembali mengikuti Ryou dari jauh menggunakan truknya.
Saluran komunikasi dari satelit Kementerian Ketertiban Umum sudah terhubung ke earbuds Ryou. Anita mengarahkan misi yang harus dikerjakannya. David memerintahkan Ryou untuk menyelidiki pola kemunculan para anggota Undernity-Movement di Batul dan mencari tahu apa motif mereka. Dan suspect pertama yang akan dikunjungi Ryou adalah seorang janda tua bernama Hadian.
Saat itu Hadian sedang memasak pesanan orang bersama dengan putrinya. Mereka membuka jasa katering makan siang untuk para buruh pabrik dan ibu rumah tangga sekitar Batul utara. Ryou memantaunya dari jauh. Tak lama kemudian Hadian dan putrinya pergi dengan motor masing-masing mengantarkan pesanan.
“Apa yang dilakukan Ryou? Apa dia orang m***m?” tanya Tenacity.
Sastry tak mau menjawab komentar negatif Tenacity.
Sejauh ini Ryou masih belum bisa memastikan apa yang mencurigakan dari Hadian. Dia hidup normal seperti manusia pada umumnya. Setelah Hadian mengantar pesanannya yang terakhir dia kembali ke rumahnya. Setelah sampai, tak lama kemudian putrinya pun sampai. Ryou tidak mendapatkan satu petunjuk dari penyelidikannya.
“Aku istirahat dulu,” katanya pada Anita. Dia lepas earbuds miliknya lalu menggulung jaketnya untuk dijadikan bantal. Dia tidur di pinggiran jalan teduh.
Tenacity Menyenggol tangan Sastry, “Kau Cuma buang-buang waktu.”
Sastry masih tidak mau berkomentar. Telepon berdering, Jumbo meneleponnya menanyakan kesiapan teater untuk nanti malam. “Tidak usah khawatir, aku sudah siapkan.” Sastry belum menyiapkannya. Sambil menunggu Ryou yang tidur di jalan, dia menyiapkan semua keperluan teater.
Tenacity membantunya menyusun kostum. Sastry tidak keberatan, dia senang Tenacity tidak melupakan teater miliknya setelah bertahun-tahun berpisah. “Kau masih ingat ya?” tanya Sastry sambil menyisir rambut palsu.
“Aku masih bagian dari keluarga kan?”
Sastry mengangguk, dia tersenyum dengan pertanyaan Tenacity.
Matahari senja sudah semakin memerah. Angin dingin mulai terasa dari dalam truk Sastry. Dia melihat Ryou bangun dari tidurnya sambil menjambak rambut. Sudah beberapa kali dia melihat Ryou berlaku seperti itu.
“Kenapa dia?” Tenacity heran.
“Mungkin mimpi buruk.”
Tenacity melirik, dia ingin bertanya namun ia mengurungkan niatnya. “Ayo pulang, Jumbo sudah menunggu.”
Belum lama Sastry menghidupkan truknya, dia melihat Teuron berjalan ke arah rumah Hadian. Sastry melihat ke pinggir jalan dan Ryou sudah tidak ada. “Tunggu...” Sastry memperhatikan dari setir kemudi.
Teuron dengan mantel coklatnya yang berkibar dikibas angin mengetuk pintu. Hadian membuka dengan raut wajah sedih, dia tak senang Teuron datang. Putrinya bersembunyi di balik Hadian, tangannya menggenggam erat baju Hadian.
“Bolehkan aku mampir sebentar?” kata Teuron.
Hadian mempersilahkannya, kemudian dia menutup pintu.
Tak sampai sepuluh menit Teuron keluar. Mata Hadian sembab, pipinya basah, tangannya menggenggam erat jari-jemari putrinya yang makin ketakutan.
Fokus Sastry kini tertuju pada Teuron. Namun ketika dia hendak mengikutinya, ia melihat Ryou mengetuk pintu rumah Hadian. Ketika Hadian membuka pintu, dia langsung menarik Ryou ke dalam rumahnya lalu menutup pintu. Tak lama setelah itu kaca di rumah Hadian memancarkan warna merah terang.
Sastry langsung keluar dari dalam truknya, dia ingin tahu apa yang terjadi. Dari balik jendela Sastry melihat Ryou mengeluarkan api dari tangannya. Dia sedang bertarung melawan monster. Topeng api miliknya sudah kembali. Tenacity terkejut mengetahui Ryou memiliki dua topeng. “Orang itu!”
Ryou hampir menang, monster itu tergeletak sudah hangus terbakar. Rumah Hadian berantakan akibat pertarungan keduanya. Dia melangkah maju melindungi monster itu sambil menangis tersedu-sedu. “Kumohon jangan bunuh putriku. Aku hancur tanpa dirinya.”
Hadian menceritakan semua yang diinginkan Ryou. Hadian dan putrinya terpaksa memberi racun di salah satu pesanan pelanggannya tiap minggu sebagai bayaran untuk keahlian memasak yang dimiliki putrinya. Berkat kekuatan iblis, masakannya jadi sangat lezat dan dagangannya jadi laris. Namun hal itu memiliki konsekuensi, iblis yang datang dari dimensi lain itu akan mengambil alih raga putrinya jika Hadian tidak membunuh seseorang setiap satu minggu.
Hari ini adalah hari terakhir Hadian punya kesempatan untuk memperpanjang kontraknya dengan iblis. Tetapi dirinya tak bisa terus menerus membunuh orang tidak bersalah. Hingga pada akhirnya ketua dari Undernity-Movement memberi Hadian kesempatan terakhir sebelum larut malam tiba. “Aku menyesal telah mengikuti ajaran Undernity-Movement.” Pungkas Hadian bercucuran air mata.
“Tidak mungkin!” Sastry tak menyangka, hatinya tak kuasa mendengar.
Ryou berkata, “Akan kubantu kau dan putrimu lepas dari kutukan ini.” Dia mengulurkan tangan.
Hati Sastry lega, “Kau lihat, Ryou itu orang baik,” Sastry menatap Tenacity agar dia percaya.
“Kau salah,” jawab Tenacity serius sambil memandang sinar merah yang berpijar ke mata.
Hadian dibakar hidup-hidup setelah berjabat tangan dengan Ryou. Dengan membunuhnya, Ryou berhasil mengakhiri derita Hadian. Kini tak ada yang menghalanginya membunuh putri Hadian.
Sastry langsung keluar dari persembunyiannya, “Ryou!” jeritnya tak kuasa.
Ryou menoleh, secepat kilat putri Hadian yang sudah menjadi monster hilang. Ryou mengacuhkan Sastry lalu pergi mengejar monster itu.
“Akan ku kejar dia.” Tenacity berlari mengejar Ryou meninggalkan jejak air dingin di sekitarnya.
Sastry mencoba menyelamatkan Hadian, “Bertahanlah!” dia menggoyang-goyangkan tubuh Hadian yang hangus. “Kumohon...” air mata Sastry terjatuh ke tubuh Hadian, kesedihannya tak bisa lagi dibendung. Sastry memegang erat kedua tangan Hadian dan membawanya ke dalam dekapannya.
Jari-jemari Hadian perlahan bergerak, dia masih bisa bertahan. “Aku...”
“Luar biasa Nona.” Tiba-tiba Teuron ada di belakang Sastry.
Sastry terkejut, dia mencoba melindungi Hadian, “Siapa kau?”
Wanita berjubah hitam yang menyerang Sastry di pasar dermaga ada di samping Teuron. Dari dalam jubah panjangnya, tangan Wanita itu mencekik Sastry dengan kuat hingga pingsan. Sastry kemudian dibawa pergi olehnya.
Tubuh Hadian perlahan terkikis menjadi abu, terbang terbawa angin mulai dari kepala hingga ke jari tangannya.
