Farhan telah pulang, sekarang tinggal Dania yang duduk sendiri di teras. Dia masih belum punya muka untuk kembali ke dalam, apalagi bertemu dengan Ratih. Rasanya, wajahnya seperti tersayat pisau, malu. Sangat malu. Sahabat macam apa dia. Dania sudah ditolong sedemikian rupa oleh Ratih. Ratih menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Apalagi ketika dania berada di rumah kost sendirian, Ratih terus kepikiran dan kadang juga datang sambil membawa makanan. Ah, kemana perginya urat malu Dania. Sekarang dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Meminta maaf? Apakah dia layak untuk meminta maaf dan dimaafkan? Wanita itu menelungkupkan tangannya ke wajah sambil menunduk. Dia tidak tahu apa yang terjadi di hidupnya ke depan. Dia juga tidak tahu apa yang akan dilakukan Amin dan bapaknya setel

