SEPULUH

1686 Kata
Elizabeth masih ndak mudeng, kemarin Bayu sudah mengajarkannya cara mandi menggunakan peralatan yang menurutnya sangat canggih ini. Tapi yaa begitu, Bayu menjelaskan hanya selewat dan Elizabeth otaknya agak sedikit kurang soal pengetahuan tentang dunia baru ini. Lagian nih Mas Bay, masa cuma ngajarin ya? Gak sekalian praktekin gitu yaa, kan apa-apa lebih sempurna dengan adanya praktek, dumel Elizabeth dalam hati. Hal ini membuat Elizabeth rindu mandi di sungai bersama teman-teman-nya. Memutar-mutar berbagai macam jenis keran yang tak dimengertinya, Elizabeth mendadak terlonjak. “Gusti! Mejik banget ini, anjir.... aernya kaga dimasak tapi bisa panas. Di mana tungku apinya coba?” Elizabeth ngomong sendiri. Antara takjub dan takut dengan keran yang mengeluarkan air panas. Dengan tingkat sotoy maksimal Elizabeth memutar-mutar keran sehingga ia akhirnya tahu. Jika keran diputar ke arah kiri, maka yang keluar adalah air panas. Dan bila keran diputar ke arah sebaliknya, yang keluar adalah air biasa. Elizabeth tersenyum, merasa pintar karena sudah menguasai cara kerja keran ajaib ini. Akhirnya Elizabeth masuk ke bathup, setelah huru-hara singkat yang disebabkan oleh Dimas tadi. “Ihh ena banget ya Gusti, berasa punya sungai pribadi aku nih. Tapi ya... airnya ndak ngalir.” Elizabeth terus ngomong sendiri sambil mandi, sesekali bersenandung selayaknya ketika ia mandi di sungai dulu. Sekian puluh menit ia habiskan untuk membersihkan diri, menggosok tubuhnya dengan kain baju bekas pakainya. Ketika hendak selesai, Elizabeth melihat berbagai macam botol, dengan penasaran ia membuka semua tutupnya satu per satu dan mengendus aromanya. “Ihhhh, wangi banget!! Mandi ulang ah! Biar aku wangi, kali aja nanti Mas Bay jadi suka sama aku.” Elizabeth bergumam sendiri. Mengulangi mandinya dari awal, Elizabeth membuat bathup itu dipenuhi air sampai meluber, tak hanya itu, semua botol sampo, pasta gigi, sabun mandi, bahkan cairan pembersih lantai ia masukan ke dalam bathup agar air mandinya jadi wangi. Memakan waktu berpuluh-puluh menit, akhirnya proses mandi yang sangat lama itu selesai juga. Elizabeth mengeringkan tubuhnya dengan kain yang tersedia: lap pel yang ada di lantai. Memakai baju yang sudah disiapkan, ia merasa risih karena baju ini sangat berbeda dengan dandanannya dulu sewaktu di kampung. Tapi, Elizabeth tetap berpakaian. Soalnya, gile-gile aja kan kalau Elizabeth keluar b***l sedangkan di luar sana ada dua pria dewasa yang sedang menunggunya. Ketika hendak keluar dari kamar, ekor mata Elizabeth melirik ke bungkusan kecil yang kumuh di atas meja samping kasur, membuatnya tersenyum semangat. "Sangu aku dari si Mbok akhirnya ketemu!” Elizabeth membuka bungkusan tersebut, dan benar, isinya adalah perbekalan yang diberikan oleh Mbok Yem sebelum Elizabeth berlari meninggalkan gubug bahagianya itu. Terasi, biji timun, dan duri. Meskipun gak tahu apa gunanya semua itu, Elizabeth tetap senang, barang itu merupakan pemberian dari ibunya. Dan Elizabeth yakin, si Mbok benar-benar akan membantunya. Apapun wujudnya. Menyelipkan bungkusan itu di tempat aman, yaitu belahan payudaranya, Elizabeth akhirnya keluar dan ia langsung tersenyum melihat Bayu, meskipun Bayu memandangnya dengan tatapan kesal. “Lo ngapain aja sih? Mandi aja sampe tiga jam!” Seru Bayu marah. Elizabeth yang gak ngerti, mendekat dengan senyum yang tetap mengembang di wajahnya. “Ehehehe, Mas Bay, kan... aku kan mandi biar wangi.” “Akhirnya keluar juga!” Dimas bergabung ke dalam ruangan, di tangannya terdapat banyak kantung kertas yang berisi makanan cepat saji yang ia beli dari luar. Syukurlah kedatangan Dimas bertepatan dengan keluarnya Elizabeth. Karena kalau Dimas terlambat, sepertinya akan terjadi perang antara Bayu dan Elizabeth. “Hehehe, mas-masnya pada nungguin aku ya? Gemes deh kalian.” Elizabeth malah kegenitan. Dia pikir Bayu dan Dimas menunggunya dengan senang hati, padahal aslinya dongkol. Ya siapa juga kan yang gak ngambek nungguin cewek mandi doang sampe 3 jam? “Lo pake apaan? Bau lo gak karu-karuan!” Seru Bayu ketika Elizabeth mendekat. Ya, bayangkan saja apa jadinya jika mencampur shampo, pasta gigi, sabun dan cairan pembersih lantai menjadi satu. Ada aroma mint dari pasta gigi. Aroma bunga dari sabun, ada pula wangi shampo yang lembut, ditambah aroma pembersih lantai yang menyengat. Benar kata Bayu, baunya Elizabeth gak karu-karuan. “Ih ini aku wangi banget kali Mas Bay, gak pernah loh aku tu sewangi inih!” Seru Elizabeth. “Udah Bos, kita makan siang dulu aja. Biar cepet dan habis ini bisa langsung keluar. Udah banyak banget waktu kebuang nih.” Ucap Dimas menengahi. “Yaudah ayok!” Dimas dengan ramah mengajak Elizabeth ke meja makan. Dan mereka pun makan bersama. Lagi-lagi, Elizabeth bikin ulah. Bikin pertanyaan gak jelas bin gak masuk akal. “Om Dimas habis berburu di mana?” Tanya Elizabeth. Dimas celingukan. Agak bete juga. Kenapa Bayu yang lebih tua dipanggil Mas tapi dia yang masih imut-imut ini dipanggil Om? “Heh? Berburu? Berburu apaan?” Tanya Dimas, ia tetap lembut meskipun pertanyaan Elizabeth gak jelas. “Iya, ini makanan dapet buruan dari mana? Terus masaknya kapan? Om pinter banget deh, dari kemarin bawain makanan melulu, enak-enak semua lagi. Hebat!” Puji Elizabeth. “Gak berburu, Liz. Beli doang kok.” “Beli? Beli itu apa?” “Ya beli... ada orang jualan, ya kita beli.” “Barter maksudnya?” Tanya Elizabeth. Dimas akhirnya mengangguk. “Yaa, semacam barter, tapi pakai uang, bukan barang.” “Ndak ngerti akutu, Om.” “Sama, gue juga gak ngerti! g****k banget lu sumpah!” Seru Bayu yang emosi. “Dah, gue gak sanggup, Dim. Lo yang urus dia ya? Gue cabut duluan!” Ucap Bayu, ia melempar sendok dan garpu ke piring, lalu berdiri dan meninggalkan meja makan. “Bos, sa-saya gak apa-apa di sini dulu?” Tanya Dimas bingung. “Atur sama lo, yang jelas ni cewek gilla gak di tempat gue lagi ya! Bisa ikutan gila gue!” Dimas mengangguk patuh, lalu Bayu pun berjalan santai, menarik satu kunci mobil sebelum keluar dari apartment-nya. Berlenggang santai menuju lift, Bayu turun ke basement, tempat di mana semua koleksi mobil-mobilnya terparkir. Memencet tombol unlock di kunci mobil, Bayu masuk dan langsung menyalakan mesin, segera saja ia arahkan menuju salah satu kantornya yang terletak di pusat kota. Ya, selain menjalani kasino illegal, Bayu juga memiliki berbagai usaha lain, menjadikannya sebagai seseorang yang ada di puncak bisnis saat ini, dan mungkin selamanya, mengingat bahwa ia tidak bisa mati. Hari sudah siang, jadi jalanan sudah banyak dipenuhi mobil dan motor yang berlalu-lalang di jalanan. Membuat Bayu terjebak macet. Sekian puluh menit di jalan, akhirnya Bayu sampai di kantornya. Ia langsung membuka menyalakan komputer, membuka iklan yang dipasang Dimas kemarin. Karena kesal dengan Elizabeth, Bayu bertekad ingin menjual Elizabeth secepatnya. Ada kepuasan tersendiri jika Elizabeth yang merepotkannya itu bisa menderita karena ulah Bayu. Bayu tersenyum, memikirkan nasib Elizabeth. Mampus lu, bocah! Maki Bayu dalam hati. Bayu tersenyum ketika melihat angka tertinggi dari lelang saat ini, 30 Unit, yang artinya, minimal Bayu akan mendapatkan dua miliyar, hanya dengan menjual Elizabeth. Bagus, lumayan buat mobil baru! Seru Bayu senang. Merasa sudah cukup tawaran yang diberikan. Bayu menutup kegiatan lelang tersebut. Dan nilai tertinggi jatuh pada Chandra Wiguna, seorang pebisnis sukses dari kota yang sama, Jakarta. Mengambil ponselnya, Bayu menghubungi asisten dari Chandra Wiguna yang nomornya dilampirkan di data para peserta. “Selamat siang!” Sapa Bayu lembut. “Dengan siapa saya bicara, maaf?” “Ini Bayu, Bayu Ambrakara, pemilik kasino The Black Jack! Apa saya berbicara dengan Pak Dani? Asisten dari Pak Chandra Wiguna?” “Oh iya iya, okeee.... bagaimana? Apa bos saya yang memenangkan lelang tersebut? Bos saya sangat tertarik dengan profil wanita yang diiklankan.” Lelaki bernama Dani ini lamgsung mengerti arah pembicaraan Bayu. “Ya, saya sudah menutup lelangnya, dan Pak Chandra Wiguna yang memenangkan lelang tersebut.” “Good! Akhirnya ada berita baik setelah seharian chaos ini.” Ujar Dani, ia seperti secara tidak langsung bercerita perihal harinya kepada Bayu. Namun, Bayu tidak acuh, ia mendengarkan semuanya dengan seksama. “Senang bisa memberikan kabar baik. Oh iya, saya boleh tahu, 30 unit-nya apa saja ya?” Tanya Bayu sopan. “10 apartment di Jakarta, 2 ruko di kota Makassar, satu buah mobil klasik dan sisanya bangunan rumah di real estate yang sedang dibangun di daerah Bogor.” Ucap Dani lancar. Bayu tersenyum mendengar itu. Semua properti mahal. Dia bisa dapat lebih dari dua miliyar yang ia perkirakan. “Okay, saya akan mengirimkan dokumen untuk ditandatangani oleh Pak Chandra.” “Baik, silahkan kirim saja, sebentar saya beri e-mail saya.” “Siap, saya tunggu Pak Dani, selamat siang!” “Baik Pak Bayu!” Panggilan terputus, dan langsung saja masuk sebuah alamat e-mail yang dikirim Pak Dani sesuai ucapannya. Tanpa memakan waktu lama, Bayu membuat surat kontrak, akta jual-beli Elizabeth. Setelah membaca ulang kontrak tersebut, Bayu menandatangi surat itu secara digital, lalu mengirim ke e-mail Pak Dani, agar segera bisa diproses dan ditandatangani oleh Pak Chandra Wiguna. Selesai mengirim berkas, ponsel Bayu berbunyi, panggilan masuk dari Dimas. Bayu heran, kayaknya... Dimas gak pernah meneleponnya deh? Kok tumben ya? Bukannya Dimas tahu gue gak suka diganggu? Tanya Bayu dalam hati. Bingung, akhirnya Bayu mengangkat panggilan tersebut. “Hallo, Dim?” “Bos, ada hal penting soal Elizabeth,” Ucap Dimas serius, suaranya pun terdengar beda. Dimas sepertinya sedang tegang, atau entah apa. Yang jelas, Bayu bisa merasakan getaran suara Dimas yang takut-takut. “Kenapa Dim?” Tanya Bayu. “Ini, Boss, aduh!” Dimas terbata-bata. Bayu melirik ponselnya, memastikan kalau yang meneleponnya benar Dimas, karena ia bingung. Pertama, tidak biasanya Dimas menelepon. Dan kedua, kok Dimas begini? Gak seperti Dimas yang tegas dan berani yang ia kenal selama ini. “Kenapa Dim? Coba bicaranya pelan-pelan!” Ucap Bayu berusaha menenangkan Dimas. “Bos... emmm, gimana ya? Gimana kalau Elizabeth itu bukan dari dunia ini?” “Hah? Maksudnya?” “I-iya.... Elizabeth kayaknya datang dari tempat yang sama dengan Bos Bayu!” Ucap Dimas akhirnya bisa menyelesaikan kalimatnya. Bayu langsung menutup panggilan itu. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Dimas. Jadi langsung saja Bayu bangkit dari kursi kerjanya. Bergegas menuju rumah Kakek Yadi, dan tentu saja, ia mengajak Dimas untuk sepakat bertemu di rumah itu. Gak, gak mungkin ada makhluk lain selain gue yang bisa lewat portal itu! Batin Bayu. Namun, ia tetap panik, ia mengemudikan mobilnya secepat mungkin. Meminta penjelasan dari Dimas, ataupun Kakek Yadi, selalu orang yang menjaga pohon keramat! ******** TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN