Part 4 Keangkuhan Kayram

1034 Kata
~Selamat Membaca~ Meninggalkan Emery dengan segala rasa sakit di kedua kakinya. Di tempat lain, Kayram baru saja di jemput oleh seorang sopir pribadi yang dia hubungi. Beruntung ponselnya masih tersimpan rapi di saku celananya, jadi dia bisa dengan mudah menghubungi sang sopir. Dan untuk mobilnya, Emery telah menitipkan catatan di loket perawat perihal posisi mobilnya berada saat ini. "Amir, apa kamu sudah tau di mana wanita itu tinggal saat ini?" Rupanya diam-diam Kayram mulai mencari tau tentang tempat tinggal Emery yang selama ini tak pernah dia hiraukan. "Sudah tuan, apakah anda ingin berkunjung ke sana?" Jawab sang sopir melirik melalui spion tengah. Pria 43 tahun itu merasa miris, sang tuan bahkan tak sudi menyebut nama mertuanya dengan sebutan benar dan sopan. Kayram menggeleng cepat. "Tidak. Aku hanya ingin tau saja," sahut Kayram cepat. Dia masih belum mampu bertemu dengan wanita yang pernah dia sakiti di masa lalu, ketika sang mertua menghadiri pernikahannya. Saat itu Emery menggunakan outfit yang membuatnya malu. Sehingga saat sang istri menolak kehadiran Emery, dia pun mengambil kesempatan untuk mengusir Emery dengan cara yang tak manusiawi. Mendorong wanita itu hingga terjerembab ke lantai, lalu menghinanya sebagai wanita tak tau malu karena mengakui istrinya sebagai putrinya. Dia pun meminta beberapa sekuriti menyeret Emery yang bahkan belum bangun sempurna dari jatuhnya. Alhasil wanita itu pasti sangat kesakitan waktu. Baik fisik maupun psikisnya. Rasa malu yang Emery alami membuat wanita itu tak pernah lagi menampakkan dirinya di hadapannya dan juga sang istri. Emery benar-benar menjaga jaraknya hingga bayangannya pun tak terlihat lagi oleh Kayram. Dan hari ini, Emery lah wanita yang kembali dia lukai meski tanpa sengaja. Dan wanita itu pula yang menyelamatkan nya tanpa peduli pada rasa sakit yang dia alami. Kayram yakin, Emery pasti tak memiliki cukup uang untuk mengobati lukanya. Itu kenapa Emery lebih memilih untuk tak melakukan perawatan pada lukanya, karena uang Emery telah keluar cukup banyak untuk biaya perawatannya. Meski bagi Kayram itu hanyalah jumlah recehan. "Coba kamu hubungi Andri, pantau apa saja yang wanita itu lakukan. Perhatikan apa yang wanita itu butuhkan secara diam-diam. Aku tak ingin berhutang kebaikan pada siapapun." Kalimat datar meluncur begitu saja dari mulut Kayram. Seakan Emery adalah gangguan masa depan kehidupannya jika dia berhutang pada wanita itu. "Baik tuan," jawaban singkat dari sang sopir entah mengapa membuat hatinya tiba-tiba merasa tak nyaman. Namun dia segera menepisnya. Kayram kembali menerawang pada nasib pernikahannya yang tak seperti pasangan suami istri normal lainnya. Bagaimana bisa sang istri menolak untuk dia sentuh bahkan setelah satu setengah tahun pernikahan. Dan bodohnya dia, karena masih mempertahankan pernikahan tak sehat tersebut atas nama cinta. "Apa Andri sudah memantau apa saja yang di lakukan oleh istriku saat di luar kota?" Kayram kembali membuka suara. "Sudah tuan, saat ini nyonya Elea tak terlihat melakukan hal-hal yang aneh. Hanya melakukan pemotretan dan melakukan syuting iklan dengan beberapa brand." Sahut sang sopir apa adanya. "Hmmm...pantau saja terus. Mungkin saja ada yang sudah Andri lewatkan," perintah Kayram kemudian membuang pandangan keluar jendela mobil. Pikirannya kembali terpikirkan kejadian sialnya hari ini. Setelah lama tak melihat Emery, kini dia melihat wanita itu dalam rupa seorang malaikat penyelamat. Namun hatinya tetap menolak untuk menerima kebaikan Emery sebagai sesuatu yang harus dia syukuri. Baginya semua orang bisa saja melakukan apa yang Emery lakukan. Toh hanya menolong dan membantu biaya perawatannya yang tidak seberapa. Namun tanpa Kayram tau, jika uang tak seberapa itu begitu berarti bagi Emery. Dan dia lupa, tak semua manusia memiliki hati setulus Emery dalam memberikan pertolongan kepada orang asing. Mungkin circle orang kaya seperti dirinya hanya mengerti arti kebaikan bila berasal dari orang-orang yang sederajat. Kembali pada Berta, setelah keluar cukup lama, wanita itu akhirnya kembali dengan membawa dua kantong plastik berisi makanan. Inilah yang paling Emery tak sukai dari sahabatnya itu. Melihat wajah datar Emery, Berta segera mengklarifikasi. "Ini aku gak beli, ini di kasih sama bu Parmi. Tadi aku mampir buat beli gorengan ini doang, eh malah di kasih nasi campur. Mana mungkin aku nolak, kan gak enak sama makanannya." Kata-kata Berta membuat Emery mendelik galak. Sedangkan wanita itu hanya memasang wajah cengengesan tanpa dosa lalu terpingkal. Berta lalu membuka nasi bungkus yang dia bawa untuk di berikan pada Emery. Karena dia tau bosnya itu belum sarapan dan sekarang sudah pukul satu siang lewat. "Makan gih, jangan galak-galak gitu mukanya. Kan aku jadi takut," celetuk Berta mencairkan suasana. "Awas saja kalau aku tau ini kamu yang beli sendiri," ancam Emery kemudian meraih piring nasi miliknya dengan perut yang mulai bergejolak ingin segera di isi. "Tanya aja noh sama bu Parmi kalau gak percaya," tantang Berta acuh. "Mau pakai tempe goreng gak?" Tawar Berta mengangkat piring berisi gorengan. "Boleh, ini lauknya kegedean. Aku makan separuh sisanya buat makan malam, lumayan untuk berhemat." Hati Berta mencelos mendengar kalimat tersebut. Dia tau uang yang Emery simpan di Bank lebih dari cukup untuk sekedar membeli makanan. Namun wanita itu memilih untuk berhemat agar bisa mengirim semua uang itu kepada putrinya yang tak tau diri. "Kenapa gak pakai saja dulu uang tabungan yang kamu simpan buat Elea? Kan lumayan buat beli mesin cuci baru. Jadi kita gak lagi keteteran kalau banyak cucian. Aku suka sebel sama pelanggan yang suka ngomel kalau cuciannya lambat di antar." Curhat Berta tanpa sadar. "Kamu tau sendiri uang itu aku khususkan buat Elea. Aku gak mau kalau Elea semakin membenciku kalau aku tidak lagi rutin mengirimkan uang padanya. Paling tidak meski hanya sebulan sekali, Elea masih mau aku hubungi." Terang Emery mencoba memberikan pengertian pada sahabatnya. "Ia jelas dia mau di hubungi, wong kamu kabarin kalau rekeningnya sudah terisi oleh kehidupan. Sedangkan kamu di sini dalam kesekaratan," ketus Berta menimpali. Wajah Berta berubah tak bersahabat bila sudah membahas perkara Elea. Entah mengapa wanita itu tak lagi memiliki rasa empati terhadap putri sang sahabat walau hanya seujung kuku. Emery tak lagi menanggapi, dia tau betapa Berta tak menyukai kebiasaannya tersebut. Namun bagaimanapun, Elea adalah putrinya. Kehidupan pertama yang dia anggap sebagai malaikat dalam hidupnya yang hampa, setelah dia tak memiliki siapapun di dunia ini. Cinta seorang ibu tak akan pernah mati, meski anaknya sendiri telah menganggapnya tiada. Begitulah besarnya rasa sayang yang Emery miliki untuk putrinya yang telah membuangnya tanpa belas kasih. *********************** TBC Semoga terhibur, mohon dukungan pembaca semua. Salam sayang, author AQYa TRi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN