Bagian 41

178 Kata

Ammah memegang perutnya yang mual sedari tadi. Ia berada di depan wastafel. Selama tiga bulan terakhir, Agra gencar meminta jatahnya dengan alasan ingin memiliki anak kembar triplet. Agra yang baru selesai sarapan membawa piring kotornya ke wastafel. “Ammah.” Ia menyalakan keran untuk membasuh kedua tangannya, lalu mengeringkan tangannya di serbet bersih. “Kenapa sayang?” Istrinya itu menggeleng pelan. “Perut Ammah gak enak, Bang. Mual banget,” keluhnya. Matanya terpejam membayangkan segarnya rujak di pinggir jalan. “Abang, beliin rujak.” Agra mengerutkan keningnya. “Hampir senja gini mau cari rujak di mana, Mah?” tanya Agra kebingungan. Ia menggaruk kepalanya seraya berpikir, menduga kemungkinan Ammah hamil. “Masa gak ada, Bang? Ammah, kok, pengin banget, ya, makan rujak,” kata Amm

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN