Sebelum tanggal di kalender berganti, Divya dengan cepat melangkah masuk ke ruang rawat putrinya. Membuka pintu dengan sangat pelan, diintipnya terlebih dahulu keadaan di dalam sana. Aman, lampu masih dimatikan, hanya cahaya dari lampu koridor yang membuat kamar tersebut remang. Divya masuk, sebisa mungkin tidak menciptakan bunyi. Paper bag di tangannya digenggam erat, dengan pelan melangkah menuju kasur kecil di mana ia akan tidur nanti. “Div.” Ia tersentak kaget, lampu menyala, dengan cepat Divya menoleh ke asal suara. Raga menatapnya dengan mata berair, seakan baru saja menangis. Satu alis Divya terangkat, heran dengan keadaan Raga. “Ada apa?” Divya segera menuju Kayla yang tertidur, memeriksa keadaan putrinya itu. Tentu saja khawatir, keadaan Raga seakan mengatakan hal buruk telah

