Hanya dengan mengenakan bathrobe, Dilara berjalan keluar dari kamar mandi usai membersihkan diri. Ia menyedekapkan tangan di depan d**a, dengan wajah datarnya. Matanya terpaku, melihat ranjang yang sudah dihiasi taburan bunga berbentuk love di atasnya. Ranjang yang didekorasi layaknya kamar pengantin pada umumnya. Dilara sedikit takut, jika mengingat kejadian malam itu. Semua sudah terlanjur terjadi, yang penting ia harus fokus pada tujuannya, balas dendam. "Bagaimana dengan hiasannya, Dilara? Apa kamu suka?" Mahendra muncul, entah kapan datang. Pria itu memeluk tubuh Dilara yang begitu wangi selesai mandi. Bulu kuduk Dilara meremang, harus merelakan tubuhnya dijadikan pemu*s oleh p****************g seperti Mahendra. "Kenapa Anda menghiasnya? Seolah-olah ini adalah hal istimewa," tany

