Akhirnya dania mengangguk. Alfi benar, tidak ada hal yang bisa mereka lakukan saat ini. Apalagi mereka tidak berada di daerahnya sendiri. Akhirnya Dania tetap berada di tempatnya. Dia menunduk sambil terus melafalkan doa, dan Alfi segera berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Baru saja Alfi membuka pintu, sebuah genggaman tangan yang kuat melayang ke wajah Alfi. Alfi yang tidak menduga serangan tiba-tiba itu, langsung terhuyung. Dan ia yang melihat itu langsung berlari menghampiri sambil teriak histeris. "Bapak, sudah Pak, cukup! Ini semua bukan kesalahan Mas Alfi." Pak Hardi begitu geram. Dia menarik kerah Alfi, diajaknya laki-laki itu berdiri, lalu diberi tonjukan yang bertubi-tubi di perutnya. Alfi hanya mengaduh dan tidak melawan. Bukan karena dia tidak mampu, tapi karena dia

