Green 3. nggak sengaja

1364 Kata
Pagi itu, meja ruang tamu sudah dipenuhi kertas. Green berdiri sambil melipat tangan dengan wajah serius, beberapa detik kemudian Felix menuruni tangga seraya menguap, badannya cukup sakit karena harus tidur di sofa. "What is this … meeting pagi-pagi?" Green menunjuk meja. "Duduk." Felix berhenti di anak tangga terakhir lalu menatap Green, Felix takut jangan-jangan Green mau minta cerai dari dia, Felix belum siap bercerai. “Lo nggak denger gue suruh duduk?” tanya Green. "Wah, nada lo kayak bos aja,” geleng Felix lalu melangkah menghampiri Green, lalu duduk di hadapan Green, jarak mereka cukup dekat. “Lo harus ingat satu hal, gue emang bos di rumah ini.” Felix nyengir, tapi tetap duduk. "Oke, My Bos. Agenda hari ini apa?" Green mengambil satu kertas dan melemparkannya ke depan Felix. "Kontrak." Felix mengambilnya, membaca cepat, lalu menautkan alisnya, ia menatap Green lagi lalu kembali membaca poin-poin yang sudah Green buat untuknya. "Lo serius bikin ini?" “Serius lah. Emang gue kelihatan becanda?” "Pasal satu, nggak ada kontak fisik tanpa izin." Suara Felix cukup nyaring, lalu mendongak kembali menatap Green yang kini bersedekap didepannya. “Ahh ini lebay banget sih,” geleng Felix. “Emang lebay nya dimana? Gue minta nggak ada kontak fisik apa pun, emang salah?” “Jadi, kalau gue lihat lo mau jatuh, nggak usah gue tangkap? Gue biarin aja?” “Ya. Biarin aja, dan gue bukan anak kecil.” Green kesal dan memalingkan wajah lagi. "Pasal dua, nggak boleh masuk kamar kamu tanpa izin." “Gue nggak pernah tuh masuk ke kamar lo, merasa amat sih,” geleng Felix. “Fokus aja lo.” "Pasal tiga, nggak boleh bawa orang lain ke rumah tanpa persetujuan." “Lo pinter baca juga, ya,” kekeh Green. "Wait, ini maksudnya lo juga nggak boleh bawa cowok lain?" Green langsung menyeringai tipis. "Emang gue punya cowok? Nggak, ‘kan?” Felix diam sebentar, lalu menyeringai, Felix mengangguk dan berkata, “Oke. Good. Gue suka sama pasal tiga ini.” "Apa?" Felix cepat menggeleng. "Nothing. Lanjut." Green menunjuk kertas itu. "Tanda tangan." Felix menyandarkan badan. "Lo pikir gue bakal nurut semua ini?" Green mendekat sedikit, suaranya dingin. "Lo mau nikah pura-pura ini jalan atau nggak?" Felix menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. "You’re scary." "I know." Felix akhirnya mengambil pulpen. "Fine. Gue tanda tangan, tapi siapa pun melanggar, harus bayar denda." Felix lalu menandatangani aturan rumah yang dibuat Green. “Lo nggak mau baca yang pasal selanjutnya? Itu sampai poin 10 loh.” “Nggak perlu, gue udah tanda tangan, dan apa pun yang lo mau, silahkan. Lo kan nyonya rumah ini.” Green langsung mengambil kertas itu lagi. "Oke. Mulai sekarang kita strictly profesional." "Profesional?" Green mengangguk. "Kita cuma partner. Nothing more." Felix berhenti tepat di depannya, cukup dekat. "Nothing more?" "Nothing." Felix tersenyum miring. "We’ll see." *** Siang menunjukkan pukul 11, Green lagi di dapur, Felix masuk sambil bawa minum. "Eh, gue mau tanya." Felix santai. "Apa?" "Kalau di luar kita harus kelihatan mesra kan?" Green berhenti. “Ya. Itu ada di poin 5.” Felix mendekat. "Define mesra." Green menoleh kesal. "Lo pura-pura nggak tau?" "Gue butuh detail. Biar acting gue maksimal." "Ya ... kayak pegangan tangan, atau … ya biasa lah. Kita kan udah nikah kontrak, harusnya kayak gitu sih, apalagi didepan nyokap bokap gue, gue nggak mau mereka curiga, entar warisan gue di ambil balik lagi.” “Lo udah segede ini masih mikirin warisan?” “Ya tentu. Gue nggak mau warisan gue di ambil sama anak haram bokap.” “Silvi?” “Yes. Dia anak haram bokap.” “Jadi, gimana sama Silvi? Dia bakal dapat warisan nggak?” “Warisan Silvi bakal sedikit, karena gue nikah duluan,” jawab Green. “Apa? Jadi, lo gunain gue untuk itu? Jadi, lo nggak rugi sama sekali dong?” tanya Felix menatap Green yang saat ini mengangkat kedua bahunya. “Emang lo nggak nyadar? Gue nggak perduli sama nama baik keluarga gue, karena itu gue mau nikah sama lo, walau lo nyebelin dan buat gue kesal terus, tapi karena lo, gue bakal temui pengacara keluarga gue buat ngomongin warisan.” “Sungguh. Lo jebak gue.” “Kan lo yang nawarin diri buat nikahin gue. Kenapa? Nyesel? Tenang aja. Gue bagi kok duitnya, kalau gue udah terima warisan.” “Udah lah. Terserah lo aja, gue nggak mau ikut campur urusan warisan lo itu.” “Besok adalah ulang tahun Nenek, kita harus ke rumah bokap gue, jadi lo tahu kan apa yang harus lo lakuin?” tanya Green. “Ya. Tapi ada syaratnya.” “Duit? Gue kasih lo duit kok.” Green menyergah. “Lo pikir gue semiskin itu ya?” geleng Felix karena selalu dianggap rendah oleh Green, padahal ia tidak semiskin yang Green kira, Green hanya tak tahu siapa dia, karena sejak dulu mereka musuhan dan Felix selalu datang dengan motor butut, jadi Green menganggap Felix miskin, ditambah lagi Felix tak punya pekerjaan, jadi ya Green beranggapan seperti itu. Felix melangkah untuk mengikis jarak dengan Green. Membuat Green melangkah mundur. “Lo jangan macam-macam, b******k!” ujar Green. "Gue cuma mau memastikan." "Lo mau apa sih? Berhenti nggak!" Felix tidak berhenti. "Kalau orang nanya, kita harus kelihatan beneran, ‘kan?" Green menelan ludah dan berkata, “Ya.” Felix mendekat lagi dan jarak mereka tinggal sejengkal. Green langsung spontan dorong d**a Felix. "STOP RIGHT THERE!” Felix tertawa. "Lo takut?" "Gue jijik sama lo.” Green menjawab. Felix mengangguk pelan. "Ouch. That hurts.” Green mendesah napas halus, ia nggak mungkin merusak harga dirinya karena musuh bebuyutannya ini, sejak dulu mereka nggak pernah akur, dan Green juga nggak pernah membayangkan sebelumnya bisa nikah sama Felix. *** Sore menunjukkan pukul 5, Green lagi duduk di sofa, seraya membaca sesuatu dari ponselnya. Felix datang dan langsung duduk di sebelah Green, dan jarak mereka tinggal sejengkal. Green langsung geser. "Jauh dikit." "Kita harus latihan." "Latihan apaan?!" tanya Green dengan kilatan amarah, karena setiap waktu Felix selalu saja mengganggu hidupnya. "Chemistry." Green langsung berdiri. "Gue nggak ikut! Latihan aja sendiri." Felix menarik tangannya, refleks dan Green kehilangan keseimbangan dan Green jatuh tepat di pangkuan Felix. Posisi mereka, terlalu dekat, wajah mereka juga cuma beberapa centimeter, napas saling terasa. Green dan Felix membeku. Untuk pertama kalinya, nggak ada yang ngomong. Padahal jelas-jelas, di pasal 1 perjanjian mereka nggak boleh ada sentuhan fisik apa pun, namun sepertinya Felix nggak perduli dengan perjanjian itu. “Lo!” Mereka ngomong bersamaan, lalu diam lagi. Felix menatap mata Green dengan serius, tatapannya juga beda dari biasanya. "You okay?" tanya Felix Green menelan ludah. "I should hate this.” "But?" Green nggak jawab dan itu cukup. Felix menggeser sedikit kepala dan sebelum Green sempat mikir, bibir mereka … bersentuhan singkat tapi jelas. Green langsung membeku total, detik terasa lama. Lalu, setelah sadar Green langsung mendorong Felix kuat. "WHAT THE HELL WAS THAT?!" Felix juga kaget, tapi tetap mencoba santai. “Aku—" "LO GILA YA?!" "Wait, gue—" Green menunjuk dia dengan gemetar. "ITU MELANGGAR KONTRAK!" Felix mengusap tengkuknya. "That wasn’t planned.” "LO CIUM GUE!" "LO JATUH DI ATAS GUE!" balas Felix "ITU BEDA!" "SAMA AJA!" Felix juga kesal. Green benar-benar marah sekarang. "WAS IT PART OF YOUR STUPID PLAN?!" "No." Green berhenti dan Felix menatapnya serius. "It just … happened." Green menggigit bibir, ia kesal, ia bingung dan ia marah besar, karena Felix sudah menyentuh bibirnya, sebenarnya itu nggak masalah karena mereka suami istri, tapi mereka nggak pernah menginginkan pernikahan ini, mereka hanya sama-sama membutuhkan jadi mereka nikah. "Jangan pernah ulangi lagi." Felix mengangguk pelan. “Okay. Lo buat gue kayak memperkosa lo aja.” “Gue nggak suka lo kayak gini, tolong lo jangan dekat-dekat gue deh.” Green langsung berbalik dan jalan cepat ke kamarnya. BRAK! Pintu ditutup keras dan Felix berdiri di ruang tamu, Felix menghela napas, jantungnya berdebar hebat, dan menjilat bibirnya, terasa manis dan lipstik Green tertinggal dibibirnya. “s**t! Kenapa jadi gini sih.” Sementara di dalam kamar, Green bersandar di pintu, tangannya menyentuh bibirnya sendiri. "Apaan sih tadi. Nggak. Nggak boleh." Green melangkah menuju cermin, menatap dirinya sendiri. Green menegaskan pada dirinya sendiri, kalau dia benci Felix, tapi jantungnya masih berdebar lebih cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN