" Thank you. Here’s your card and your receipt."
"Thank you" Balas Angeline sambil mengambil kartu debitnya dari waiter.
Angeline melangkahkan kakinya keluar dari restoran mahal itu tidak lupa menarik tangan Aria keluar bersamanya.
Bagaimana bisa dihari pentingnya, Aria masih saja membuat masalah. Setelah sampai diluar, Angeline menatap Aria sengit minta penjelasan. dengan tangan yang ia dekapkan di dadanya.
"Jadi?"
Aria yang sejak tadi menunduk pun bersuara. "Jadi.. Tadi aku kehilangan arah dan merasa lapar, akhirnya aku makan di resto yang harganya cukup sial, bisa untuk makan ku selama seminggu!."
"Damn! Apa mereka menambahkan serpihan emas disana? Sepertinya tadi aku hanya memakan pasta dengan jamur"
"Hentikan!" kata Angeline dengan jengah nya menghentikan gerutuan Aria.
"Kau kira aku bodoh? Jadi dimana pria kaya itu? Tadi aku melihat bill nya, dan disana tertulis jika kau memesan untuk dua orang."
Aria menunduk, "Dia pergi bersama seorang wanita cantik." cicit Aria menjawab.
"sudah kuduga, lupakan! Sekarang ikut aku, acara ku jadi tertunda karena aku kesini membantumu. Aku ingin memperkenalkan mu dengan... Tunangan ku" wajah Angeline merona saat mengatakan 'Tunanganku' pasti pria itu begitu sempurna.
***
Angeline membawa Aria kembali ke acara nya, walau beberapa orang yang melihat kedatangan Aria dan Angeline sempat bertanya-tanya, kemana perginya Louis yang pastinya. Sudah dapat dipastikan banyak dari mereka mencemooh Aria yang ternyata hanya salah satu 'mainan' louis.
Mereka sempat mengira-ngira jika Aria adalah wanita spesial bagi pria itu, kini mereka bisa bernafas lega karena perkiraan mereka salah, terlebih para gadis cantik dan lajang yang ada disana.
Seorang pria datang menghampiri Aria dan Angeline dengan langkah terburu-buru, raut wajahnya menunjukan rasa kekhawatiran.
Mata Aria terbelalak, dia menduga-duga. "Yap! Aria kenalkan dia tunangan ku Steven Aldrich" jelas Angeline seraya tersenyum lebar kearah Steven
Dan benar saja dugaan Aria. Angeline langsung memeluk Steve saat jarak mereka sudah sangat dekat.
"Kami terlihat sangat cocok!" Ucap Angeline dengan begitu percaya diri.
Setelah Angeline melepaskan pelukannya dari Steve, kini tangan Steve terulur untuk menjabat tangan Aria untuk berkenalan dengan gadis itu.
"Alexandria Dion, sahabat Angeline"
"Steve Aldrich, suami masa depan Angeline" balas Steve, Angeline menyikut pelan lengan Steve karena malu, wajahnya sudah sangat merah. Bagaimana bisa Steve menggodanya di depan sahabatnya sendiri.
Aria terkekeh melihat kedua orang yang sedang kasmaran itu bagai dunia hanya milik mereka berdua.
"Oh ya Aria, Steve akan pergi bersama kita malam ini ke Boston. Katanya dia ingin melihat keseharian ku disana." ucapnya masih dengan malu-malu.
"Oh ya? Kapan jadwal penerbangan kita?"
"Hm.. Sekitar tiga jam lagi, ada apa?" Angeline menyadari ada sesuatu yang janggal dari gerak-gerik sahabatnya itu saat dia memberitahu waktu penerbangan mereka.
"Ada sesuatu yang harus aku lakukan sebelum pergi." jelas Aria yang masih menjadi tanda tanya bagi Angeline.
Berbarengan dengan hembusan angin di tepi pantai, mereka berdiri di dekat resto berbintang yang telah Angeline pesan untuk acaranya.
"Baiklah, kami akan memberimu waktu 1 jam, setelah itu datanglah ke mobil Range Rover warna hitam yang ada di parkiran resto, oke? Jangan sampai terlambat!"
"Terimakasih Angeline, you're the best!" kata Aria yang langsung berlari meninggalkan pekarangan resto.
Angeline hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya.
***
Aria berlari menuju jalan besar, menghentikan sebuah taksi.
"Pergi ke The Setai." seru Aria pada sang supir.
Dalam perjalanan Aria telah menyusun kalimatnya saat bertemu Louis nantinya. Ya dia ingin bertemu Louis untuk yang terakhir kalinya.
Seperti Cinderella yang sihirnya akan hilang pada tengah malam, begitu juga dengan Aria. Waktunya di Miami akan segera berakhir. Dan dia akan kembali menjadi Aria yang hanya salah satu barista di Boston.
Kakinya berlari semakin cepat tatkala menginjak halaman gedung mewah itu setelah menyuruh taksi sebelumnya untuk menunggu dirinya hingga kembali, begitu masuk pekarangan hotel, mata Aria terfokuskan pada seorang wanita yang berdiri di belakang sebuah meja yang cukup besar.
Aria berlari kearah meja resepsionis, "Boleh saya tahu di ruang berapa tuan Logan menginap?"
"maaf, boleh saya tahu anda--" belum sempat sang resepsionis itu menyelesaikan kalimatnya, suara seseorang terlebih dahulu menginterupsi.
"Aria?" Aria menolehkan kepalanya begitu merasa dipanggil oleh suara yang dikenalinya.
Dan benar saja, disana Louis berdiri dengan wajah kebingungan, dengan tangan yang ia masukan ke saku celana dia berdiri di dekat Aria yaitu lobby.
Aria tersenyum lebar, saking senangnya tanpa sadar Aria mengeluarkan air matanya. Aria berlari kearah Louis dan memeluknya dengan erat.
Louis masih diam mematung, dia bingung dengan sikap Aria sekarang ini, sedangkan Aria, dia merasa bahwa saat ini adalah terakhir kalinya mereka bertemu. Jadi Aria ingin mencurahkan segala perasaannya agar ia tidak menyesal dikemudian hari. Toh... Mereka juga tidak akan bertemu lagi, jadi Aria pikir dia ingin membuat sebuah kenangan yang indah yang akan selalu memiliki tempat tersendiri di hati Louis, bukti jika mereka pernah bertemu.
Dan jatuh cinta, entah Louis merasakan hal yang sama atau tidak. Tapi Aria yakin pada dirinya dan hatinya jika ia sedang jatuh cinta, tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta tapi Aria yakin dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melupakan sosok Louis nantinya.
Dia sangat mencintai Louis dan itu cukup untuk membuatnya yakin akan keputusannya ini.
***
Aria terbangun, hampir saja dia tertidur karena terlalu lelah, ia melirik kearah jam dinding. Sudah lewat 1 jam dari waktu yang diberikan Angeline.
Ia melirik kearah Louis yang baru saja tertidur, dia tersenyum hangat lalu menyempatkan diri untuk mencium bibir pria itu lagi, entah sudah ke berapa kalinya.
Lalu diliriknya noda merah miliknya yang berada di seprai putih mahal milik Louis. Dia mengingat lagi bagaimana wajah terkejut Louis saat itu. Dan dia nyaris tidak bisa menahan tawa sekarang.
Aria bangkit dari kasur King Size itu dengan langkah tertatih-tatih dan perlahan, dia memunguti pakaiannya dan memakainya kembali.
Sebelum ia benar-benar pergi, ia sempatkan untuk menuliskan sebuah surat pada Louis. Dan akhirnya Aria pun pergi dari sana.
Waktunya telah habis, Cinderella akan kembali berubah menjadi gadis lusuh desa.
TBC