*** “Minumannya mana? Bapak bilang mau beli minuman. Kok enggak bawa apa-apa?” Bersandar di bagian depan mobilnya, pertanyaan tersebut Sastra lontarkan setibanya Tegar di parkiran. Tidak lama, sang ayah sampai selang lima menit setelah dirinya. Entah pergi ke kantin atau tidak pria itu, Sastra tidak tahu. Namun, yang jelas dia tidak merasa curiga sama sekali karena jika Tegar nekad menemui Valeria, sang ayah tidak akan kembali secepat ini. “Habis tadi di jalan,” jawab Tegar. “Bapak beli yang ukuran kecil, jadi dalam sekali teguk, airnya lenyap.” Jawaban Tegar jujur? Jawabannya jelas tidak, karena alih-alih merealisasikan niatnya membeli air putih di kantin, beberapa waktu lalu dia memilih untuk putar balik setelah melihat keberadaan Agra dan Tanaya di salah satu meja. Bukan tanpa alas

