“Sayang…” suara Faten serak Hana tak menjawab. Ia hanya menunduk, jari-jarinya mengusap punggung bayi pelan Dadaa bidangnya menempel di punggung Hana, membuat tubuhnya terasa kecil dan terperangkap Hana menarik napas tajam. “Lepaskan…” Bibirnya menyentuh tengkuk Hana pertama hanya hembusan nafas, lalu ciuman ringan. Hana gemetar “Om… cukup,” Hana mencoba lagi, tangannya mendorong lengan Faten yang melingkar. Tapi tenaganya tak seberapa bayi di sebelahnya membuat geraknya terbatas Faten menarik dagu Hana pelan, memaksa wajahnya menoleh mata Faten gelap, penuh hasrat yang sudah tak terkendali “Aku kangen sekali,” gumam Faten Lalu bibirnya menempel pada bibir Hana Hana menolak. Tangannya mendorong daada Faten lebih keras, tapi Faten tak bergeming. Ciumann itu dalam, Hana mencoba mem

