Chapter 3

1121 Kata
*** "Selamat menikmati karma kamu, Mas. Aku harap setelah ini kamu bisa hidup lebih baik." Tanpa air mata ataupun raut wajah sedih, ucapan tersebut Valeria lontarkan dari mulutnya. Berdiri di dekat kaca sebuah ruangan intensif, Valeria berbicara sambil memandang seorang pria yang berbaring tak berdaya di hospital bed. Tidak hanya tak sadarkan diri, pria tersebut juga dipenuhi berbagai jenis alat medis yang entah apa namanya, Valeria tidak tahu. Namun, yang jelas kondisi pria yang tidak lain adalah Asta tersebut, jauh dari kata baik. Tertabrak mobil lain kemudian jatuh dari jembatan dan mendarat di atas aspal, kondisi Asta dinyatakan kritis dua hari lalu. Mendapatkan penanganan intensif dari petugas medis, nyawa pria itu berhasil diselamatkan. Namun, Asta dinyatakan koma. Entah kapan bangun, dokter tidak memprediksi, tapi yang jelas untuk beberapa waktu Asta ditempatkan di kamar rawat khusus dan tak bisa dijenguk. Sebelum ini, Asta pernah mengalami hal sama yaitu; kecelakaan hingga mengalami koma. Masih sangat mencintai pria itu, Valeria menangisi kondisi Asta bahkan setia merawat suaminya tersebut dengan harapan; sang suami akan memandangnya setelah sembuh. Namun, yang terjadi tak sesuai harapan, sehingga untuk kali ini Valeria tidak bereaksi serupa. Sudah terlalu dalam sakit hati yang dia rasakan, Valeria cuek saat mendengar Asta kritis, bahkan ketika suaminya dinyatakan koma, Valeria tak sedih sama sekali karena pria itu sehat pun, dia tak pernah mendapat keuntungan apa-apa. "Waktu itu aku mungkin masih bisa ngerawat kamu, tapi sekarang enggak akan aku lakuin lagi hal bodoh itu," ucap Valeria, tanpa berpaling dari Asta. "Aku lebih baik memanfaatkan waktu untuk pergi, karena hidup berdua dengan anakku akan jauh lebih baik dibanding bertahan dengan laki-laki seperti kamu. Selamat menyambut status baru saat bangun nanti, Mas, dan semoga kamu miskin setelahnya." Setelah puas bermonolog sambil memperhatikan Asta yang tak berdaya, Valeria menjauh. Tak akan berlama-lama di rumah sakit, dia berniat pulang dan menemui sang putri di apartemen. Namun, baru sampai Valeria di parkiran, sebuah panggilan lebih dulu masuk. Berasal dari sang papa mertua, Valeria menjawab panggilan tersebut. "Halo, Pa." "Papa nemuin surat panggilan sidang di meja kerjanya Asta. Maksudnya apa, Valeria?" tanya sang mertua dari sebrang sana. "Kamu menggugat cerai Asta? Iya?" "Iya, Pa, aku menggugat cerai Mas Asta dan sidang mediasinya dilakuin dua hari lagi," jawab Valeria tanpa rasa takut sama sekali. "Papa boleh datang kalau mau, buat wakilin Mas Asta. Aku enggak keberatan." "Dari semua solusi apa harus cerai jalan keluarnya, Valeria?" tanya sang mertua, terdengar tak terima. "Kamu sama Asta sudah punya anak, apa enggak kasihan dia kalau kalian berpisah?" Valeria tersenyum miring. "Lebih kasihan lagi kalau aku sama Mas Asta tetap bersama, Pa," ucapnya. "Seperti yang Papa tahu, Mas Asta belum pernah lihat anaknya semenjak lahir. Kalau aku sama dia bersama terus, kasihan anakku karena dia harus menyaksikan ibunya disia-siakan. Bahkan enggak cuman ibunya, tapi dia juga. Jadi daripada aku gila dan anakku enggak keurus, lebik baik aku bercerai dari Asta, Pa. Tolong hargai keputusan aku kalau Papa sayang sama cucu Papa." "Tapi kan—" "Aku enggak menerima bujukan apa pun," potong Valeria. "Perceraianku akan tetap berlangsung, dan akan aku pastikan saat bangun nanti, status Mas Asta sudah menjadi duda. Papa silakan cari menantu lain untuk menjadi pendamping Mas Asta karena aku enggak mau." Tak ada keraguan sedikit pun, keputusan Valeria benar-benar sudah bulat—bahkan ketika sang mertua perempuan membujuk baik itu lewat telepon ataupun langsung, dia tak goyah sama sekali. Valeria ingin bercerai dan memulai hidup baru. Tak ada yang bisa mencegah, hal tersebut akan dia realisasikan secepatnya. Tak berjalan sendiri, proses perceraian Valeria dibantu Rakta—sang kepercayaan mendiang papanya di kantor. Dimulai dari mediasi, sidang pertama, dan sidang selanjutnya, Valeria selalu ditemani Rakta juga sang pengacara, sampai akhirnya setelah hampir dua bulan berlalu, sidah putusan digelar. Menggugat Asta dengan berbagai bukti ketidakbertanggungjawaban pria itu, permohonan Valeria dikabulkan. Disidang keputusan, hakim dengan tegas menyatakan perceraian dia dan Asta, sehingga setelah hampir dua tahun menikah, Valeria akhirnya resmi menjanda. "Akhirnya aku lepas, Mas," ucap Valeria pada Rakta yang siang ini mendampingi dirinya seperti biasa. "Aku bebas." "Selamat ya," ucap Rakta. "Semoga setelah ini kehidupan kamu dan anak kamu jauh lebih baik dari sebelumnya. Kamu enggak sendiri karena saya akan selalu ada di setiap proses kamu menyembuhkan diri. Kamu adik saya, dan selamanya akan selalu begitu." Tanpa canggung ataupun malu, Valeria menangis di pelukan Rakta, hingga di tengah rasa senang dan haru, sebuah panggilan didengarnya. "Valeria." Valeria menoleh, dan mendapati Mauren—ibu kandung Asta, di dekatnya. Tak sendiri, siang ini Mauren datang di persidangan bersama sang suami. Menyerah untuk membujuk Valeria, perempuan itu memutuskan pasrah dan menerima keputusan sang mantu, dengan syarat; Valeria jangan menjauhkan dirinya dan sang cucu. "Mama," panggilnya. Tak bicara apa pun, Mauren hanya memandang Valeria dengan kedua mata berkaca-kaca, hingga tidak berselang lama sebuah rengkuhan diberikannya—membuat sang menantu mendekat lalu masuk ke dalam pelukannya. Tertular rasa sedih, kedua mata Valeria ikut basah karena setelah ini pelukan dari sang mertua tak akan dia rasakan lagi. "Maafin Mama ya, kalau selama jadi mertua kamu, Mama kurang membahagiakan kamu sebagai menantu," ucap Mauren dengan air mata yang mulai membanjiri pipi. "Maaf juga karena selama ini Mama selalu meminta kamu bertahan. Padahal, kamu pasti udah secapek itu sama Asta yang selalu memperlakukan kamu dengan buruk." "Mama enggak perlu minta maaf, Ma, Mama enggak salah," ucap Valeria. "Aku juga banyak salahnya sebagai menantu." Mauren tidak menimpali, sementara dekapannya pada tubuh sang menantu, semakin erat. Cukup lama saling mendekap, Valeria melepaskan rengkuhan Mauren lalu beralih pada sang mertua laki-laki. "Pa, aku pamit ya. Maaf kalau selama jadi menantu Papa, aku belum bisa memenuhi ekspektasi Papa." "Papa juga minta maaf karena selama jadi menantu sekaligus istri Asta, kamu banyak sakitnya. Papa doain semoga setelah ini kamu bisa menemukan pendamping yang jauh lebih baik. Papa ikhlas asalkan dia bisa menyayangi cucu Papa." Valeria tersenyum. Tak hanya saling meminta maaf, dia dan sang mertua laki-laki juga saling memeluk selama beberapa detik sebelum akhirnya berpisah. Segala proses selesai, Valeria bergegas meninggalkan gedung pengadilan. Satu mobil bersama Rakta, dia duduk di samping pria itu. "Mas." Mobil melaju, panggilan tersebut Valeria lontarkan—membuat Rakta menoleh sekilas. "Ya?" "Boleh aku minta bantuan sekali lagi?" "Sangat boleh," jawab Rakta. "Kamu mau dibantu apa?" "Aku mau dicariin tempat tinggal di Bandung, Mas, aku mau tinggal di sana," ucap Valeria—membuat raut wajah Rakta berubah kaget. "Enggak cuman rumah, tapi tempat usaha juga karena aku mau bangun hidup baru sama anakku." "Serius mau pindah?" "Iya serius," ucap Valeria. "Satu lagi permintaanku selain itu." "Apa?" "Tolong bikin jejakku hilang dan bikin keluarganya Mas Asta enggak bisa menemukan aku," pinta Valeria yang kembali membuat Rakta terkejut. "Hubungan ayah dan anak, lalu cucu dan kakek juga neneknya memang enggak bisa putus, tapi aku benar-benar pengen hidup tanpa bayangan mereka, Mas. Aku mau hidup yang baru."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN