Hari Senin pun tiba, paginya Dilara sedang bersiap-siap berangkat seperti biasa. Berbeda dari sebelumnya, Dilara jadi tak bersemangat tanpa kehadiran sang ibu. Badannya terasa lemas, apalagi dia belum sempat makan karena tak nafsu. Ia memakai sepatu, berangkat kuliah diantar oleh ayahnya. "Dilara, kamu berangkat pakai angkot aja. Ayah kedatangan tamu pagi ini," kata Aji yang muncul dari arah dapur sambil membawa segelas kopi hitam. Kening Dilara mengerut tipis. Siapa tamu yang datang pagi-pagi ini? Jangan-jangan tamu yang dimaksud adalah Adelia. Jika iya, Dilara tidak akan membiarkan wanita itu menginjakkan kaki di kediamannya. "Jangan bilang tamunya Tante Adelia?" Dilara menebak, seraya tertawa hambar. Aji diam, tidak menjawab. Dia memperhtikan putrinya yang langsung menampilkan ket

