Kelegaan menyeruak. Setidaknya satu masalah selesai.
Mereka telah berada di dalam mobil. Sesekali, Kennan memegang punggung tangan Joanna yang mulai bersuhu tinggi.
“Kamu demam.”
Joanna menoleh dengan mata sayu. “Besok bakalan baikan, tenang aja. Tapi ... ini kan ke arah rumahku, kenapa gak ke rumah sakit?”
“Sengaja, biar malam ini kamu bisa tidur dengan nyaman. Oma, biar aku yang jagain.”
Joanna menggeleng, sambil menegakkan tubuhnya.
“Emang, mamamu gak nyariin apa? Nurut deh, sama aku. Cepet pulang, dan anterin ke rumah sakit.”
Kennan tersenyum, lalu menyodorkan chat ia dan Rose di ponselnya.
“See? Aku udah izin mama kok. Dia seneng, aku bisa bantu kamu dan Oma. Jadi tenang aja.”
Mendadak Joanna tersenyum hambar, begitu kontras sifat Rose dan Laura.
Sebenarnya, Joanna tidak menginginkan seorang ibu yang sempurna. Menganggapnya anak saja, itu cukup. Tapi sayang, Laura tidak memiliki hal itu.
“Jo, kita sudah sampai.”
Ucapan Kennan, membuyarkan lamunan Joanna. Ia segera turun dan melambaikan tangan.
“Makasih, Ken. Besok pagi, aku ke rumah sakit.”
“Oke Sayang.”
“Jangan panggil sayang!” bentak Joanna.
Kennan terkekeh. “Ya udah, sampai ketemu besok pagi, Pacar. Dadah.”
Joanna segera masuk ke rumahnya, jangan sampai Kennan tau, pipinya memerah.
.
Di perjalanan. Kennan banyak memikirkan segala hal yang terjadi malam ini.
Pertama, ada yang diam-diam membayar biaya operasi Oma Elle, lalu seseorang yang memberikan petunjuk GPS keberadaan Joanna.
‘Siapa dia? Apakah orang yang sama? Apa motifnya? Jangan aja, orang itu diam-diam naksir Joanna,' batin Kennan takut-takut.
****
Cahaya pagi, membiaskan senyuman dan mengerling manja.
Joanna benar-benar datang pagi buta. Padahal, tidak ada seorang pun tahu ia menggigil semalaman. Efek pemukulan itu berimbas pada suhu tubuhnya.
Sebenarnya, kepalanya pun terasa sakit. Membuatnya tidak bisa bergerak cepat.
‘Ayolah kepala, jangan sakit. Bekerja samalah ....’
Saat berjalan, tubuhnya oleng, dan ....
Grepp!!
Seseorang sigap menangkap tubuhnya, membuat Joanna terkejut dan menatap wajah seseorang yang menolongnya.
Kedua pasang mata itu, bertemu beberapa detik.
“Dokter Gerald.”
“Hai, Jo.”
“Ehemmm!!!” Deheman keras dari Kennan, membuat kedua orang itu saling melepas dan berdiri tegak.
Gerald sibuk memperbaiki jas putihnya, sementara Jonna merapikan rambut yang sudah rapi.
“Lo, Ken. Tadi, Joanna mau jatuh. Pas banget gue lagi lewat, jadi ya seperti yang lo lihat tadi,” jelas Gerald.
Tetap saja, keintiman tadi membuat darah Kennan mendidih.
“Kadang aneh memang, rumah sakit seluas ini, Joanna bisa ketangkepnya sama lo!” desis Kennan.
“Iya, aneh banget. Pas aku nangkep Joanna, keciduk sama lo. Kan jadi gak asik lagi, keganggu” timpal Gerald seolah membalas ucapan sepupunya itu.
Keduanya saling menatap tajam. Joanna melirik mereka bergiliran seolah ada api di belakang punggung keduanya. Melihat itu, Joanna dengan cepat melangkah dan menjadi penengah mereka.
“Eits. Masih pagi lho, jangan buang-buang energi. Gimana, kalau kita ngopi bertiga biar jreng?” Joanna sengaja mengatakan itu, untuk mencairkan suasana.
Keduanya bergeming. Membuat Joanna gemas, dan mengapit lengan mereka, untuk berjalan menuju kafe.
Tiga kopi robusta tersaji. Bahkan asapnya masih mengepul, menguarkan aromanya yang khas.
“Hmm ... aromanya bener-bener menggoda,” ujar Joanna yang sedikit mencicipi kopi itu.
“Masih panas, hati-hati,” ucap Gerald, perhatian.
Kennan mendelik.
“Jo, gimana kondisimu?” Semalam kan agak demam, bikin aku khawatir.” Oke, Kennan memang berbicara pada Joanna, tapi matanya melirik ke arah Gerald, seolah tengah memanas-manasi dokter muda itu.
“Masih sakit, kepalaku juga pening. Tapi, gak mungkin aku gak datang jenguk Oma," jawab Joanna.
Gerald berusaha santai sambil menyilangkan kedua tangannya.
“Oh, pantesan tadi kamu tiba-tiba goyah. Nanti kubawakan obat buatmu, ya,” ucap Gerald.
“Gak usah! Aku bisa belikan buat dia nanti,” ujar Kennan sedikit melotot ke arahnya.
“Lho, apa salahnya? Aku ini dokter, Ken. Lebih tau, obat apa yang bagus buat Joanna, dilihat dari gejalanya.”
Rahang Kennan mengeras menahan letupan emosi.
‘Bacot banget, tukang ikut campur!’ batin Kennan.
“Udah, udah. Aku udah bekal obat pusing kok, sempetin beli di kios tadi,” ucap Joanna tersenyum.
Gerald tiba-tiba memegang tangan Joanna. “Jangan obat warung! Minum obat dari resepku aja ya, biar bisa dipastikan dosisnya aman buat kamu.”
Kennan menepuk punggung tangan Gerald yang lancang memegang tangan kekasihnya. Andai tidak ada Joanna, pasti mereka sudah baku hantam.
“Oh, oke deh. Asal gak merepotkanmu.”
“Hehe, nggak kok. Nanti kuantar ke ruangan tunggu ya.”
“Makasih banyak, Ger.”
Hufff
Kennan benar-benar merasa jadi lalat di antara mereka.
“Oh, ya Jo. Bagaimana perkembangan operasi Oma mu?” tanya Gerald kemudian.
Sontak pertanyaan itu, membuat Joanna bingung. Lain hal nya dengan Kennan yang sibuk menepuk dahinya, karena dokter itu bicara terus terang.
“Operasi?” tanya Joanna.
Kennan melotot tajam ke arah Gerald, sambil mengisyaratkan menggorrok leher dengan jemarinya. Dokter muda itu pun menelan saliva susah payah.
‘Salah gue apa ya?’ batin Gerald.
“Kok diam aja? Operasi apa?” kembali Joanna bertanya sambil menatap Gerald dan Kennan, secara bersamaan.
“Hei!” bentak Joanna, membuat para pengunjung menatap ke arah mereka.
“E-emangnya ... kamu gak tau ya, Jo?”
“Jelaslah Joanna baru tahu, rencananya hari ini mau kujelaskan,” ucap Kennan tegas.
“Oh, maaf ya Jo. Kirain, kamu tau sebelumnya,” ucap Gerald merasa bersalah.
Namun, tatapan Joanna pada Kennan tampak berbeda.
****
“Maaf.” Hanya itu, yang bisa Kennan katakan pada Joanna.
Saat malam di mana Joanna diculik, sang nenek rupanya tengah sibuk menjalani operasi melawan rasa takutnya, selama ini.
Joanna bahkan menyesal, tidak berada di sisi sang nenek saat tengah berjuang. Minimal menghibur wanita paruh baya itu, agar merasa tenang dan lebih baik.
Keduanya tengah duduk berdampingan di ruang tunggu.
Melihat Joanna bergeming, tangan Kennan terulur menggenggamnya.
“Jo ... sebenarnya, aku udah mau kasih tau, kalau Oma mau dioperasi. Tapi timingnya gak pas, karena kamu masih capek dan baru mengalami hal yang kurang menyenangkan.”
Joanna meliriknya. “Bukan apa-apa. Tapi ... Oma sangat takut operasi, jadinya niatku mau hibur dia. Kebayang deh, gak ada aku semalam.”
Air mata Joanna mulai luruh. Kennan baru menemukan seseorang yang sangat tulus mencintai seorang nenek, dan itu jarang.
“Kata dokter, nanti operasinya bius total. Oma gak merasakan sakit, kamu jangan khawatir ya. Nanti, kita temui Oma, habis ini,” cetus Kennan seraya merangkul bahu Joanna dan mendekapnya erat-erat.