Part 5 Pengkhianatan Elea

1105 Kata
~Selamat membaca~ Elea tampak baru saja membersihkan diri. Dia melakukan pemotretan sejak pukul enam pagi, lalu di lanjutkan dengan syuting beberapa iklan produk kecantikan hingga pukul lima sore. Jelas saja wanita itu terlihat begitu kelelahan. "I Miss you baby," bisik seorang pria dengan nada lirih. Kedua tangannya dia lingkarkan di perut ramping Elea yang kini hanya menggunakan handuk. "I Miss you to hon," balas Elea dengan nada yang sensual. Kedua telapak tangan lebar si pria mulai aktif menjelajahi apa saja yang terjangkau oleh kedua tangan nakalnya. "I want you baby" suara serak syarat makna has_rat terdengar mendayu di telinga Elea. Membuat wanita itu bagai di sengat listrik jutaan watt. "Let's do it, hon. Aku juga merindukan sentuhanmu yang liar dan ganas," jawaban Elea bagai stimulus pendorong bagi si pria yang memang sudah tak tahan menahan hasratnya sejak tadi pagi. Dia harus rela menahan diri menunggu pekerjaan Elea selesai, agar tak ada yang mencurigai hubungan gelap mereka. Sekarang di dalam kamar pribadinya yang tersembunyi di belakang rak buku ruang kantornya. Dia bisa dengan bebas mengeksekusi sang sugar baby. Hubungan terlarang itupun terjadi begitu saja. Elea dengan segala pengkhianatnya, sedangkan sang ayah gula juga melakukan hal yang sama. Mereka sama-sama melakukan pengkhianat paling kejam, pada orang-orang yang mengasihi mereka tanpa tau apa-apa di belakang sana. ************** Kayram baru saja tiba di kediamannya, dia tak heran lagi tak mendapatkan sambutan dari sang istri. Elea pasti sedang sibuk dengan pekerjaan impiannya yang membuat rasa cinta di hati Kayram mulai mengabur. Seorang asisten rumah tangga menghampiri Kayram dengan langkah tergopoh-gopoh. "Tuan, tadi ada nyonya besar sama tuan mampir kemari. Mereka ingin mengundang tuan sama non Elea untuk makan malam keluarga malam ini. Nyonya besar bilang beliau tidak menerima penolakan dengan alasan apapun. Begitu pesan nyonya sebelum pergi," bik Ratmi menyampaikan pesan tersebut dengan kepala sedikit menunduk. Bagaimanpun pesan tersebut pasti akan membuat sang tuan kesal meski tak di perlihatkan. Bik Ratmi sungkan harus menyampaikan kata-kata berisi pesan tersebut, namun harus tetap dia lakukan juga karena sudah di amanahkan kepadanya. "Baik bik, terimakasih. Saya pasti akan datang," sahut Kayram membuat hati bik Ratmi lega. Meski dengan suara khas yang datar, bik Ratmi tak mengapa. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin tuannya itu. Wanita paruh baya itu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang. Kini tinggal Kayram yang masih mematung karena pikiran pria memang sedang kacau. "Pasti mama akan membahas perkara bayi lagi," monolog Kayram membatin. Tak ada hal lain yang akan ibunya bahas selain kehadiran momongan yang masih belum bisa dia berikan. Sebagai anak sulung, hanya dia yang masih belum memiliki seorang anak. Sedangkan kedua adik kembarnya sudah memberikan masing-masing cucu untuk kedua orang tuanya. Kayram merogoh sakunya untuk menghubungi sang istri. Mau tak mau, ibunya adalah wanita keras kepala yang tak akan mentolerir penolakan. Belum lagi dia memiliki seorang adik perempuan yang mulutnya setajam belati. Kayram tak ingin memancing megalodon itu melahap istrinya dengan kata-kata mutiara yang menyentil hingga tulang belakang. "Ya Kay, ada apa?" Kayram mengernyit heran. Pasalnya suara sang istri seperti orang yang sedang berlari maraton. "Kamu lagi, ngejim?" Pertanyaan Kayram membuat Elea sadar, bila dirinya saat ini sedang di tunggangi oleh sang bos dari arah belakang. "Aku baru aja lari-larian ngejar lift takut keburu tutup. Ada apa Kay? Aku masih ada beberapa pemotretan untuk majalah setelah ini." Elea ingin segera menyudahi panggilan suaminya yang menggangu aktivitas fisik yang sedang dia lakukan dengan sang atasan. "O...aku hanya ingin bilang, malam ini mama ngundang kita buat makan malam keluarga. Kamu tau mama tak menerima Penolakan, jadi usahakan kamu selesai sebelum pukul 7 malam. Aku tunggu di rumah, jangan sampai membuatku menunggu dalam ketidakpastian. Kamu tau sendiri bagaimana adikku bila sudah mulai membuka mulutnya, aku yakin kamu orang pertama yang langsung merasakan dampaknya." Ujar Kayram mengingatkan. "Hmmm..aku akan pulang satu jam lagi. Sudah ya, bye!" Elea mematikan sambungan telepon secara sepihak. Bukan hal baru pula bagi Kayram. Elea memang sering mematikan panggilannya secara sepihak karena panggilan pekerjaan yang padat. Setidaknya begitulah alasan yang selalu Elea lontarkan. Meninggalkan Kayram, di tempat berbeda Abian baru saja selesai mengantarkan sang mantan istri juga putranya pulang. "Papa gak bisa mampir ya boy, tapi papa janji akan jemput Arka akhir pekan ini. Ok?" Arka mengangguk meski riak wajahnya masam. "Kamu beneran gak mau mampir dulu? Aku tadi minta bibik masak banyak loh kira kamu bakal mampir, lagipula mas bayu sebentar lagi pulang. Kita bisa makan malam bersama sebelum kamu mencari mama baru buat Arka." Celetuk Melisa sedikit protes. Hubungan mereka memang tak pernah ada masalah. Perpisahan tersebut adalah keputusan bersama. Melisa yang tak sanggup menghadapi sikap Abian yang suka ingkar janji dan lebih banyak meluangkan waktu untuk pekerjaan. Akhirnya wanita itu jatuh ke dalam hangatnya perhatian pria lain. Pria yang kini menjadi suaminya. Sedangkan Abian memang sejak awal pernikahan mengatakan pada Melisa. Jika ia belum mencintai istrinya, namun ia tak bisa menolak perjodohan yang di atur oleh kedua orang tuanya. Melisa memahami dan mereka sepakat untuk berpisah, namun tetap menjalin hubungan sebagai mantan suami istri dengan baik demi putra semata wayang mereka, Arka. Bayu merupakan rekan bisnis Abian, awalnya Bayu canggung karena secara tak langsung, dia telah merampas istri rekan bisnisnya sendiri. Namun penerimaan Abian terhadapnya membuat Bayu lega. Mereka bahkan semakin akrab seperti seorang sahabat. Bayu di vonis tak bisa memiliki keturunan, itu sebabnya dia meminta Arka tinggal bersama mereka untuk waktu yang lebih lama ketimbang bersama Abian, ayah kandungnya. "Gak bisa Mel, aku ada meeting sama klien ini saja sudah telat sebenarnya." Tolak Abian menggaruk pelipisnya tak enak hati." Dan untuk mama baru Arka, aku sudah punya calon sih hehehee." Ucap cengengesan. Melisa menggeleng melihat bagaimana ekspresi mantan suaminya yang sangat terlihat jelas bila pria itu sedang mengalami demam cinta. "Semoga sukses, dan pastikan jangan terlalu sibuk lagi dengan pekerjaan seperti yang sudah-sudah. Kasian Arka kalau lihat papanya kawin cerai," nasihat Melisa berseloroh namun dengan ekspresi serius. "Siap nyonya Bayu," balas Abian dengan gaya petakilan. "Titip salam buat Bayu, kapan-kapan aku mampir. Siapkan saja makanan yang banyak, maklum aku masih belum ada yang masakin." Canda Abian lagi. "Siap pak mantan suami," balas Melisa kemudian keduanya tertawa renyah. Abian berpamitan kembali ke kantornya. Dia memang sedang ada pertemuan penting, namun dia lewatkan demi menemani sang anak yang sedang berobat. Arka mengalami demam tinggi sejak semalam, dan Melisa kukuh membawa putranya berobat ke pelayanan kesehatan pemerintah tingkat pertama. Yaitu puskesmas tempatnya bekerja. Karena memang dekat dengan rumahnya saat ini. Abian melirik benda bulat mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. “Sudah sore gini kira-kira pak Jamal masih mau ketemu gak ya?” gumam Abian yang melihat waktu sudah menunjuk pukul lima sore lewat. TBC Semoga terhibur, mohon dukungan kritik dan saran. Salam sayang, author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN