Interesting

964 Kata
Malam semakin larut, Oma Elle tampak tertidur di sofa. Joanna mengguncang tubuh renta itu perlahan. “Oma ... bangunlah, tidurnya pindah ke kamar,” ujar Joanna setengah berbisik. Kedua tangan yang mulai keriput itu terangkat ke atas, tubuhnya menggeliat. “Hmm, baiklah. Nak Kennan jangan pulang sebelum hujan reda ya." “Iya, Oma. Selamat malam,” ucap Kennan. “Malam juga.” Setelah itu, kedua anak muda itu yang duduk berjauhan di sofa sambil terdiam. Sesekali, Joanna menatap langit-langit rumah. Kennan bisa membaca, dari tatapan kosong Joanna, ada gurat kerinduan di wajah sayu itu. Kemudian Kennan merogoh sesuatu dari sakunya. “Nih. Tadi gue sekalian beli obat saat nyari makanan. Obat ini pereda nyeri, oles ke wajah dan tanganmu. Aman, kok." Joanna terdiam menatap obat itu. Walau ragu, akhirnya ia terima. “Makasih.” Kennan tersenyum, karena gadis itu mulai melunak. “Kalau boleh tau, di mana orang tuamu?” tanyanya kemudian. “Ngapain tanya itu?" Lelaki berhidung bangir itu terkekeh. Ia salah duga, rupanya Joanna masih ketus seperti awal bertemu. “Nggak apa-apa, habisnya rumah ini sepi." Joanna tersenyum hambar. “Terkhusus hal itu, lo gak diperbolehkan untuk bertanya,” jawab Joanna. Kennan menelan saliva. Ia benar-benar harus hati-hati bicara dengan gadis itu, khawatir akan menyinggung perasaannya. “Maaf. By the way, lo unik!" Mendengar itu, Joanna menjadi kikuk dan membuang muka. “Oya. Apa sih, alasanmu berpenampilan seperti laki-laki?” Lagi-lagi, Kennan bertanya. Joanna bangkit lalu menghentakkan kakinya karena kesal. “Heh! Kita baru sekali bertemu, stop nanya-nanya soal pribadiku, paham! Mulutmu julid kayak netijen!" ujarnya setengah membentak. Kennan mengerjap karena terkejut, sedetik kemudian ia kepayahan menahan tawa. “Eh, pa-paham Jo. Sekali lagi maaf.” Gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan membuka pintu. Seketika hawa dingin masuk ke ruangan itu. “Hujan udah reda. Baiknya lo balik ke rumahmu,” ucap Joanna tanpa menatap pemuda itu. Kali ini, lelaki itu tidak ingin membantah ucapan Joanna. Selain tidak ingin membuat gadis itu susah, juga mereka baru saja saling mengenal, tidak mungkin dengan beraninya Kennan menumpang tidur. “Oke. Gue harap kita masih bisa bertemu," ucap Kennan. “Entahlah. Cepat pergi, gue capek." “Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa olesi wajahmu dengan obat itu.” Lelaki berpostur tinggi itu kemudian berjalan melangkah keluar, sambil memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. Joanna terus menatap punggungnya, ia baru sadar jika baju lelaki itu masih basah terkena hujan. **** Seorang maid bernama Mui, jalan tergopoh membukakan pintu, saat Kennan memencet bel. “Maaf Bi, gara-gara aku pulang larut Bibi jadi kebangun tidurnya,” ucap Kennan saat ia telah sampai di rumahnya. Pembantu berusia lebih dari lima puluh tahun itu tersenyum. “Nggak apa-apa Den, udah biasa kok. Oya, baju Anda basah, Bibi ambilkan handuk dulu.” Bi Mui hendak melangkah. “Eh, gak usah Bi. Biar aku nanti sekalian mandi, tolong buatkan cokelat panas aja, antar ke kamarku ya," ujar Kennan. “Oh, baik. Sama makannya sekalian?” “Nggak deh, udah makan di luar tadi.” Maid itu menganggukkan kepala. "Oya, tadi nyonya bertanya kenapa Anda tidak memakai mobil ke kampus?" Alis lelaki itu bertaut. Rasanya terasa aneh, jika ibunya tiba-tiba perhatian terlebih ini hal yang sepele. “Emang mama tau aku gak bawa mobil?” tanyanya. “Tau, Den." “Oh, aku lagi malas pake aja. Lagi suka naik taksi. Papa sudah pulang kan?” tanya Kennan masih berharap. “Ng ... belum. Mungkin sedang di perjalanan.” Mata elang itu meredup sejurus kemudian bibirnya melengkung. Sebuah senyuman yang terlihat hambar. Rasanya mustahil lelaki paruh baya itu bisa pulang lebih awal. “Ya sudah. Aku mulai kedinginan, mau mandi.” Kennan mulai melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. **** Kadang hati Berharap kuterbangun dari sebuah mimpi Ini bukan kenyataan Namun adanya tak ada di sini Kau meninggalkanku karena kesalahanku. Lelaki bermata elang itu memasang ear phone-nya, menikmati alunan lagu. Tangannya dia posisikan di belakang kepala untuk dijadikan bantal, sementara pikirannya menerawang pada kejadian saat bertemu dengan gadis tomboi itu. “Gadis yang unik!” gumamnya. Terdengar suara ketukan pintu. Kennan bangkit, “Masuk aja Bi!” ujarnya. “Hai, sayang. Kamu sudah pulang?” “Mama? Kirain Bi Mui yang antar cokelatnya,” ucapnya datar. Entah kenapa, kehadiran Rose malah seolah merusak mood-nya yang tengah asyik mendengarkan lagu. Dia kembali ke posisinya semula, menatap ke arah langit-langit berwarna putih. Sementara perempuan paruh baya itu mendorong kursi rodanya dengan sebelah tangan, sebelah tangan lainnya memegang minuman pesanannya. “Iya. Tadi, bilang ke bibi, biar mama aja yang antar minumannya.” Kennan bergeming. “Tumben kamu pulang larut. Banyak tugas di kampus ya?” tanya Rose sambil menyimpan segelas cokelat panas di nakas. “Nggak. Dosen mata kuliahku gak ada, jadi tadi iseng main,” jawabnya santai. Rose mengerutkan dahi. “Main sama siapa sampai selarut ini?” “Sendiri,” ucap Kennan tersenyum getir. “Main boleh. Tapi jangan sampai malam begini, mama khawatir.” Kennan mendelik. “Sejak kapan Mama peduli padaku?” Rose tertunduk, entah apa yang dipikirkannya. Sudah tiga tahun lalu, sejak sebuah kejadian yang tidak ingin ia ingat-ingat lagi. Bukan tidak peduli, tapi takut luka itu semakin dalam yang hanya akan membuat hatinya menjadi lemah. Hal itu pula yang membuatnya tidak bisa sering meninggalkan rumah. Padahal hatinya ingin seperti yang lain, bergaul dengan teman atau pergi ke mana pun yang ia suka. Iris matanya bisa menangkap wajah pucat sang ibu. “Mama sakit?" Rose tersenyum tipis. “Hanya sedikit pusing, kok.” Jawaban sok kuat itulah yang kerap membuatnya muak. Di hadapannya Rose selalu berpura-pura kuat dan baik-baik saja. “Well. Aku mulai ngantuk, mau tidur,” ucapnya. Berharap mamanya segera keluar dari kamarnya. “Oke sayang, tidur yang nyenyak.” Rose mengusap halus bahunya. Sentuhan itu tak lagi terasa nyaman, karena sudah lama kehangatan itu menguap entah ke mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN