Kerongkongan Dilara terasa kering, wanita itu mengucek-ngucek matanya sambil menguap. Ia merasa tubuhnya berat, karena Mahendra sedang memeluknya erat. Bagai hidup di alam mimpi, Dilara tidak menyangka jika hal ini terjadi. Sejenak Dilara termenung, sambil menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. 'Cara seperti ini saja nggak cukup, aku harus memikirkan cara lain,' batin Dilara. Berusaha untuk memikirkan cara membalas Adelia. Dia sudah mengambil langkah tepat, untuk membuatnya hancur secara perlahan. Dilara meringis, sekujur tubuhnya terasa sakit sesudah kegiatan yang mereka tadi. Perut Dilara keroncongan, ia lapar karena sudah melewatkan dua kali jadwal makan. Ingin membangunkan Mahendra, tapi ia ragu, takut pria itu melakukannya lagi. "Ck, mau ke mana kamu, Dilara?" Dilara