Ryou berhasil membakar monster itu, kini jasadnya sudah hancur menjadi abu. Tenacity tak membiarkannya pergi begitu saja. “Jangan lari!” pedang birunya begitu basah, dirinya sudah tak tahan ingin melampiaskan kekesalannya pada Ryou.
“Oh kau lagi, mau apa?”
“Sastry tidak akan melihat jika aku menyerangmu dengan cepat!” Tenacity melesat, tiap langkahnya meninggalkan jejak es. Pedang di tangannya amat sangat dingin.
Ryou melawan kali ini, api berkobar membakar Tenacity namun dia memadamkannya dengan air dingin dari pedangnya. Ryou menghindar, dia masih mencoba menahan diri untuk tidak mengganti topengnya dengan topeng kegelapan. kekuatan topeng hitam selalu di luar kendalinya tidak seperti topeng api yang terkadang masih sanggup ia bendung. Dari dalam jiwanya Ryou mengeluarkan pedang permata merah penuh kobaran api. Dia kembali melawan.
Tenacity menyerang Ryou namun dia kalah cepat. Ryou begitu lincah, kaki dan tangannya menari serasi bersama pedang merah itu. Dengan sihirnya Tenacity membekukan kaki Ryou supaya tidak menghindari serangannya. Dia tebaskan pedangnya, Ryou menangkis namun ayunan pedang Tenacity begitu kuat sehingga Ryou mental.
Dari dalam pedang bermata biru, muncul spirit naga air bernama Daedalus. “Ayo kita selesaikan!” Tenacity bersama Daedalus menebaskan tebasan air pembeku. Ryou terperangkap di dalam bongkahan es dan tak bisa lagi melawan.
Meski amarah dan kebencian sudah berada di puncak, Tenacity tidak menebaskan pedangnya untuk mengakhiri hidup Ryou. Dia sarungkan kembali pedangnya. “Jangan lagi dekati Sastry!”
“Tenacity!” Sahut jelmaan Sastry dari kejauhan, dia lari pergi dan menghilang.
“Tunggu Sastry aku bisa jelaskan!”
Es di sekujur tubuh Ryou mencair ketika Tenacity pergi. Ryou terjatuh, tubuhnya mengigil karena kekuatan topeng biru Tenacity. Dia tak mau mempermasalahkannya. Ryou melapor pada Anita bahwa misinya sudah selesai.
Tenacity mencari Sastry namun dia tak menemukannya di rumah Hadian. Dia menyesal telah mengambil langkah keliru ketika meninggalkan Sastry.
Ryou berjalan menyusuri senja yang mulai malam meski bajunya basah kuyup. Angin malam semakin membuat tulang ngilu dan membeku. Tetapi hal itu tidak masalah bagi Ryou, dia tetap melanjutkan kebiasaannya tanpa tahu kapan harus berhenti. Hingga suatu ketika dia menemukan truk Sastry terparkir di dekat rumah Hadian. Ryou sebenarnya tahu Sastry membuntutinya namun sebisa mungkin dirinya membuat semua seperti biasa-biasa saja. Dia masuk ke dalam truk dan melihat perlengkapan teater sudah siap. Gadis itu menghilang, dia tahu. Ryou sekarang punya alasan untuk berhenti menyusuri malam dan mulai memikirkan Sastry.
Sastry terbangun dari tidurnya. Kepalanya pusing setelah tak sadarkan diri beberapa waktu. Dia melihat sekeliling dan tersadar saat ini sedang berada di dalam kamar mandi bekas bersama seorang pria dengan wajah tersungkur ke tanah. Aroma tak sedap mulai tercium, Sastry menahan diri agar isi perutnya tidak meledak.
“Hey, kau tak apa?” Sastry membangunkannya.
Pria itu adalah Teuron. Dia bangun sambil pura-pura sakit. “Ibu Hadian... aku harus menyelamatkannya.”
“Apa yang terjadi padanya?” Sastry mengingat kejadian terakhir sebelum dia diserang.
“Nanti saja tanyanya, lebih baik kita mencari jalan keluar terlebih dahulu.”
Teuron mendobrak pintu kamar mandi itu, mereka keluar dengan pemandangan yang amat buruk. Banyak sekali mayat-mayat bertaburan. Sastry semakin pusing, dia sempoyongan melihat organ dalam tubuh berantakan. Teuron memanggul Sastry untuk bisa keluar dari tempat mengerikan itu.
Mereka keluar dari kamar mandi SPBU tua tak jauh dari rumah Hadian. Tempat itu sudah dimakan zaman karena bensin sudah tidak lagi dipakai. Sastry merasa baikkan setelah berhenti menghirup aroma mengerikan mayat, dia berterima kasih pada Teuron karena telah menyelamatkannya.
“Namamu Teuron kan?”
“Iya benar, dan kau pasti Sastry?”
“Apa yang terjadi pada kita?”
“Saat itu aku ingin menyelamatkan ibu Hadian, tetapi penyihir bertopeng itu muncul dan menyerang kita.”
“Kenapa kita masih hidup?”
“Aku tak tahu, aku juga tak sadarkan diri saat dibawa kesini.”
Sastry berpikir, itulah mengapa Ryou tidak mati saat diterkam ular di dermaga Batul. Menurutnya penyihir itu mengampuni Ryou. Sama seperti dirinya saat ini.
“Kita harus bergegas, Mungkin ibu Hadian masih bisa diselamatkan.”
Sastry terkejut dengan optimisme Teuron. Sangat sulit untuk menemukan seorang dengan jiwa baik sepertinya. Dia mengangguk dan bergegas kembali ke rumah ibu Hadian mengikuti Teuron walau dirinya tahu kesempatan ibu Hadian masih hidup sangat minim.
Teuron meninju tanah ketika melihat sisa abu berserakan di lantai. Kematian ibu Hadian sudah dipastikan. Sastry bersedih, dia tak percaya Ryou bisa berbuat keji seperti itu. Tetapi ada sesuatu yang masih mengganjal hati Sastry.
“Teuron, kenapa kau memaksakan diri menyelamatkan ibu Hadian? Kematiannya bukan sesuatu yang mengejutkan bukan?”
“Aku tahu tapi ibu Hadian sangat membutuhkan bantuan, aku tidak bisa berdiam diri selagi masih ada kesempatan.”
“Tapi... Ibu Hadian bilang Undernity-Movement yang membuat dirinya sengsara.”
“Kau salah persepsi. Mungkin sulit dipercayai tapi aku akan tunjukkan kalau Undernity-Movement tidak seperti yang kau bayangkan.” Teuron diam-diam menggunakan sihirnya untuk menghambat laju darah Sastry. Jarinya bermain di belakang punggung, bibirnya bergumam membaca mantra di balik pandangan Sastry.
“Aku...” Sastry terjatuh, dia kesulitan bernafas. Tubuhnya lemah kekurangan oksigen akibat aliran darahnya terhambat. “Tolong aku.”
Teuron memeluknya, “Kau kenapa?” dia pura-pura cemas.
“Dadaku sesak sekali,” pandangan mata Sastry berkunang-kunang.
Teuron melepas mantelnya dan memakaikannya ke badan Sastry, “Bertahanlah!” dia menelepon anak buahnya untuk segera mengantar Sastry ke dokter.
“Mau ke mana kita?” tanya Sastry menyender lemas sambil melihat gelapnya kota Batul dari balik kaca mobil Teuron.
“Tidak usah khawatir, biar aku saja yang mengurusnya,” katanya menyeringai.
Sastry kini berada di ruang kesehatan menara pencakar langit tempat Teuron bekerja. Setelah diperiksa, dokter mengatakan kalau Sastry hanya mengalami kelelahan. Teuron kembali memainkan sihirnya, dia pulihkan aliran darah Sastry perlahan. Dia kemudian mengajak Sastry untuk makan malam di kantornya.
Keduanya berjalan menuju aula besar di mana Teuron dan Karin sering makan malam bersama. Lokasi aula itu cukup membingungkan, liku-liku jalan menuju ke sana mengherankan Sastry. “Tempat ini unik.”
