***
"Apa ini?"
Setelah sebelumnya menyimpan sebuah amplop di atas meja, pertanyaan tersebut Valeria dapatkan dari seorang pria berjas yang siang ini dia temui di sebuah ruangan, gedung perkantoran.
Bukan orang asing, pria yang sampai sekarang masih duduk di kursinya adalah Jenggala Astaguna Wirawan—suami Valeria yang hampir dua tahun ini menjadi pasangan, sekaligus sang penyiksa batin perempuan itu.
"Buka aja. Kamu enggak akan tahu kalau amplopnya enggak kamu buka."
Asta tidak menimpali, tapi mengambil amplop putih yang Valeria berikan. Tanpa beranjak dari kursi kerjanya, dia membuka amplop tersebut lalu mengeluarkan selembar kertas dari sana.
Masih diselimuti tanya, Asta membuka secara perlahan kertas di tangannya, lalu mulai mengerutkan kening setelah tulisan besar di bagian atas perlahan dia baca.
Tak ada obrolan, suasana di ruangan kerja diselimuti keheningan, hingga tidak berselang lama dengan raut wajah serius, Asta mengangkat pandangan dan bertanya,
"Kamu gugat cerai aku?"
"Iya. Aku gugat cerai kamu," jawab Valeria. "Itu kan yang kamu mau sejak dulu? Sekarang aku kabulin. Semoga kamu senang."
Sangat mencintai Asta sejak mereka remaja, Valeria coba bertahan di dalam pernikahannya dengan pria itu meskipun tidak pernah dianggap, dan selalu disakiti. Selalu berharap Asta akan berubah dan bersedia menerima kehadirannya, itulah Valeria, hingga setelah hampir dua tahun menikah, rasa lelah mulai menghampiri.
Maju mundur untuk berpisah dari Asta, Valeria akhirnya mantap menggugat cerai sang suami, setelah tiga minggu lalu saat dirinya melahirkan putri pertama mereka, Asta tidak berkunjung sama sekali.
Tak hanya saat proses persalinan, Asta juga tidak menjenguknya dan sang putri di rumah sakit, sehingga tembok kesabaran yang selama ini Valeria buat sekokoh mungkin akhirnya roboh juga.
Valeria menyerah. Tak akan memperjuangkan Asta baik itu untuk dirinya mau pun sang putri, dia mengambil keputusan untuk berpisah dengan harapan; hidupnya dan sang anak akan jauh lebih baik tanpa sosok Asta di hidup mereka.
"Punya nyali darimana kamu sampai berani lakuin ini?" tanya Asta, sambil beranjak dari kursi. "Bukannya kamu bilang sangat mencintai aku? Kenapa sekarang nyerah? Capek?"
"Enggak ada perempuan yang bisa tahan diperlakukan seburuk itu, Mas," ucap Valeria. "Kamu emang enggak pernah menyiksa aku lewat fisik, tapi kamu menghancurkan mental aku dengan tidak bertanggungjawab."
"Itu resiko yang harus kamu tanggung saat menerima perjodohan kita, Valeria," ucap Asta, tidak mau kalah. "Dari awal kamu tahu aku enggak cinta sama kamu, tapi kamu enggak menolak sama sekali pernikahan kita. Itu salah siapa?"
"Aku, Mas. Aku yang salah," jawab Valeria. "Aku terlalu percaya diri dan terlalu berharap kamu akan berubah setelah kita menikah. Dan karena aku enggak mau memperpanjang kesalahanku, aku menggugat cerai kamu. Jadi empat hari dari sekarang tolong datang ke sidang mediasi kita supaya segala prosesnya selesai dengan cepat. Pengen, kan, kamu bebas dari aku?"
Asta tidak menjawab, sementara netranya memandang lekat sosok Valeria yang hari ini tidak terlihat seperti biasa. Tak ada raut takut seperti biasanya, perempuan itu nampak berani, dan jika boleh jujur Asta sedikit panik karena meskipun tidak pernah mencintai Valeria, perempuan itu adalah kunci keamanan hidupnya.
Menjadi kesayangan kedua orang tua Asta, Valeria adalah jaminan semua warisan yang akan Asta terima. Jika pernikahan mereka panjang, Asta akan mendapatkan semua warisan dari kedua orang tuanya. Namun, jika sebaliknya, kemungkinan besar dia akan kehilangan semua itu.
"Kenapa diam, Mas?" tanya Valeria, setelah beberapa detik hening. "Senyum dong. Kamu kan pengen banget pisah dari aku. Tenang aja, aku enggak akan membebani kamu apa pun kok, karena untuk menghidupi anak kita, aku sangat sanggup. Jadi tugas kamu sekarang hanya menghadiri persidangan dan menyetujui gugatan cerai aku. Oke?"
"No," jawab Asta sambil menggeleng. "Kita enggak akan pernah bercerai, karena perpisahan kita akan membuat aku kehilangan semua warisanku. Aku udah cukup menderita dengan perjodohan ini. Jadi jangan bikin penderitaanku sia-sia. Lagian diam aja dan jalani hidup kamu seperti sebelumnya, susah emang? Harus banget kamu bikin huru-hara gini dan—"
Plak!
Tak selesai Asta bicara, Valeria yang emosinya terpancing oleh ucapan dia, tanpa ragu mendaratkan telapak tangan—membuat Asta yang kaget, diam sambil meresapi rasa perih di pipinya.
"Kalau yang kamu sakitin cuman aku, mungkin aku masih bisa tahan, Mas, tapi yang kamu sakitin bukan aku aja!" ujar Valeria dengan rahang yang mengeras. "Kamu nyakitin anak kamu, darah daging kamu, dan itu membuat aku yang notabenenya ibu kandung anak kita, ngerasa terhina!"
"Terhina apa sih?" tanya Asta. "Dari awal kan aku udah bilang kalau kehamilan kamu enggak pernah aku harapkan. Jadi wajar dong aku enggak nemuin anak yang kamu lahirkan? Lagian ditemuin atau enggak sama aku, anak itu tetap hidup, kan? Dia enggak kenapa-kenapa dan—"
"Mas Asta!" teriak Valeria histeris.
"Apa?" tanya Asta dengan intonasi yang mulai naik. "Enggak terima kamu, aku ngomong kaya barusan? Kalau iya, kamu salahin diri kamu sendiri karena semua ucapanku keluar gara-gara kamu! Andai dari awal kamu tahu diri dan enggak nerima perjodohan kita, semua enggak akan kaya gini, Valeria! Kamu ini jahat, tapi kamu bertingkah seperti pelaku! Muak tahu enggak aku sama tingkah kamu!"
Valeria tidak menjawab, sementara air mata mulai membanjiri kedua pipi. Sedih, marah, dan sakit hati, semua bercampur menjadi satu sehingga tanpa sadar tubuhnya menegang.
"Sekarang sebelum aku lebih marah, kamu pergi dari sini dan pulang ke tempat yang beberapa minggu ini kamu tinggali," ucap Asta. "Jangan pernah minta cerai, karena aku enggak akan menceraikan kamu. Bagaimanapun kondisinya."
"Kamu jahat, Mas," ucap Valeria tercekat. "Kamu enggak cuman nyakitin aku, tapi anak kita juga. Padahal, dia enggak tahu apa-apa. Dia lahir tanpa dosa dan—"
"Kamu yang berdosa, Valeria," potong Asta tanpa permisi. "Jadi biarkan anak itu menanggung semuanya dan menyalahkan kamu untuk segala nasib buruk yang dia terima. Enggak peduli kamu bersujud atau mencium kaki aku, aku enggak akan menemui anak itu atau menyayangi dia seperti yang kamu mau. Dia hadir karena kesalahan, dan aku enggak suka kesalahan itu. Paham?"
Valeria mengepalkan tangan dengan tubuh yang semakin menegang, sementara tanpa permisi, Asta meninggalkannya begitu saja di ruangan kerja pria itu.
Tak hanya pergi, Asta juga membanting pintu—membuat Valeria yang semula berdiri tegap, kehilangan kekuatannya. Sambil terisak dengan d**a yang terasa begitu sesak, dia terduduk lalu melampiaskan semua rasa sakit hatinya lewat tangisan.
"Mas Asta, kamu jahat banget sama aku, Mas," ucap Valeria lirih. "Kamu terlalu kejam. Padahal, anak kita butuh sosok ayah. Kamu boleh benci sama aku, tapi anak kita enggak pantas dapat kebencian dari kamu, karena dia enggak tahu apa-apa."
"Mama, Papa, tolongin Vale. Vale enggak kuat."
Sambil memegangi d**a yang semakin terasa sesak, Valeria terus menangis tanpa ada seorang pun yang menenangkannya. Cukup lama meluapkan rasa sedih dengan posisi terduduk di lantai, Valeria coba beranjak lalu dengan tubuh sempoyongan, dia berpindah ke sofa yang tersedia di sana.
Duduk sambil menenangkan hati yang kacau balau, pikiran Valeria ke mana-mana, hingga ponsel di dalam tas yang tiba-tiba saja berdering, membuat tatapan kedua matanya yang sembab, beralih.
Mengambil benda pipih tersebut, Valeria mendapati nama mertuanya terpampang, sehingga dengan segera dia menjawab telepon.
"Halo, Ma. Kenapa?"
"Valeria, Asta ...," ucap sang mertua, disertai tangisan. "Dia kecelakaan, Sayang. Mobilnya ketabrak truk terus jatuh dari jembatan layang."