Part 4: Ritual di Tengah Aula

1072 Kata
Sastry diantar kembali ke tempat di mana dia memarkirkan truknya. Dia masuk ke dalam dan disambut dengan Ryou yang terbangun dari tidur pulasnya. “Aku tahu kau pasti kembali,” kata Ryou sambil menggaruk kepalanya. “Bagaimana kau bisa yakin?” “Kau menyelamatkanku dua kali, jadi aku tidak meragukanmu,” kata Ryou bercanda. Sastry tersenyum, dia tersanjung dengan pujian Ryou, “Ah kau ini,” pukulnya manja. Sastry lalu menceritakan apa yang terjadi padanya. Dan yang menarik perhatian Ryou adalah ketika Sastry menyebut nama Karin dalam ceritanya. “Iya dia tidak banyak bicara, tapi sepertinya dia orang baik,” pungkas Sastry.   Setelah Sastry pergi dari aula, Teuron segera menggoreskan pisau ke jempolnya hingga mengucurkan darah. Kemudian darah tersebut dioleskan ke pipi Karin di kiri dan kanan. Karin merintih kesakitan, pipinya melepuh lalu terkikis mengeluarkan butiran pasir. “Biarkan itu mengering.” Teuron kemudian mengambil beberapa alat ritual lainnya dari dalam lemari di sebelah timur aula. Ia kembali kemudian meletakkan sembilan lilin dan delapan tengkorak manusia di sekitar Karin. Lalu ia menggambar sebuah lingkaran dengan darah dari jempolnya. Terbentuklah sebuah lingkaran kegelapan yang terbuat dari darah seorang penyihir darah. Darah merupakan esensi yang amat sakral dalam sihir. Banyak yang mati kehabisan darahnya sendiri ketika mencoba mengendalikan darah. Hanya penyihir darah yang mampu menguasainya. Dan kali ini Teuron akan menggunakannya untuk membuat Karin tenang. Sebab jiwa Karin yang begitu liar dan brutal bisa dijinakkan dengan mengendalikan darahnya. Teuron merantai kaki dan tangan Karin ke lantai dengan kencang. “Sabar ya, sebentar lagi,” sahutnya. Karin sudah tak tahan untuk mendapatkan perlakuan khusus itu, hatinya mulai berpacu. Persiapan Teuron sudah selesai, lalu Teuron mulai melakukan tugasnya untuk menjalankan ritual. Ia buka baju Karin dengan menarik tali di punggung Karin yang terikat di bajunya. Setelah baju Karin jatuh ke lantai, ia goreskan pisau yang ada di tangannya ke badan putih bersih Karin. Perih terasa ketika besi dingin itu menari di badannya. Luka Karin kini mengeluarkan darah dan tak lagi mengeluarkan pasir karena Teuron telah mengendalikan laju darahnya. Sihir Karin kini ada di dalam genggaman Teuron. Teuron mengukir gambar-gambar mistis di badan Karin, darah Karin mulai bercucuran “Kau menyukainya?” tanya Teuron. Karin memejamkan matanya, ia menahan perih di sekujur tubuhnya. “Aku suka ekspresi wajahmu,” Teuron memuji. Lalu ia menambahkan luka Karin dengan mengukir gambar di lengan kiri dan kanan. Karin kembali membuka matanya, ia melihat tubuhnya sudah dipenuhi ukiran-ukiran mistis. Kini Karin menyaksikan betapa lihainya Teuron menggambar di tangan kanannya. Tubuhnya gemetaran, dirinya berkeringat, Karin mulai gugup. “Tenang Karin,” kata Teuron sambil mengelus-elus rambut merah Karin, ia lalu melanjutkan perkerjaannya. Kini Teuron menaikkan rok yang Karin pakai ke atas dan menurunkan stoking yang membalut paha Karin ke bawah. Ia mengukir di kedua kaki Karin. Teuron berdiri dan melihat hasil karyanya yang ia banggakan. “Jangan menangis,” ucap Teuron lemah lembut membasuh air mata yang jatuh di pipi Karin. Teuron mengambil selembar tisu untuk mengelap air mata Karin, kemudian ia mengukir kembali gambar-gambar di wajah Karin. Ia merintih kesakitan, pisau yang menggores wajahnya bisa ia rasakan masuk perlahan menembus pipinya yang lembut. “Sempurna!” Teuron selesai menggambar di seluruh bagian tubuh Karin. Teuron lalu keluar dari