Hana tak menjawab. Langkahnya semakin cepat, jantungnya berdegup kencang. Di balik pintu kamar yang terbuka lebar, ia melihat Faten masih menggendong bayi mereka wajah pria itu tenang, tapi matanya langsung menyadari kehadiran Hana. Senyum tipis muncul di bibirnya Hana berhenti di ambang pintu. Bayi di gendongan Faten menoleh ke arah ibunya, tangan kecilnya menggapai-gapai “Om…” suara Hana pelan. “Kenapa Om ke sini lagi?” Faten tak langsung menjawab. Ia hanya mengayun bayi pelan, lalu berkata dengan suara datar “Aku cuma menjenguk. Seperti janjiku kemarin.” “Om… tolong, serahkan bayinya. Om harus pulang sekarang,” kata Hana tegas, suaranya gemetar tapi berusaha kuat tangan terulur hendak merebut bayi itu Faten tak bergerak mundur. Ia hanya menggeleng pelan, suaranya tetap lembut “S

