Menikah dengan musuh bebuyutan itu rasanya seperti memelihara bom waktu di dalam kamar, tapi bomnya bisa bicara dan hobi banget ngejek warna daster yang lo pakai.
Itulah yang dirasakan Green Atmadja, eh sekarang ada tambahan nama belakang suaminya yang menyebalkan itu.
Sudah satu minggu Green resmi menyandang status istri Felix. Dan dalam tujuh hari itu pula, Green menyadari bahwa Felix yang dia kenal di SMP dulu belum berubah sama sekali.
Masih tengil, masih berisik, dan masih punya tingkat kepercayaan diri yang melampaui atmosfer bumi.
"Green! Lo masak apa hari ini? Bau-baunya kayak ban mobil dibakar ya?"
Suara bariton Felix menggema dari arah dapur. Green yang sedang asyik memakai masker wajah di depan cermin ruang tengah langsung berdiri dengan mata melotot.
"Itu namanya smoked beef, Felix! Lidah lo aja yang norak, nggak bisa bedain bau daging mahal sama ban karet!" teriak Green sambil jalan menghentak menuju dapur.
Felix berdiri di depan kompor, masih pakai handuk yang melilit di leher dan kaos oblong putih.
Dia menunjuk penggorengan dengan spatula seolah-olah itu adalah barang bukti kejahatan.
"Smoked beef apaan kalau bentuknya udah mirip arang kayu begini? Ini kalau gue makan, besok gue bukannya ke kantor malah ke tukang gali kubur, Greeny," ejek Felix sambil nyengir.
Green merebut spatula itu dari tangan Felix. "Heh, denger ya. Lo harusnya bersyukur gue mau ke dapur. Di rumah bokap gue, gue itu tuan putri. Pegang pisau aja dilarang sama nyokap. Ini demi nutupin status kita yang 'menikah karena cinta' di depan adik lo, gue bela-belain bangun pagi!"
Felix tertawa remeh. Dia menyandarkan tubuhnya di konter dapur, menatap Green yang wajahnya penuh masker abu-abu.
"Tuan putri katanya? Tuan putri yang kalau tidur mangapnya lebar banget sampai lalat bisa bikin cabang perusahaan di dalem sana? Gue liat sendiri ya semalem."
Wajah Green mendadak panas. "FELIX! Lo beneran ngintipin gue tidur?!"
"Ya kamar kita cuma dibatesin guling, Green. Mata gue nggak sengaja liat ke samping. Lagian lo tidurnya pecicilan banget, kaki lo hampir kena idung gue yang aset berharga ini," ujar Felix menunjuk hidung mancungnya dengan bangga.
Tepat saat Green mau melayangkan spatula ke lengan Felix, seorang remaja perempuan dengan rambut berantakan masuk ke dapur sambil mengucek mata.
Ema, adik Felix yang berumur 19 tahun, menatap kedua kakaknya dengan malas.
"Bisa nggak sih sehariiii aja kalian nggak ribut? Gue kira ada kebakaran, ternyata cuma Kak Felix yang lagi nyari mati," gumam Ema sambil berjalan menuju dispenser.
"Ema, liat nih kakak ipar lo. Dia mau ngeracunin gue pakai arang item begini," adu Felix.
Ema melirik penggorengan, lalu melirik Green. "Yah ... Kak Green, jujur ya, kalau itu dimakan Ema juga takut usus Ema jadi hitam permanen. Tapi daripada dengerin Kak Felix bawel, mending Kak Green siram aja mukanya pakai sisa air cucian beras."
Green tertawa puas. "Denger tuh, Lix! Adik lo aja dukung gue."
"Ema, lo itu adik gue atau adiknya dia sih? Sejak Green masuk rumah ini, posisi gue sebagai kakak paling ganteng di dunia ini kayaknya mulai goyah," ujar Felix pura-pura terluka sambil memegang dadanya.
"Kakak nggak ganteng kalau lagi bawel, Kak Lix. Udah ah, Ema mau berangkat kuliah. Kak Green, titip ya, kalau Kak Felix makin parah, kunciin aja di gudang bawah tanah." Ema melambaikan tangan dan pergi setelah menyambar selembar roti tawar yang tidak gosong.
Setelah Ema pergi, suasana dapur kembali jadi milik Tom and Jerry dewasa ini.
Green kembali fokus ke penggorengannya, mencoba menyelamatkan apa yang tersisa dari sarapan mereka.
"Lix, lo beneran mau berangkat ke kantor jam segini?" tanya Green, mencoba mencairkan suasana meskipun tetap pakai nada ketus.
"Iya lah. Gue ada rapat sama klien. Emangnya lo? Yang kerjanya cuma scrolling t****k sambil nungguin paket datang?"
"Heh, mulut lo! Gue lagi nyusun konsep buat galeri seni gue ya! Jangan pikir gue nggak punya kerjaan," ujar Green mematikan kompor.
Dia menyajikan dua potong daging yang agak hitam itu di atas piring. "Nih, makan. Jangan banyak protes. Kalau lo mati, gue jadi janda kaya, harta lo buat gue semua."
Felix menarik piring itu. Dia memotong sedikit dagingnya, mengunyahnya dengan ekspresi yang sangat dramatis.
Matanya merem-melek seolah-olah sedang mencicipi makanan bintang lima, tapi kemudian dia tersedak.
"Air ... air... " Felix memegang lehernya.
Green panik. "Eh, Felix! Lo beneran keselek?! Aduh, jangan mati sekarang dong, gue belum hafal nomor pin ATM lo!"
Green buru-buru lari ke dispenser. Tapi dasar nasib, dispenser itu ternyata kosong melompong.
Green menekan tombol panas, dingin, semuanya nggak keluar air.
"Kosong, Lix! Airnya abis!" teriak Green histeris.
Felix masih akting batuk-batuk sampai mukanya merah. Green yang panik langsung lari ke arah Felix, menepuk-nepuk punggungnya dengan keras.
"Ayo keluarin! Jangan mati dulu!"
Tiba-tiba Felix berhenti batuk. Dia menatap Green dengan tatapan datar, lalu meledak dalam tawa.
"Hahahaha! Green, muka lo ... sumpah! Masker lo retak semua gara-gara panik! Lo beneran takut gue mati ya? Cieee, sayang ya sama gue?"
Green terpaku. Tangannya masih menempel di punggung Felix. Green baru sadar kalau ia baru saja dikerjain habis-habisan.
"FELIX! LO BENER-BENER SAMPAH, YA!" Green memukul bahu Felix berkali-kali.
"Aduh, aduh! Sakit, Green! Galak banget sih lo, pantesan si Yudi selingkuh, lo mah kayak singa betina lagi PMS tiap hari," ceplos Felix sambil mencoba menghindar.
Kalimat itu langsung bikin Green berhenti memukul. Nama Yudi masih jadi titik sensitif buatnya.
Felix yang sadar mulutnya sedikit kebablasan, langsung berhenti tertawa.
Suasana dapur yang tadinya berisik jadi hening seketika.
Green menunduk, menatap kakinya. "Ya ... mungkin lo bener. Gue emang terlalu berisik buat dia."
Felix menghela napas. Dia melangkah mendekat, menghilangkan jarak di antara mereka. Felix nggak mengejek lagi. Tangannya terangkat, lalu dengan ragu dia menepuk puncak kepala Green.
"Canda, Greeny. Jangan dimasukin ke hati. Si Yudi itu aja yang matanya katarak. Dia kehilangan permata cuma demi dapetin kerikil jalanan. Lo itu ... ya meskipun berisik, tapi lo itu Green Atmadja. Nggak ada yang bisa gantiin lo."
Green mendongak, menatap mata Felix yang biasanya penuh kilat jahil, sekarang terlihat tulus.
"Tumben omongan lo bener. Lo kesurupan apa?"
Felix langsung menarik tangannya kembali dan kembali ke mode tengilnya.
"Kesurupan ganteng. Udah ah, gue mau mandi. Lo bersihin tuh masker, serem banget gue liatnya. Kayak semen bangunan yang lupa dihalusin."
"FELIIIIXXXX!!!"
***
Satu jam kemudian …
Green sudah rapi dengan baju rumahannya yang stylish. Ia sedang duduk di ruang tamu saat ponselnya berbunyi. Nama 'Mama Winda' muncul di layar.
‘Halo, Ma?’
‘Green! Mama sama Papa lagi di jalan mau ke rumah kamu nih. Kangen banget sama pengantin baru. Felix ada kan? Mama bawain rendang kesukaan dia.’
Mata Green membelalak. ‘Hah?! Ma, sekarang banget?!’
‘Iya, sepuluh menit lagi nyampe. Siap-siap ya!’
Klik. Telepon ditutup.
Green langsung lari ke lantai dua, menuju kamar mandi tempat Felix sedang asyik nyanyi-nyanyi nggak jelas.
BRAK!
Green menggedor pintu kamar mandi.
"Felix! Buka! Darurat!"
"Woi! Gue lagi sabunan! Jangan masuk, gue tahu gue seksi tapi nggak sekarang juga!" teriak Felix dari dalam.
"Bodo amat sama seksinya lo! Nyokap gue mau dateng! Sepuluh menit lagi! Lix, rumah ini berantakan banget, bekas perang lo sama Ema semalem belum diberesin!"
Hening sejenak, lalu terdengar suara Felix yang panik. "Hah?! Mertua gue mau dateng?! Kenapa lo nggak bilang dari tadi, Green Tea?!"
"Mana gue tahu! Udah cepetan keluar! Kita harus akting jadi pasangan harmonis yang rumahnya rapi!"
Lima menit kemudian, Felix keluar dengan rambut basah dan cuma pakai celana pendek. Mereka berdua bak tim pembersih profesional kilat.
Felix menyapu ruang tamu dengan kecepatan cahaya, sementara Green menyembunyikan tumpukan baju kotor ke dalam lemari sampai pintunya hampir nggak bisa ditutup.
"Lix, bantal sofa rapiin!"
"Ini udah rapi, Green! Lo jangan bawel, mending lo semprot parfum ruangan biar nggak bau nasi gosong tadi!"
Tepat saat mereka berdua baru saja duduk di sofa dengan napas tersengal-sengal dan pura-pura baca majalah, bel rumah berbunyi.
Ding-dong!
Green dan Felix saling pandang. Felix langsung merangkul bahu Green secara paksa.
"Senyum, Greeny. Jangan sampai nyokap lo curiga kita tiap hari baku hantam."
"Tangan lo bau sabun pepaya, Lix. Jauh-jauh dikit!" bisik Green sambil memasang senyum palsu paling manis sedunia.
Pintu terbuka. Mama Winda dan Papa Prabu masuk dengan wajah sumringah.
"Aduh, anak-anak Mama! Mesra banget sih duduknya pelukan gitu," seru Mama Winda gemas.
Felix makin mempererat rangkulannya, bahkan mencium pelipis Green dengan suara yang sengaja dikeras-kerasin.
MUACH!
"Iya dong, Ma, Green kan nggak bisa jauh-jauh dari aku. Ya kan, Sayang?" tanya Felix dengan nada manis yang bikin Green pengen muntah di tempat.
Green membalas dengan mencubit pinggang Felix diam-diam sampai Felix hampir berteriak.
"Iya, Ma, Felix itu perhatian banget. Saking perhatiannya, Green sampai merasa ... sesak napas setiap hari."
Papa Prabu tertawa bangga. "Baguslah kalau kalian akur. Papa nggak salah pilih Felix buat gantiin si pengecut Yudi itu. Felix, jagain Green ya. Dia ini emang agak manja."
"Siap, Pa. Jagain Green mah gampang, yang susah itu jagain kesabaran aku aja kalau dia lagi mulai kumat," jawab Felix sambil melirik Green dengan penuh kemenangan.
Sore itu pun penuh dengan tawa palsu, cubit-cubitan rahasia di bawah meja makan, dan Felix yang bolak-balik nambah rendang Mama Winda sambil terus-menerus memuji Green di depan mertuanya sebagai istri idaman yang masakannya unik.
Bagi Green, ini adalah awal dari kehidupan pernikahan yang sangat melelahkan, tapi entah kenapa ... ia mulai menikmati setiap keributan kecil ini.