Tembok bergeser membuka pintu rahasia aula, Sastry melihat ruangan besar serba merah. Tembok dan lantainya semerah anggur. Meja panjang penuh hidangan mewah berada di tengah-tengah ruangan, menggugah selera makan Sastry. Tiang lilin di ruangan itu terbuat emas, dengan lilin merah yang mengharumi ruangan dengan aroma mawar. Sastry terkesan dengan kemewahan aula kantor Teuron.
Gesture Teuron amatlah sempurna. Dia lepas dan taruh mantel coklat dari tubuh Sastry. Lalu dia menarik kursi untuk Sastry, dengan senyum dia mempersilahkannya duduk. Teuron menyingkirkan anggur di meja, “Maaf, tapi kau harus sehat terlebih dahulu.” Digantinya anggur itu dengan jus alpukat manis dan segar.
Teuron mempersilahkan Sastry untuk menyantap hidangan yang ada di mejanya. Dia kemudian duduk dan menatap mata Sastry tak berkedip, “Bagaimana hidangannya?”
“Sangat enak, maaf merepotkan.” Sastry merasa sudah baikkan. Lidahnya dimanjakan dengan hidangan lezat. Api hangat dan penghangat ruangan membuat suasanya semakin khidmat. Alunan musik syahdu menari di gendang telinga. Kesegaran Sastry mulai kembali.
Tanpa memalingkan pandangan Teuron tersenyum, “Aku senang bisa membantu.”
“Tempat ini begitu mengesankan, apa ada hubungannya dengan menjadi anggota Undernity-Movement?” Mulai muncul pertanyaan di benak Sastry.
“Kebetulan aku adalah direktur Bank PayKuzech. Dan Undernity-Movement yang membuatku mampu melangkah hingga ke puncak gedung ini.”
“Seperti yang dikatakan di brosur, aku ingin tahu apakah kau menjual jiwamu pada iblis?”
“Apa itu masalah? Selama aku bisa menolong orang lain aku tak apa.”
“Ehmp iya,” jawab Sastry tidak puas.
Teuron tersenyum, “Bukankah kita harus berkorban? Aku tak apa jika harus menanggung beban selama aku bisa memberi lebih.” Dia tak mau topik pembicaraan terlalu dalam, “Oh iya, aku ingin tahu seperti apa dirimu?”
Setelah beberapa saat saling mengenal, Seorang wanita dengan rambut merah masuk menginterupsi keduanya. Sastry bertanya siapa wanita itu.
“Namanya Karin Ravielle. Dia wanita hebat, sudah menjadi tangan kanan ketua Undernity-Movement hampir tiga tahun.”
Sastry melambaikan tangan, “Hai namaku Sastry Adrysachmy, salam kenal.”
Karin tak membalas. Dia hanya dia menatap dengan tatapan kosong dari balik rambut panjang merahnya. Teuron bangun dari kursinya, dia menepuk pundak Karin, “Sabar ya, tolong tunggu aku tujuh menit lagi.”
Sastry jadi canggung, senyumnya mulai tidak nyaman. “Kurasa aku harus pulang, malam sudah semakin larut.”
“Sebentar, sopirku akan mengantarmu pulang.” Dia memanggil sopirnya untuk menuntun Sastry keluar dari aula itu dan mengantarnya kembali ke Batul. setelah Sastry pergi, Teuron lega harus menyudahi kepura-puraannya.
“Kenapa kau dekati dia?” tanya Karin, dia tampak geram.
“Wanita itu akan menjadi rekan yang sangat menguntungkan. Dua pria dengan kekuatan topeng terlihat sangat dekat dengannya. Kita bisa memanfaatkannya untuk menjebak mereka.”
Karin tak peduli. Dirinya mulai bergetar. Dia sudah tak tahan menginginkan ritual yang biasanya dia lakukan bersama Teuron.
“Tidak usah khawatir, biar aku saja yang mengurusnya.”