*** “Setelah selesai tes, Bapak langsung pulang aja. Enggak perlu jenguk Valeria karena ada Asta di sana.” Hampir sepuluh menit perjalanan diselimuti hening, ucapan tersebut akhirnya keluar dari mulut Sastra yang fokus di balik kemudi. Sempat mengobrol di halaman rumah, Sastra yang berharap Tegar berbaik hati pada dirinya, harus menelan kekecewaan setelah sang ayah tidak mau mengubah imbalan jika seandainya dia menjadi donor untuk Valeria. Tidak mau dibayar oleh uang atau sejenisnya, Tegar tetap ingin Sastra menikah dengan perempuan pilihannya tanpa terkecuali. Malas berdebat, Sastra diam sementara Tegar memberi ultimatum yaitu; tidak akan mau jadi pendonor jika sang putra tidak mau mengabulkan keinginannya itu. “Kenapa?” tanya Tegar. “Kamu takut Bapak apa-apain Valeria?” “Iya,” jawab

