3 hari sebelum nya
Pagi ini ia harus masuk karena banyak meeting yang terlewatkan selama ia cuti tapi sebelumnya ia menjenguk Alexi terlebih dahulu di rumah sakit baru ia ke kantor dan setiba nya di kantor ia langsung menuju ke arah ruangan nya yang mana berada di lantai teratas gedung saat ia masuk ternyata Yoga sudah duduk dengan anteng di sofa.
"masih pagi Yoga" ucap Niko malas lalu berjalan kearah kursi kerjanya.
"Bos aja yang lama" jawab yoga dan beranjak menuju Niko
"ada apa pagi pagi gini"
"gimana kabar bini lo bos? "
"baik, tumben lo nanya dia biasa mya aja lo benci banget sama Al sekarang ada kemajuan dapat hidayah dari mana lo"
"kan gue cuma nanya bos bukan berarti gue sudah setuju? oh ya kabar bayi mungil itu? "
"baik juga "
"oh iya selama bos nggak masuk ada pria yang terus menerus datang ke kantor nyariin lo"
"siapa?"
"nggak tau, gue tanya dia nggak mau jawab?
"ya sudah palingan iseng"
"oh iya"
"apa lagi"
"uang lo di Swiss, raup 300jt"
"maksud lo? kok bisa? minggu minggu ini gue nggak ada pengeluaran sebesar itu, kapan penarikkan nya?"
"1 minggu yang lalu"
"atas nama siapa?"
"Lo"
"gue?"
"Lo kan tau minggu minggu ini gimana keadaan gue, emang ada sempat gue ambil uang"
"kalau bukan bos, siapa?"
"selidiki !! uang segitu emangg tidak besar tapi aku mau tau siapa yang ambil"
"yang tau bank di swiss siapa? "tanya Yoga
"orang tua gue, Lo dan..
"dan siapa bos?! " desak Yoga
"Al.. ?"
"Whatt!! siapa yang ambil !! wanita kadal itu gila gila !!!"
" tapi mungkin dia lagi nggak ada uang" jawan Niko dengan ekpresi wajah yang nggak berubah
"kenapa nggak lo lepas aja kalau bosan!!
"dia sudag melahirkan anak untuk gue nggak mungkin kan dia gue lepas gitu aja"
"tapi kan bo-
"sudahlah uang segitu 3 hari masuk lagi kan"
"terserah lo deh bos"
"hm"
.
.
.
di rumah Tasya
"nyonya mau kemana nya? " teriak bik mirna ketika Tasya keluar dari kamar nya dengan setelan rapi
"kerja dong bik" jawab Tasya
"nyonya kan masih-
"Tasya sudah kok bik, lagian dokter kan juga sudah kasih Tasya obat penguat kandungan.."
"tadi aja bibik lihat nyonya masih muntah muntah"
"morning sick bibik ku sayang"
"ohhh, ya sudah ayok nya makan" ajak bik Mirna
"mari bik"
selang mereka makan, tiba tiba ada yang mengetok pintu.
"siapa bik? " tanya Tasya
"nggak tau nya, tumben ada yang bertamu pagi pagi gini. bentar nya bibik lihat" bibik mirna pergi ke pintu depan melihat siapa yang datang. dan selang beberapa menit ia kembali dengan pria di samping nya.
"kamu kerja hari ni? " Tanya pria itu setelah melihat Tasya yang sedang asyik memakan sarapan nya
"ya tuhan dokter Rega kau mengejutkan ku!!"
"maaf maaf, kau belum jawab pertayaan ku" ucap nya lalu duduk di samping Tasya tanpa si suruh
"tentu saja aku kerja, emang kenapa!? kamu orang ke dua yang nanya kenapa aku kerja hari ini"
"kamu masih pusing? "
"aku sudah kuat dokter lagian kemarin kan dokter susan sudah kasih aku obat penguat kandungan dan dia juga bolehi aku kerja" kekeuh Tasya
"Ya sudah aku nggak ngelarang kok"
"terus pagi pagi kamu kesini mau ngapain dokter!?"
"ngajak sarapan bareng, eh ternyata kamu nya udah sarapan"
"ya sudah kamu makan juga aja jadi kita sarapan bareng kan"
"hm" tak tahukah kamu Tasya jika pria itu ingin ngajak kamu keluar dan makan di sana bukab dirumah.
.
.
.
"Bos pria itu datang lagi? " bisik Ypga di telinga Niko saat mereka sedang meeting bersama karyawan mereka
"siapa? " tanya Niko dengan pandangan nya yang tetap lurus menatap karyawan nya yang sedang meeting.
"pria yg mencari mu beberapa hari ini"
"oh biarkan saja"
"perlu aku suruh masuk dan menemui mu, aku juga penasaran dengan nya katanya ini menyangkut istri mu.."
"Al? "
"mungkin atau bisa jadi nyonya Tasya? "
saat Yoga mengucap nama Tasya wajah Niko langsung berubah, pria itu sangat merindukan wanita nya namu. karena gengsi ia tak menampak an itu semua.
"suruh pria itu tunggu di tempat ku, sebentar lagi aku kesana" ucap Niko dengan nada dingin
"baik bos" Yoga tau betul kelemahan bos nya ini dengan sebut nama Nyonya Tasya aja pria itu pasti akan berubah pikiran, benar kata orang orang.. wanita yang sudah pandai buat kita nyaman sangat susah untuk di lepas apalagi di lupakan namun bos bodoh nya ini malah melepaskan bidadari nya dan lebih memilih wanita kadal itu.
30 menit kemudian Meeting Niko bersama karyawan nya dari bidang marketing sudah selesai. ia segera meninggalkan tempat dan kembali ke ruangan nya dimana di sana sudah Ada Yoga asisten nya dan pria misterius yang katanya dari kemari. mencari nya. ia juga penasaran dengan pria itu sebentulnya.
saat ia masuk ke ruangan nya disana sudah ada Yoga dan pria itu yang duduk hadap hadapan .
"kau sudah tau maksud nya Ga? " tanya Niko sambil melonggarkan dasi nya dan duduk di sofa utama milik nya.
"dia nggak mau buka suara dari tadi bos, dia hanya mau bicara dengan bos"
"hm, baiklah aku sudah disini apa mau mu? "
Pria misterius itu yang tadi nya hanya nunduk sekarang ia sudah berani menatap ke arah Niko.
"kau Niko hartanto? " tanya nya
"iya, saya" jawab Niko
"aku.. aku.. "
"cerita cepat aku tak ada waktu untuk mrnunggu mu selesai dari kegugupan mu!! " ucap Niko dengan suara dingin nya.
"bayi itu anak ku" ucap pria itu
Niko menetralisir pendengaran nya mungkin saja ia salah,
"ULANGI!! " BENTAK NIKO DENGAN SUARA NYA YANG SUDAH BERUBAH
"bayu yang di lahirkan Alexi anak saya" ucap pria itu dengan lebih jelas
Niko yang sudah naik pitam menarik kerah pria itu
"atas dasar apa anda mangaku ngaku bayi itu anak anda!! jelas jelas dia darah daging ku!! "
"anda sudah pernah tes DNA? "
"untuk apa saya sudah yakin dia anak saya!! "
Yoga nggak berani melerai ia menikmati. adegan didepan nya sebagai penonton
"ini tes DNA saya" ucap pria itu lalu membefi niko selembar kertas
Niko menerima nya dan membaca t
surat itu dengan seksama.
ia merasa hancur, ia menduduki dirinya di atas sofa nya kembali. wanita yang sudah ia beri kepercayaan membohonginya lagi lagi dan lagi. tidak tahukah wanita itu jika Niko sudah memberikan segala nya untuknya bahkan ia rela melepaskan jantung hatinya demi wanita itu tapi apa yang ia terima waniga itu membohonginya.
Niko mencebgkram kuat suray tersbut dengan wajah merah padam ia meninggalkan tempat.
ia masuk ke dalam mobil nya dan mengendarai nya denfan kecepat tinggi.
ia tak tau mau kemana hati nya begitu hancur ia butuh sandaran dan trmpat untuk dan yang lebib nyaman iti hanya bahu mantan kekasih Tasya.
ia dengan tanpa sadar mengendarai mobilnya ke cafe milim Tasya sampai di sana tak turun ia hanya biaa melihat Tasya dari dalam mobil nya. ada perasaan rindu dan ingin memeluk namun ia begitu malu untuk tampil di depan wanita yang sudah di sakiti nya itu.
"Tasya.. maaf suamimu yang bodoh ini, tak seharusnya aku melepaskan mu.." pria itu menangis dalam mobil nya untung saja kaca mobil nya gelap jadi tak akan ada yang melihat nya.
di sebrang sana Perut Tasya merasa mulas kembali ia terus memegangi perut nya.
"kamu kenapa si nak.. bunda mau kerja nii... jangan bandel ya" ucap Tasya sambil mengelus elus perut nya yang tentu saja masih rata
>>>>>>>
To be Continue