Tenacity baru saja menghajar puluhan roh dan mengirim mereka kembali ke dimensinya setelah semalaman gagal menemukan Sastry. Dia kembali ke rumah Restu namun Sastry tetap tidak ada di sana. Jumbo berkata kalau Tenacity tidak perlu khawatir karena Sastry adalah wanita tangguh, dia pasti akan kembali.
“Yo Jumbo, kusarankan dirimu segera membawa Sastry pergi dari sini. Tidak baik untuk Sastry jika dia berteman dengan kriminal. Apalagi harus berteman dengan Ryou. b******n itu tak kan kubiarkan menyentuh Sastry!”
“Aku juga kurang suka dengannya tapi Sastry sendiri yang memutuskan. Lagi pula sikapmu pada Ryou sedikit berlebihan. Maksudku tempat ini begitu mencekam, wajar kalau orang Batul sifatnya keras.”
Tak lama kemudian truk Sastry tampak melesat di ujung jalan. Ryou keluar dari mobil itu dan langsung masuk ke dalam rumah Restu. Tenacity menghadangnya, “Hoy di mana Sastry!” ucapnya sambil menarik kerah baju Ryou. Jempol Ryou menunjuk ke arah truk, “Dia ada di dalam, tolong jangan diganggu.” Ryou melepaskan kerah bajunya dari tangan Tenacity dan pergi.
Hari baru kembali dimulai. Amat sangat awal Restu terbangun karena suara gaduh di dapur. Neneknya dan Sastry sedang masak bersama. Restu mengambil segelas air dan menyempatkan diri untuk mengungkapkan perasaannya sebelum banyak orang mendengar karena rumahnya kini sangat penuh dengan orang-orang yang menumpang.
“Nek maaf kalau terlalu dini diriku harus mengeluh, tapi bisakah kau meminta kak Sastry atau Ryou untuk mengusir bajak laut itu dari rumah kita? Dia begitu mengerikan dan mencurigakan, aku takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi di sini.”
Sambil membersihkan sayuran neneknya menjawab, “Sastry yang begitu sensitif saja memercayainya, benar kan Sastry?”
“Iya, Tenacity memang keras tetapi hatinya begitu lembut,” jawab Sastry dengan senyum khasnya yang mulai dikenali.
“Tapi nek... jangan mudah percaya sama orang lah, kita tahu tempat ini bukan tempat yang tepat untuk mudah percaya sama orang.” Restu tak puas.
“Orang dewasa tidak seharusnya menilai seseorang dari penampilannya, benar kan Sastry?”
Sastry mengangguk, dia senang dengan cara nenek Restu mengajari cucu kesayangannya.
“Aaih terserah lah, yang penting aku sudah bilang.” Restu kembali ke kamarnya.
Matahari sudah mulai panas, nenek Restu sudah kembali bekerja di pabrik. Ryou dan temannya kini bersantai seperti biasa berlari dari kenyataan pahit mereka dengan video game di genggaman. Tenacity bersama dengan Sastry dan rekannya sedang mendengar gebrakan besar yang akan dibuat Sastry. Dari balik kaca Tenacity memandangi Ryou yang asyik bermain ponsel, dirinya jijik melihat orang dengan kekuatan besar sepertinya hanya bermalas-malasan dan berpura-pura. “Munafik sekali.”
Sastry telah membulatkan tekadnya, dia katakan pada Jumbo dan yang lainnya kalau dia ingin menyudahi teater jalanannya. Mereka terkejut dan kecewa, merasa ada sesuatu yang salah dengan Sastry.
“Jangan kecewa, karena mulai saat ini kita akan memulai usaha baru!” Sastry ingin kelompok Teater yang berjumlah enam orang itu berganti profesi menjadi konsultan.
Jumbo mengangkat tangannya, “Apa itu konsultan?”
Darwin berhenti bermain ketika mendengar Sastry berbicara di depan rekannya begitu semangat. Dia keluar untuk memandangi gadis pujaan hatinya sedang berapi-api. Tenacity mendorong Darwin masuk kembali ke dalam rumah, “Ini rapat internal!” Darwin kesal dengan Tenacity yang berlagak melindungi, dia kembali duduk bermain dan berkata pada Restu, “Ya kau benar, bajak laut itu sangat menjengkelkan.”
Sastry menjawab pertanyaan Jumbo. Dia ingin rekannya mulai saat ini membantu orang-orang Batul secara langsung untuk mendapatkan hasil yang lebih tepat sasaran. “Jika mereka tidak bisa tersenyum dengan teater, kita akan jadikan kehidupan mereka teater. Dan di sini peran penting kalian sebagai konsultan dibutuhkan untuk mengarahkan mereka menuju alur cerita kebahagiaan.”
Sastry dan rekannya mulai mengunjungi tempat umum seperti pasar dan rumah makan untuk menawarkan jasa konsultan. Tenacity memperhatikan Sastry dari jauh, dia selalu menjaganya dan tak ingin sesuatu terjadi padanya. Senyum Sastry masih cerah, bersinar terang seperti terik matahari.
Sastry membasuh keringatnya, dia masuk ke toko seseorang. Tawaran jasa konsultannya ditolak mentah-mentah. Dia dicaci dan dikatai oleh orang-orang. “Mau apa kau mengurusi kehidupanku, dasar orang aneh!” komentar salah seorang yang menolak.
Sastry tidak mau menyerah meski bajunya sudah basah penuh keringat. Di sana dia bertemu lagi dengan Teuron.
“Hai Sastry,” Teuron menyapa dengan hangat.
Sastry tersenyum, dia menjawab sapaan Teuron kemudian menawarkan jasa konsultan padanya.
“Konsultan?” Teuron terkesan, “Itu luar biasa!”
“Benarkah? Sudah kuduga ide ini cemerlang!” Sastry jadi semangat.
“Sudah berapa orang yang kau bantu?” tanya Teuron.
“Anu kalau itu aku... hmm...”
Teuron tersenyum, “Ayo kita cari client.”
“Kita? Maksudmu kau mau membantu?” dia menganga.
“Tentu saja, ayo!” dengan senyum Teuron membantu.
Energi Sastry sesaat terisi kembali, dia mengangguk lalu kembali melanjutkan usahanya. Teuron mengatakan dia tahu siapa saja yang membutuhkan bantuan. Daripada mengunjungi tempat-tempat umum di mana orang tidak ingin diganggu, Teuron mengusulkan Sastry dan rekannya untuk mengunjungi rumah orang yang kurang beruntung. Kehadiran mereka dirasa akan sangat membantu, setidaknya memberikan hiburan di tengah hampanya Batul.
Di belakang Sastry, Jumbo mendengar keluhan teman-temannya yang mengatakan Sastry semakin hari semakin kehilangan akal. Mereka bingung kenapa harus menjadi seorang pembantu dadakan yang dilabeli sebagai konsultan. Tetapi Jumbo menjelaskan bahwa tujuan Sastry baik. Menurutnya hal seperti itu sangat diperlukan untuk meringankan beban orang-orang Batul sehingga mereka bisa mulai terbebas dari gundukan awan hitam yang menutupi senyum.
Ketika Teuron mengetuk pintu bersama Sastry, ibu pemilik rumah menyambut Sastry dengan baik. Dia menerima tawaran Sastry dan mempersilahkannya masuk. Sastry dan rekannya mulai memainkan permainan teater sederhana untuk menghibur.
Beberapa saat setelah semua pekerjaan selesai, Ibu bernama Jasmine itu bercerita tentang kehidupannya yang berada di ujung tanduk. Saat ini dirinya terlilit hutang jutaan BP dan sudah dua kali dirinya didatangi penagih hutang. “Jika aku tidak bisa membayar aku akan dibunuh dan organku akan dijual.” Sastry bingung harus berbuat apa, tidak mungkin dirinya memiliki uang sebanyak itu. Tidak juga dirinya mempunyai solusi dari permasalahan Jasmine. Teuron memulai kampanyenya sembari membantu Sastry.
“Bergabunglah dengan Undernity-Movement.” Senyum Teuron hangat.
Sastry tak bisa menghentikan Teuron, dia sudah membantunya dan merasa tak enak hati jika harus melarang Teuron berpromosi. Jasmine membaca kembali selebaran di meja yang sebelumnya ia dapat ketika pergi ke pasar, dia bingung apakah menjual jiwanya pada iblis adalah jalan tepat.
“Saya dulu dilema seperti Ibu, tapi sekarang saya yakin sedikit pengorbanan adalah jawaban tepat. Kita tidak bisa berkeras diri memandang sihir sebagai hal negatif, kita bisa manfaatkan untuk kebaikan. Benar kan Sastry?” tanya Teuron tak disangka.
Mata Sastry terbuka lebar, Teuron sengaja bertanya di saat yang sangat tidak tepat pada Sastry. Dia tak mau mengacaukan usaha Teuron, “Iya, aku tak apa berkorban demi kebaikan.”
Jasmine tergoda dengan janji Teuron, dia bersedia menandatangani kontrak kegelapan. Sastry ingin sekali menghentikannya namun dirinya tak enak hati. Bukan haknya untuk menentukan benar atau salah karena Sastry pun tidak begitu yakin sudah benarkah dirinya saat ini.
Sastry mulai penasaran setelah Jasmine menandatangani kontrak. Dia ingin tahu apa yang terjadi tetapi dia tidak menyaksikan apa pun. Tak ada kejadian aneh terjadi setelahnya.
“Ayo Sastry, saatnya kita membantu orang lain lagi,” ajak Teuron pamit pada Jasmine.
Sebelum Sastry mengetuk rumah selanjutnya, dia bertanya apa yang akan terjadi pada Jasmine.
“Roh akan menuntunnya menuju titik potensi tertinggi Jasmine. Aku berani jamin minggu depan Jasmine sudah memiliki uang untuk membayar hutang.”
“Tapi, apa yang akan dilakukannya? Apa risiko dari kontrak kegelapan?”
“Tidakkah Jasmine senang dengan kontraknya? Itu senyum seorang yang putus asa, senyumnya asli setelah melihat harapan di tengah kebuntuan. Benar kan?”
Sastry memandangi debu di jalan, “... Iya benar.”
Hari pertama Sastry menjadi seorang konsultan cukup menjanjikan setelah Teuron datang membantu. Senyum yang diterimanya benar asli rupanya. Orang-orang yang putus asa itu kini memiliki harapan setalah sekian lama terbentur nasib keras. Sebelum Sastry menyudahi pekerjaannya karena hari hampir petang, dia melihat seorang bapak tua sedang memakan makanan sisa di kotak sampah. Sastry menghampirinya dan memberikan bapak itu makanan. Dia mendengarkan masalah bapak itu kenapa dirinya menjadi gelandangan.
“Andai saja aku kembali ke takhtaku, akan kubalas semua!” dia adalah seorang pengusaha kelas menengah yang difitnah mendukung gerakan revolusi Batul. Pemerintah menyita seluruh aset miliknya dan membuangnya di tengah huru-hara perang sipil.
Sastry menyemangatinya. Dia berharap pak tua itu mau memaafkan dan melupakan semua dendam di hati namun dia menolak. Gejolak di jiwanya sudah meresap, kebenciannya terhadap orang Batul mengakar kuat di hati layunya. “Beruntung kalian bukan orang asli Batul, kalau tidak sudah kucincang kalian!”
Sastry betanya pada Teuron apa yang harus dilakukan untuk membantu pak tua itu. Teuron menggelengkan kepala, “Kita sudah selesai di sini.” Dia mengajak Sastry pergi.
“Kenapa tidak kau berikan kontrak itu?”
Teuron menjawab dengan halus, “Aku hanya memilih orang yang tepat. Bapak tadi sudah busuk hatinya dan tidak pantas dibantu, dia hanya akan menambah masalah.”
“Tapi kan dia juga butuh bantuan.”
“Terkadang bantuan terbaik adalah dengan tidak membantu, jika dia menerima kontrak itu maka akan ada banyak pertumpahan darah. Dia akan menyalahgunakan kekuatannya.”
“... Mungkin ada benarnya.”
Angin mulai berhembus kencang di sore senja Sastry sebagai konsultan. Pasir dan debu beterbangan membuat mata kelilipan. Dari gang sempit Sastry dan Teuron dikejutkan dengan seorang yang tiba-tiba terkikis dan hancur menjadi gundukan pasir.
“Gawat! Kita harus segera pergi!” Teuron menarik tangan Sastry.
“Apakah penyihir itu?” feeling Sastry tak enak.
“Benar!”
Karin muncul di tengah jalan. Dia datang bersama badai pasir yang semakin pekat. Gemuruh angin menyulitkan Sastry melihat, dia mulai ketakutan. Karin melemparkan bebatuan ke arah Sastry. Teuron menyelamatkannya, dengan sihirnya dia memanggil roh berwujud pari untuk melindungi Sastry dan dirinya.
Tenacity keluar dari persembunyiannya, dengan pedangnya dia menebas bahu Karin. Lengan kiri Karin putus, tergeletak di tanah dan berubah menjadi pasir. Tak lama kemudian pasir-pasir yang melayang menempel di bahu kiri Karin menciptakan tangan yang sama seperti sebelumnya. Karin tidak mempan ditebas.
Teuron memanfaatkan kesempatannya untuk pergi menyelamatkan Sastry. Aktingnya sungguh sempurna sehingga Sastry percaya begitu saja dengan semua gelagat Teuron. Padahal Teuron sengaja memerintahkan Karin untuk menyerangnya, semua sudah di-setting sesuai rencana.
Kini jalanan itu hanya ada Karin dan Tenacity. Topeng coklat milik Karin membuat Tenacity semakin b*******h, dia tak akan membiarkan seseorang dengan kekuatan besar berbuat buruk. Pedangnya tidak bisa basah, debu dan pasir menyerap air di pedangnya. Kekuatannya tidak sempurna jika air di pedangnya tidak banjir.
Tenacity melesat, dengan sekuat tenaga dia menerjang badai. Ayunan pedangnya berkali-kali menusuk Karin, namun lagi-lagi tubuh Karin kembali ke wujud semula ketika pasir membentuk ulang tubuhnya. Karin membalas, Tenacity ditarik bumi dengan tenaga gravitasi. Tenacity berusaha lepas dari tarikan bumi, Karin dengan cepat meluncurkan batu dan meremukkan tubuh Tenacity.
Karin menyukainya, dia bisa merasakan rasa sakit yang Tenacity rasakan. Gairahnya mulai naik, dia ingin merasakan sakit yang lebih perih dari ini. “Kepedihan!”
Tenacity kembali bangkit, dia meraih ponselnya dan meminta bantuan dari anak kapalnya. “Yo pelaut cepat kemari!” Dia angkat pedangnya lalu dikebaskan untuk membersihkan debu dan pasir. Airnya mulai basah, dengan cepat dia tebaskan percikan air itu menjadi kristal es tajam. Kristal itu berhasil menembus tubuh Karin, tetapi usaha Tenacity tetap gagal, Karin tidak bisa dilukai. “Kekuatan macam apa itu!” pikirnya frustrasi.
Karin mengentakkan tongkatnya, lubang tiba-tiba tercipta di bawah Tenacity. Gravitasi dengan cepat menyedotnya. Tanah bergerak menimbun Tenacity, menguburnya kemudian mengimpitnya cukup agar tubuhnya remuk namun tidak hancur. Karin sengaja melakukannya karena yang dia inginkan hanyalah rasa sakit, dia ingin menyiksa lawannya selama mungkin karena dia ingin merasakan rasa sakitnya.
“Target dikonfirmasi Tuan Miracle.” Anita mempersilahkan Peter menyerang.
Peter terjun dari angkasa, melesat secepat kilat menyeret Karin dengan meriam cahayanya. Energi cahaya Peter mampu melukai Karin, dia tersedak mengeluarkan darah. Dadanya jadi terpacu, perihnya sangat dinikmati. Karin menjadi semakin liar.
Tembok rumah tiba-tiba lepas dan beterbangan menerjang Peter. Secepat cahaya Peter menghindar, debu dan asap semakin tebal. Bangunan satu persatu hancur akibat amukan Karin. “Lagi! Sakiti aku lagi!” terikanya.
Tenacity berhasil keluar dari dalam tanah setelah bumi berhenti menggerusnya, dia terkejut melihat seorang dengan kekuatan topeng yang lain. “Kau kah pahlawan Hefei itu?”
Peter mengulurkan tangannya, Tenacity meraihnya. Keduanya kini siap melawan Penyihir gila itu.
“Maju!” teriak Karin, dia tertawa dibalik topeng coklatnya.
Tenacity hendak kembali menyerang namun Peter melarang. Dia hendak menembakkan meriam cahayanya. Energi mulai terisi, tembakan penghapus milik Peter hampir siap ditembakkan. Karin tak menghindar, dia malah menantikan Peter menembakkan senjatanya. “Ayo!”
“Destruction Burst!” energi cahaya meluncur. Ledakan dahsyat tercipta dari meriamnya. Gemuruh angin bergenderang, energi tembakan Peter begitu kuat.
Karin terluka parah, jubahnya hancur. Kemeja merah yang biasa ia pakai kini usang. Tubuhnya penuh luka namun kedua kakinya masih berdiri tegap.
Peter mengisi sekali lagi energi cahaya di meriamnya. Tembakan kedua sebentar lagi datang.
Burung garuda api datang menerjang Peter. Ryou datang menendang Peter dengan tendangan api. Peter terkejut, lagi-lagi Ryou datang untuk menyelamatkan penjahat. “Apa yang terjadi padamu?”
Tenacity semakin muak, “Kau benar-benar seorang kriminal!”
Ryou tak mau berkomentar, dirinya hanya ingin melindungi Karin saat ini.
Anak buah kapal Tenacity datang membawa senjata, dengan komandonya dia memerintahkan mereka untuk membombardir Ryou dan Karin. Keduanya kini saling memunggungi. Karin membuat kubah tanah untuk melindungi dirinya dan Ryou, sedangkan Ryou membuat tembok api agar mereka bisa kabur dari sana.
Peter memerintahkan Tenacity untuk berhenti. Di ujung jalan Ryou dan Karin sudah hilang entah ke mana.
Ryou berhasil membawa Karin ke tempat yang aman. Dia memeluk Karin dan memegang tangan kirinya, “Kau baik-baik saja kan?”
Nafas Karin terengah-engah, tembakan Peter benar-benar menyakitinya. Dia tak mau menjawab pertanyaannya.
Ryou membuka topeng Karin, air mata di pipi gadis itu berlinang. Karin tak mau tahu dan tak ingin lagi dekat dengan Ryou, dia membuang muka menutupi tangis. Tetapi tangan kirinya menggenggam tangan Ryou semakin erat, dia tak ingin melepaskannya.
Teuron secara mengejutkan datang, “Sayang sekali, sepertinya dia sudah tidak memercayaimu.”
Ryou menoleh, dirinya dari awal curiga dengan Teuron. “Apa yang kau lakukan pada Karin?”
“Heeehh sok peduli! Kau bahkan baru tahu namanya minggu lalu hahaha.”
“Aku sudah berteman lama dengannya!” Ryou membalas genggaman Karin.
“Benarkah?”
Kepala Ryou tiba-tiba sakit, dirinya sulit sekali mengungkapkan bahwa dirinya benar adalah teman lama Karin.
“Tak bisa menjawab kan? Kasihan...” Teuron mendekat. Dia mengulurkan tangannya ke arah Karin, “Ayo Karin kita pulang.”
Karin menggapai tangan Teuron dengan tangan kanannya. Dia berdiri lalu menghempaskan genggaman tangan Ryou di tangan kirinya.
Teuron mengelus pundak Karin, lalu memberikan Mantel biru yang ia kenakan untuk menutupi pakaian Karin yang sudah compang-camping. “Jangan khawatir Karin, biar aku saja yang mengurusnya.” Dia pergi bersama Karin.
Kepala Ryou semakin sakit, dia menjambak rambutnya. Kenapa setiap kali dirinya hendak mengatakan hal penting selalu saja ada sesuatu yang menghambatnya. Dia benci dengan dirinya sendiri, dia benci dengan rasa takutnya.
“Ryou kau kenapa!” Sastry berlari menghampiri Ryou.
“Aku tak apa sungguh.”
“Apa yang terjadi?” tanya Sastry, dia begitu khawatir.
Ryou menahan semua rasa gundahnya, dia menampilkan wajahnya, “Tak ada apa-apa, ayo kita pergi.”