Chap 45

1210 Kata
Tasya's POV aku duduk disamping mas Niko , ia tampak kusut setelah melihat Alexi yang terkapar tak sadarkan diri dengan darah segar yang terus mengalir di pahanya. mungkin sekarang mas Niko sedang menyalahkan dirinya karena menghiraukan panggilan Alexi tadi.  Disaat seperti ini aku tak ingin egois , aku memilih untuk menguatkannya dengan berada disaping nya.. menggenggam tangan nya erat menyalurkan seluruh energi duntuk nya. walau dadaku sakit melihat nya seperti ini.  Bagaimana tidak sakit, ketika kita melihat suami kita sedang mengkhawatirkan wanita lain selain kita. meskipun ini bukan pernikahan normal lainnya.   Dari arah utara tampak mama mertuaku yang sedang berjalan ke arah kami, wajah nya begitu merah mungkin ia akan meledak sebentar lagi. dan iya benar saja ia langsung menampar dan memukul mas Niko dengan keras. lalu memaki makinya karena mas Niko tak becus menjaga Alexi beserta cucu nya yang kini masih berada di dalam perut Alexi.. Setelah puas memarahi mas Niko sekarang mama Linda beralih menatapku yang sedang duduk di samping Niko. ditariknya aku untuk menjauh dari mas Niko lalu menampar pipiku dengan keras yang membuatku hampir terjungkal karena nya untung saja aku di tangkap oleh Monik. "nyonya nggak papa?" ucap nya aku mengangguk sambil memegang pipiku yang sudah perih akibat tamparan kuat dari mama mertuaku , aku melirik ke arah mas Niko berharap sedikit pembelaan dari nya namun nihil mas Niko tampak sama sekali tak peduli denganku. "Kamu pergi dari sini!!" bentak mama Linda sambil mendorong ku "tapi mas n- "Niko biarin dia disini bersama anak dan calon nya, kamu pulang saja sana !! kamu tau gara gara kamu cucu ku sedang bertaruh nyawa didalam sana!! jika saja kau kemarin tak jadi nikah dengan Niko mungkin Al dan Niko akan bahagia sekarang" cercah nya yang tentu saja menusuk dalam jantungku Aku mencoba berdiri lalu segera pergi dari tempat itu dan sebelum itu aku sempat bersuara. "aku pulang" ntah untuk siapa aku bersuara. aku pulang dengan ditemani oleh Monic asisten pribadi ku. ia membawa ku masuk kedalam mobil nya.  "kita mau kemana?" tanya nya sesaat kami sudah berada didalam mobil. "aku nggak mau pulang" ucap ku dengan mataku yang masih fokus dengan susasan di luar jendela. Monic menjalankan mobilnya setelah melirik ke arah ku.  Awan yang awalnya cerah berubah menjadi menjadi gelap dan rintik hujan mulai membasahi jendela mobil ku. aku mngambil kesimpulan bahwa langit sedang berpihak kepada ku saat ini.  ia tau bahwa aku membutuhkan suara yang dapat mengaliahkan suara tangis ku. ya aku menangis bahkan sejak monic menjalankan mobilnya, aku ingn marah dan berontak karena ketidak berdayaan ku serta otak bodohku yang percaya bahwa mas Niko mencintaiku. aku terlalu bodoh saat aku menyadari bahwa aku menicntainya, lihatlah sekarang ia bahkan tak menatap ku balik saat aku pergi meninggalkannyaa.  "monic..." panggilku "iya?" jawab nya dengan mata nya yang masih fokus ke jalanan sebab hujan lebat yang membuatnya harus ekstra fokus jika tidak mungkin kami akan berada dalam kecelakaan. "boleh berhenti?" "ada yang mau kamu beli?" "hm" "dimana?" "di depan sana" tunjuk ku pada sebuah warung  "baik" Tak lama ia menepikan mobilnya , tanpa menunggu nya aku langsung berlari keluar. namun aku tak mengarah ke warung itu melainkan ke arah lain.  samar samar aku mendengar Monic yang terus memanggil namaku , namun aku menghiraukan nya.  Dulu waktu aku sedang sedih aku selalu berlarian di deras nya hujan , menurut ku di saat ini orang tak akan tau apa kita menangis atau tidak. karena itu aku ingin memanfaatkan waktu ku saat ini.  Di ujung jalan ada sebuah taman aku berlari ke arah sana dan duduk pada sebuah kursi panjang yang ada di tengah taman itu.  Aku menangis dan menangis mungkin tak akan ada yang mendengar ku tapi langit ada untuk bersamaku. "Ma.. pa.. aku sedang sedih aku berharap kalian ada disini walau aku tak tau rupa kalian, aku ingin mengeluhkan semuanya pada kalian...mengapa semua orang tak ada yang berpihak kepada ku, kenapa aku yang selalu disalahkan ... apa aku seburuk itu. apa emang aku tak pantas untuk dicintai?" tanya ku pada langit. aku memejamkan mataku selagi menatap langit namun beberapa detik kemudian aku merasa hujan sudah berhenti karena tak ada air lagi yang menetes di wajahku.  sesaat aku membuka mataku betapa terkejutnya aku saat melihat ada payung yang berada diatasku, dan ketika aku melihat orang yang memayungiku dan ternyata.. "kamu..." ia berjalan dan duduk di samping ku tanpa memindahkan payung itu dari atas ku.  "bagaimana kamu tau aku disini?" tanya ku sesaat ia sudah ada di sampingku "aku membututimu" jawabnya santai "kamu mendengar semuanya?" "tentu" "aku tampak bodoh kan?" "ya kurang lebih" "menyebalkan" jawabku sambil mengelap air mata yang masih bercucuran di pipiku "masih mau disini?"  aku menjawab dengan deheman dan kembali menatap langit. "nggak lapar?" tanya nya lagi "nggak" "kenapa nggak nangis lagi? apa karena ada aku?" "aku nggak nangis" "terus tadi?" "air hujan" "teriakan mu tadi seperti orang yang menangis" "Dokter Rega apa kamu tak ada pasien yang memerlukan mu sekarang ? dari pada menggangu ku disini!" ucap ku sambil menatap horor kepada nya "syukurlah kamu nggak nangis" "aku tau itu" "berarti kamu beneran nangis kan tadi" "aissss...." kesal ku lalu membuang wajahku agar tak menatapnya. "ayok pergi" ajak nya  "aku masih betah disini, kalau dokter Rega ingin pergi silahkan" "aku nggak suka pergi sendirian" "aku nggak peduli" "maka dengan itu kamu harus ikut" "kan tadi kamu kesini sendirian jadi kamu harus pergi sendiri jangan ajak ajak aku!!" Dia tak memabalas ucapanku tapi malah mengangkat ku seolah aku ini karung goni. aku memberontak di gendongan nya. namun sekeras apapun aku memberontak ia sama sekali tak goyah sedikit pun. malah terus berjalan dengan cepat mengarah ke mobil sport yang sudah terparkir tak jauh dari tempat kami duduk tadi. ia membuka pintu mobilnya dan mendudukan ku di kursi penumpang, aku ingin berlari keluar namun dengan secepat kilat ia menutup pintu ku dan mengunci nya dari luar.  ia memutari mobilnya lalu duduk di kuris pengemudi, ia pun melirik ke arahku yang sedang menatap horor kepadanya.  "jangan menatap ku seperti itu nanti suka" ucapnya dengan nada mengejek  "dan pakai seat belt mu" tambah nya namun aku menghiraukan ucapannya dan malah membuang muka ku ke arah luar jendela.  "kamu yang meminta" ucap nya lalu mendekat ke arahku , aku yang panik memilih mundur namun karena berada di tempat yang sempit aku malah merasa di pojokan oleh nya.. "kamu mau ngapain !! jauh jauh nggak !!" ucap ku, ternyata aku salah rupanya ia hanya memasangkan seat belt ku.  "aku hanya mematuhi peraturan beralalu lintas , aku tak ingin gara gara kamu surat mengemudi ku dicabut" ucapnya dengan wajah kami yang sangat dekat "maaf, kalau begitu bisa kamu menjauh" ucap ku yang sudah menahan napas dari tadi ia kembali ke posisi nya semula begitu pula aku ,  "haaa..." ucapku lega setelah menahan napas begitu lama.. "hahahhaha" ia ketawa begitu besar setelah melihat ku yang kesulitan napas karena nya. "kenapa kamu ketawa!! apa ada yang lucu" ucapku dengan tatapan yang siap mengulitinya "wahhh wahh maaf maaf" "cepat jalankan mobilnya" perintah ku "wahhhh ... lama lama kam- "yasudah kalau kamu nggak mau aku bisa pergi sendiri" ucapku setelah memotong ucapan nya. "oke oke aku jalan sekarang"  >>>>>>>>>>>>>>>>>>> To be Continue terimakasih sudah membaca jangan lupa love dan komentar nya:) jangan bosan bosan ya, dan ayo lanjut ke part selanjutnya >> salam dari dunia halu buatan Author Pearl.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN