bc

My Favorite Enemy

book_age16+
1
IKUTI
1K
BACA
dark
love-triangle
contract marriage
BE
family
HE
love after marriage
friends to lovers
stepfather
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
city
office/work place
enimies to lovers
lies
addiction
like
intro-logo
Uraian

​"Satu pengkhianat menghancurkan hatiku, satu musuh bebuyutan menyelamatkan harga diriku."​Green Atmadja mengira hari pernikahannya dengan Yudi akan menjadi puncak kebahagiaannya. Namun, tepat di depan matanya, kesetiaan Yudi hancur berkeping-keping. Di tengah kehancuran itu, Felix—pria yang selalu menjadi saingan dan musuh bebuyutannya sejak SMP—muncul bukan untuk mengejek, melainkan menawarkan sebuah kesepakatan gila.​"Menikahlah denganku. Biar Yudi tahu bahwa kehilanganmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya."​Terjepit antara rasa malu keluarga Atmadja dan dendam yang membara, Green menerima uluran tangan Felix. Namun, tinggal satu atap dengan musuh bebuyutan ternyata jauh lebih berbahaya daripada dikhianati tunangan sendiri. Terutama saat Green menyadari, Felix tahu cara menyentuh hatinya dengan cara yang tidak pernah Yudi lakukan.

chap-preview
Pratinjau gratis
prologue nih boss
Harusnya hari ini adalah hari paling bahagia bagi seorang Greeny Atmadja. Setidaknya, itulah yang tertulis di undangan mewah berlapis emas yang tersebar ke relasi bisnis ayahnya, Prabu Atmadja. Di cermin besar kamar hotel presidential suite itu, Green menatap dirinya yang dibalut gaun putih karya desainer ternama. Cantik? Jelas. Tapi hatinya mendadak gelisah. "Yudi mana, El?" tanya Green pada Elina, sahabatnya yang sedang sibuk membetulkan clutch-nya. "Tadi katanya ke toilet, Green. Bentar lagi juga balik, kan acara tukar cincinnya sepuluh menit lagi," sahut Elina tanpa menoleh. "Tapi, perasaanku nggak enak," jawab Green. "Kamu mungkin hanya deg-deg-an." Green tidak tenang. Instingnya mengatakan ada yang salah. Tanpa memperdulikan teriakan Elina, Green mengangkat ekor gaunnya dan keluar dari kamar. Dia menyusuri lorong sepi menuju area balkon belakang yang jarang dilewati tamu. Dan di sanalah dunianya runtuh. Di balik pilar marmer, Yudi—pria yang sudah tiga tahun memegang hatinya—sedang memeluk seorang wanita. Bukan sekadar memeluk, mereka berciuman panas dan itu didepan Green. Suara tawa pelan Yudi yang khas terdengar menjijikkan di telinga Green. "Tenang aja, Sayang. Green itu cuma buat status. Bisnis keluarganya yang aku butuhin. Setelah nikah, kita bisa ke Bali sepuasnya," bisik Yudi. Green merasa oksigen di sekitarnya habis. Tangannya gemetar, tapi alih-alih pingsan seperti drama di TV, dia justru meraih vas bunga keramik di meja konsol terdekat. PRANG! Vas itu hancur berkeping-keping di lantai. Pasangan menjijikkan itu tersentak. Wajah Yudi memucat seketika saat melihat Green berdiri dengan mata menyala. "G-green? Ini nggak kayak yang kamu lihat.” "Basi, Yud," potong Green dingin. Suaranya tidak bergetar. "Acara hari ini batal. Keluar lo dari sini sebelum gue panggil keamanan buat nyeret lo kayak sampah." Yudi mencoba mendekat, tapi Green mundur dengan tatapan jijik yang begitu dalam. "Keluar!" Setelah Yudi dan selingkuhannya lari terbirit-b***t, pertahanan Green runtuh. Dia bersandar di dinding, mencoba mengatur nafasnya yang sesak. Di saat itulah, sebuah tepuk tangan pelan terdengar dari arah bayangan balkon. "Gila. 10 per 10 buat akting lo tadi. Gue nggak nyangka, Green Atmadja yang cengeng waktu SMP bisa sekeren itu." Green menoleh tajam. Di sana, bersandar santai dengan rokok di tangan, ada pria dengan setelan jas hitam yang harganya mungkin setara mobil mewah. Wajahnya tampan, tapi senyum miringnya selalu sukses membuat darah Green mendidih. Felix. Si musuh bebuyutan sejak jaman putih-biru. "Lo ngapain di sini, Felix? Mau ngetawain gue?" semprot Green ketus. Felix melangkah mendekat, menghembuskan asap rokoknya ke samping. "Ngetawain? Ya iya, dikit sih. Habisnya, selera lo rendah banget, Greeny. Yudi? Serius? Cowok yang pakai parfum diskonan kayak gitu lo jadiin tunangan?" "Mulut lo bisa dijaga nggak, sih? Gue lagi nggak mood berantem sama lo!" "Gue nggak ngajak berantem," Felix mengangkat bahu, melangkah sampai jarak mereka hanya tersisa satu lengan. "Gue cuma heran aja. Anak Pak Prabu Atmadja yang sombongnya minta ampun ini, ternyata bisa b**o juga soal cowok." Green mengepalkan tangannya. "Pergi, Lix. Sebelum gue hancurin muka lo pakai sisa vas ini." Felix justru terkekeh. Dia menatap Green dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Gaun lo bagus. Mahal kan? Sayang banget kalau cuma dipakai buat nangisin cowok b******k kayak si Yudi." "Bukan urusan lo!" "Jadi urusan gue sekarang," ujar Felix tiba-tiba meraih dagu Green, memaksa gadis itu menatap matanya yang tajam. "Bokap lo ada di dalam. Relasi bisnisnya juga. Kalau mereka tahu acara ini batal karena lo diselingkuhin, harga diri Atmadja jatuh ke selokan. Lo mau liat bokap lo kena serangan jantung?" Green terdiam. Itu ketakutan terbesarnya. Ayahnya sangat membanggakan pernikahan ini. "Terus gue harus gimana? Tetap nikah sama pengkhianat itu?" suara Green mulai parau. Felix menyeringai, tipe seringaian yang selalu bikin Green merinding sejak SMP. "Enggak perlu. Ganti aja pemeran utamanya. Yudi pecat, ganti sama gue." Green melongo. "Lo ... lo gila ya?" "Gue serius, Greeny. Lo butuh penyelamat muka, gue butuh istri buat bungkam mulut nyokap gue yang bawel nyuruh nikah. Kita temenan—eh, musuhan—udah dari SMP. Gue udah tahu busuk-busuknya lo, lo juga udah tahu betapa gantengnya gue. Fair enough, kan?" Green tertawa hambar. "Nikah sama lo? Lo itu musuh gue, Felix! Kita nggak pernah akur semenjak lo naruh kodok di tas gue pas kelas 8!" "Dan lo bales dengan nyiram gue pakai kuah bakso di kantin, inget kan?" Felix mendekat ke telinga Green, berbisik dengan nada yang mendadak rendah. "Daripada lo nanggung malu seumur hidup, mending lo nikah sama gue. Lo bisa balas dendam ke Yudi sesuka hati lo. Gue bakal pastiin dia hancur sehancur-hancurnya. So, what do you say, My Favorite Enemy?" Green menatap mata Felix. Pria ini menyebalkan, mulutnya sampah, dan selalu hobi menjailinya. Tapi di saat semua orang mungkin akan mengasihaninya, hanya Felix yang menawarkan kekuatan. "Lo ... nggak bakal nyesel?" tanya Green ragu. Felix menarik tangan Green, mengecup punggung tangannya dengan gaya teatrikal yang menyebalkan tapi entah kenapa bikin jantung Green berdesir. "Nyesel? Enggak. Justru idup gue bakal makin seru karena bisa ngerjain lo tiap hari secara legal. Ayo, Greeny. Kita bikin pertunjukan yang nggak bakal dilupain orang-orang."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.3K
bc

Kali kedua

read
219.9K
bc

TERNODA

read
200.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
79.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook