Hujan masih setia mengguyur kota, seakan menjadi saksi betapa getirnya perjalanan keluarga kecil Edward dan Celine. Malam telah larut, tetapi lorong rumah sakit itu tetap diterangi lampu putih yang menyilaukan, bau antiseptik menusuk, bercampur dengan suara langkah tergesa para perawat. Edward duduk di kursi besi di luar kamar rawat, tubuhnya lunglai, kepalanya tertunduk, kedua tangan saling meremas hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah tiga malam tidak tidur dengan benar. Sesekali kepalanya jatuh karena mengantuk, tapi begitu teringat wajah pucat Celine, ia langsung terjaga lagi. Di dalam kamar, Celine tertidur karena obat penenang. Nafasnya teratur, meski tubuhnya terlihat sangat lemah. Ada bekas air mata yang masih membekas di sudut matanya, sisa tangis yang ia tahan sebelum akhi

