Faten mendekat, membuka mulut, dan mencicipi masakan buatan Taran. Rasa yang enak merebak di lidahnya. "Lezat sekali," ucapnya sambil tersenyum. Dia lalu bertanya, "Sayang bahagia masak untukku?" Taran, yang berdiri di sebelah kompor, mengangguk dengan wajah cerah. "Iya Om, bahagia." Selesai sarapan, meski hati Faten berat meninggalkan istrinya di rumah ibu mereka dengan Rina di sana, dia harus pergi. Taran meyakinkan dengan lembut, "Gue bakal baik-baik saja disini. Jangan khawatir Ibu sama Rina udah baik kok." Percaya pada kata-kata isttinya, Faten pun pergi untuk mengambil barang-barang tersisa di kontrakan mereka yang lama, sekaligus memasukkan lagi lamaran kerjanya ke rumah sakit tempat dia mengundurkan diri kemarin Sesampainya di rumah, Faten langsung bergegas mencari Taran. Kamar t

