Dilara terbangun dari tidurnya saat merasakan sebuah tepukan pelan di pipinya. Gadis itu membuka matanya perlahan walaupun enggan. Saat membuka mata, sosok Mahendra yang pertama kali Dilara lihat dari tidurnya. Di depannya, Mahendra dengan posisi menyamping sambil mengusap pipi dan belakang kepalanya. Sikapnya begitu manis, tapi itu tidak menghilangkan kekesalannya pada Mahendra. "Masih marah?" tanya Mahendra, tidak ada senyum sedikitpun dari wajah istrinya. "Padahal saya sudah minta maaf, kenapa marahmu tahan lama, Dilara," desisnya. Dilara diam, membalas tatapan Mahendra yang begitu tajam melihatnya. "Aku nggak marah," sergah Dilara. Ada rasa sesak yang terasa di ulu hatinya saat Mahendra membentaknya. "Kamu suka s**u?" Ia mencari topik lain. Sang wanita hanya mengangguk, tidak ada

