"Bagaimana, Sayang? Berhasil?" Suara Alfi terdengar lembut di seberang sana. Dania menempelkan handphone di pipinya sambil mondar-mandir di dalam kamar. "Iya, Mas. Mbak Sum mau menerima. Sementara kita aman. Ah, leganya. Aku sudah sangat takut tadi, Mas. Kalau saja Mbak Sum tidak menerima penawaran kita, bisa habis aku jadi gunjingan orang sekampung. "Syukurlah. Jadi, kita masih bebas bertemu?" "Ya, nggak bebas juga. Ingat mas! Kita sering kepergok orang yang kita kenal." "Iya, aku tetap hati-hati. Kamu sudah makan?" "Belum lah, Mas. Aku masih gemetar gara-gara telepon dari Mas tadi. Tapi sekarang sudah lega kok." "Kamu mau aku beliin apa? Biar aku pesankan online. Kesukaan ibu dan bapak apa?" "Ha … nggak usah, Mas. Beneran. Aku tadi masak kok di rumah, jadi Mas Alfi nggak perlu r