dalam lingkaran itu, “Kau sudah siap?” ia bertanya. Karin mengangguk, ia sudah siap mendapatkan perlakuan khusus yang dijanjikan. Teuron mulai mengucap kata mantra kegelapan untuk memberikan Karin rasa sakit. Darah yang menetes dari ukiran-ukiran yang ada di tubuh Karin perlahan mengucur semakin deras seirama dengan bacaan mantra Teuron. Lilin satu persatu menyala sendiri, semakin lama semakin membara. Dan Karin semakin lama semakin kesakitan, perih di sekujur tubuhnya makin menjadi. Teuron menguatkan bacaan mantranya, mengangkat kedua tangannya dan mempercepat ucapannya. Karin berteriak, rasa sakitnya bukan main, “Aaaahhh!” ia memberontak. Teuron lalu menyayat tangannya lagi untuk menambah darah yang ada di dalam lingkaran itu lalu membaca mantra makin kuat dan cepat. Rasa perih sudah tak tertahan lagi oleh Karin, ia teriak semakin menjadi “Aaahh! Aaahhhhhh! Lagi! Lagiiii!" Teuron lalu mengerahkan seluruh kemampuannya. Iblis bermunculan dari dalam tengkorak yang ia letakkan di sekitar lingkaran dan ikut membacakan mantra untuk menyakiti Karin. Membakar darahnya hingga mendidih dengan mantra hingga Karin lemah tak berdaya. sakit yang dirasakan Karin sudah tak terbayang, ia bahkan tak sanggup untuk membuka mata. Ia terkapar di lantai menikmati rasa sakit yang Teuron berikan padanya. “Terima kasih Teuron,” Karin tersenyum kecil. Ia berterima kasih atas semua rasa sakit yang telah diberikan.   Ryou dan Sastry masih berduaan di dalam truk. Kini Ryou berbalik menceritakan apa yang telah ia lewati. Curahan hatinya tentang mimpi buruknya didengar dengan seksama oleh Sastry. Dia katakan betapa mengerikan rasanya mimpi itu ketika Ryou sedang diinterogasi David. “Yah tapi tak apa, itu Cuma mimpi kok,” Ryou mencoba tidak membuat Sastry khawatir dan tak mau Sastry terlibat ke dalam permainan David. Sastry tak membiarkan Ryou bekerja sendiri, dia ingin membantu. “Aku belum cukup baik untuk menebar senyum di sini. Aku harus lebih kuat sepertimu. Jadi tolong izinkan aku menyelidiki Undernity-Movement bersamamu!” Ryou menoleh mendengarnya, “Kau bercanda kan?” “Aku bersungguh-sungguh,” Sastry serius. “Tidak boleh.” Sastry mengerti maksud Ryou, “Aku tahu. Tapi setidaknya biarkan aku membantumu menjaga sikapmu yang tiba-tiba berubah. Melihat apa yang kau lakukan pada ibu Hadian, aku tak bisa membiarkannya.” “Lupakan, kau tak kan mampu.” “Apa salahnya mencoba bukan?” “Tidak.” Ryou keluar dari truk, dia pergi meninggalkan Sastry. Sastry menarik tangan Ryou, dia bersikeras, “Ryou tunggu!” “Pergilah, kau sudah lihat sendiri betapa mengerikan tempat ini.” “Tapi aku tidak bisa membiarkannya, aku harus berusaha!” “Dengar, penyihir pasir yang sempat menyerangmu adalah anggota Undernity-Movement. Dia sendiri sudah bisa menghancurkan kota dalam satu siang, apalagi satu komplotan. Jadi tolong jangan bertindak konyol dan segera pergi dari kota ini.” “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pergi meninggalkan kota ini sampai aku bisa membantu seseorang di sini.” “Kau sudah cukup membantu, sekarang pergilah.” “Tidak! Tidak sampai aku bisa mengubah sifatmu! Aku ingin membantumu...” “Mungkin kau sudah mendengarnya dari Restu tapi jawabanku tidak akan berubah. Sudah menjadi kebiasaanku untuk membunuh. Instingku memang dilatih untuk itu dan aku tak bisa mengelak dari takdir.” Sastry terdiam dan membuang muka, dia kecewa dengan Ryou lalu masuk ke dalam truknya. “Sudah kubilang kau tidak seharusnya datang kemari.” Ryou kembali ke dalam truk untuk mengantar Sastry ke rumah Restu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN