Jimmy untuk kesekian kalinya menatap wajah Kennan dengan raut khawatir.
Mobil yang dikendarai sangat kencang, membuat jantungnya hampir saja copot.
“Bisa pelan-pelan gak sih? Gue belum mau mati!” Jimmy erat memegang seat belt.
Kennan tidak menghiraukan, ia malah semakin menginkak pedal gas.
“Bro. Menurut GPS ini, Joanna lagi ada di apartemen. Kira-kira apartemen siapa, dan ngapain?” tanya Kennan.
“Mana gue tau.”
Kennan mengetuk-ngetuk setir, memikirkan sesuatu.
“Gak mungkin kan, Joanna ngelakuin hal-hal gak bener sama cowok lain?” ucap Kennan bernada ragu.
“Maksudmu berduaan sama om-om ya? Trus dibayar perjam. Masuk akal juga Ken, Joanna kan lagi butuh uang buat biaya operasi neneknya jadi dia ambil jalan pintas. Dan menurutku ya, dia__” Jimmy tidak melanjutkan ucapannya, saat tersadar Kennan menatapnya dengan tatapan tajam.
“Jim, lo mau mati ya!”
Jimmy berjengit, sejurus kemudian memukul-mukul mulutnya. “Maaf, ken. Gue ngelantur aja tadi, gak mungkin lah Joanna kayak gitu hehe. Gue, cuma terpancing kalimatmu aja tadi.”
Kennan menarik napas dengan kasar karena kesal.
Walau di dasar hatinya ... ia takut, kalimat Jimmy ada benarnya.
“Tapi ... gue yakinin satu hal, mungkin Mark dan Sean__”
“Ck! Pliss Jim, berhenti berspekulasi. Atau gue turunin lo di pinggir jalan!” bentak Kennan memotong ucapannya, ia benar-benar ketar ketir sekarang. Pikiran buruk menari-nari di kepala.
Jimmy menelan saliva. “Sadis lo!”
****
Mobil telah sampai dan terparkir di area parkir apartemen.
Saat memasuki lobi, Jimmy menyikut lengan Kennan.
“Lo nanya nama siapa ke resepsionis nya? Kan gak tau.”
“Iya juga ya, kalau sebut nama Joanna belum tentu mereka kenal.”
Mereka terdiam, dengan mode bingung.
“Eh, bentar. Gue punya ide,” ucap Kennan lalu mendekat ke arah resepsionis.
“Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?”
Kennan menyodorkan layar ponsel yang menyala, dan memperlihatkan foto Joanna di sana.
“Maaf, Mbak. Pernah lihat wajah gadis ini? Mungkin, tadi dia masuk ke apartemen ini.”
Perempuan itu, memperhatikannya dengan seksama.
“Pengunjunng banyak Mas, saya tidak memperhatikan satu-satu, kecuali kalau orang itu memang tinggal di apartemen ini, barulah wajahnya bisa dikenali. Kira-kira, kapan datangnya?”
Tampak Kennan menggaruk tengkuk. “Aduh, kapan ya? Mungkin siang setelah jam makan siang, Mbak.”
“Coba saya cek CCTV dulu ya Mas. Silakan ditunggu.”
Kennan mengangguk. Setelah berterima kasih, ia kembali duduk di dekat Jimmy. Tampak sahabatnya itu, terkantuk-kantuk.
Kembali ia dipanggil, dan resepsionis itu menunjukkan sebuah video.
“Saya perhatikan videonya, tidak ada yang wajahnya seperti di foto.”
Pemuda itu, menatapnya dengan seksama, dan menatap sebuah tayangan dua lelaki yang dikenalnya, tengah mendorong sebuah kursi roda berisi seorang gadis yang menundukkan kepalanya. Gaya pakaian gadis itu, lagi-lagi terlihat familiar.
“Mbak, tolong zoom video ini,” pinta Kennan.
Matanya terbelalak saat melihat gadis yang duduk di kursi roda.
“Saya kenal dia!"
"Oh, gadis itu masuk bersama dua pemuda di kamar 135, lantai empat."
“Baik, terima kasih Mbak."
****
“Ada apa Ken?” tanya Jimmy bingung.
Wajah Kennan tampak khawatir, lebih dari yang sebelumnya. Jimmy pun kepayahan mengikuti langkah Kennan yang mulai berlari.
“Ken! Tungguin!”
Napasnya turun naik, lalu mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu.
"Joanna, ada di sini, sama Mark dan Sean," ujar Kennan.
Braakk!!
Belum juga, pemuda itu memencet bel. Dari dalam, sudah ada seseorang yang membukanya dengan paksa.
Kedua mata beradu.
“Kennan, k-kamu, di sini?” tanya Joanna.
“Jo__”
“Ayo, kita pergi. Nanti kujelaskan.”
Joanna menarik kedua tangan Kennan untuk berlari, dan Jimmy kembali mengekor dari belakang.
"Hadeuh! Kenapa orang-orang hobi berlari malam hari?" gerutu Jimmy.
Tentu saja, Kennan tidak sempat bertanya pada gadis itu.
Ia memilih bergeming, memperhatikan Joanna yang meminjam ponselnya untuk menelepon pihak polisi.
Joanna pun meminta kerja sama pihak apartemen untuk menjaga Mark dan Sean agar tidak melarikan diri, selagi polisi datang.
****
Saat suasana sedikit kondusif, Kennan telah meminta Jimmy untuk lebih dulu pulang. Dan ia memilih membawa Joana ke tepi kolam renang apartemen.
“Kamu butuh rileks. Kita di sini dulu sambil nunggu polisi datang ya?” ucap Ken.
Joanna mengangguk pelan. “Makasih, Ken.”
Kennan menatap wajah Joanna yang tampak lelah bahkan ada beberapa lebam di pipi dan tangan.
Ia bangkit dan menaruh dua burger serta minuman kaleng di meja, lalu berjongkok di depan Joanna sambil memegang tangannya.
“Joanna, maaf ya. Aku lalai jagain kamu.”
“Gak apa-apa. Aku nya aja yang kurang hati-hati.”
Kennan mengusap kepala Joanna. “Mau ceritakan yang terjadi? Kalau belum siap, gak apa-apa aku tunggu.”
Kenyataannya memang belum siap, bukan karena lelah tapi kejadian tadi membuatnya ketakutan.
Tapi, Kennan sudah menjadi bagian hidupnya. Jadi, ia harus membaginya.
“Mark dan Sean tadi siang ada di area kampus, dan muncul di belakangku saat aku lagi nungguin kamu dateng. Mereka ngasih obat bius, sadar-sadar aku udah di atas ranjang, kaki dan tangan diikat. Nih, masih sakit sampai sekarang.”
Mata Kennan membulat. “Ya Tuhan ... trus?”
“Tiba-tiba, muncul seorang cewek pake hodie dan topeng. Aku gak tau siapa, dan motifnya apa.”
“Suaranya kamu bisa kenali gak?” tanya Kennan.
“Nggak juga. Mungkin efek pake topeng, jadi suaranya agak beda.”
“Coba deh, kamu ingat-ingat mungkin bisa jadi petunjuk, biar kita bisa menangkap cewek itu,” cetus Kennan.
Tampak Joanna berpikir keras.
“Oh, aku ingat. Dia sempat ngomong gini tadi 'persahabatan itu, kadang bisa hancur jika belahan hatinya direnggut. Tapi, jika semuanya karena uang maka musuh pun bisa jadi sahabat.”
Kennan menjentikkan kedua jemarinya. “Gak salah lagi, dia pasti Bella.”
“Bella?”
“Iya, dia lagi nyindir kamu. Tunggu sebentar ya.”
Kennan menjauh untuk menelepon seseorang.
Mendengarnya, Jonna mematung. Tidak menyangka, jika Bella berubah sedrastis ini hanya karena cinta yang tak terbalas.
Setelah cukup lama, Kennan kembali duduk sambil memasukkan ponsel ke saku kemejanya. Wajahnya tampak memelas.
“Kamu, habis menelepon siapa? Kok lama.”
“Menelepon pihak admin yang mencatat data mahasiswa.”
“Trus?”
tanya Joanna penasaran.
“Tadi aku minta nomor telepon orang tua Bella. Pas kutelepon ayahnya, ternyata Bella sama kedua orang tuanya sedang berada di Makasar sejak dua hari yang lalu. Dugaanku salah, bukan Bella ternyata," terang Kennan.
“Pantas aja, dari kemarin-kemarin, dia gak masuk kuliah."
Tanpa sadar, Joanna mengusap-usap tengkuknya yang tiba-tiba merinding.
Kennan mendekat dan menaruh tangan di bahu gadis itu.
“Jangan takut, aku akan terus ada di sampingmu. Lagian, pasti polisi bakal bantu menyelidiki soal ini. Kita doakan aja, ya."
Joanna tampak lega.
"Perutmu pasti kosong, kita makan dulu," imbuh Kennan.
Mereka mulai memakan burger milik masing-masing.
Tangan Joanna terangkat, telunjuknya sejajar dengan hidung Kennan.
“Kenapa?” tanya Kennan.
“Kamu kalau makan gak rapih ya. Cemong-cemong.”
“Hm?”
“Ada mayonaise tuh, di hidungmu!”
ujar Joanna menahan tawa.
Kennan terkekeh, matanya kemudian terpejam. “Ya, udah tolong lap pakai tissu.”
Hati Joanna bersorak dalam hati. Ia meraih tissu tak jauh darinya, dan melap hidung mancung menantang milik Kennan yang sedari tadi menggodanya.
“Padahal, biarin aja Jo. Emang, ganggu banget apa,” ujar Kennan.
“Iya lah. Jadi gak ganteng, bikin aku gak fokus makan.”
“Asyik, aku colekin mayonaise lagi ke hidung banyak-banyak ya, biar kamu bisa tambah bucin dan merhatiin aku.”
Joanna memukul bahunya, membuat Kennan sedikit meringis.
“Gak usah. Nambah kerjaanku aja!” ujarnya melotot.
Kennan kembali tergelak.
Selesai makan. Mereka harus menemui pihak kepolisian, dan menyusuri ruangan apartemen tempat Joanna disekap.
Joanna pun menjelaskan kronologis cerita dengan jelas dan gamblang, termasuk saat ia berhasil kabur.
“Cewek bertopeng itu, minta Mark dan Sean untuk mukulin saya pakai pentungan itu. Lumayan, bikin pipi dan tanganku sakit, Pak. Untung aja, aku cewek kuat,” terang Joanna pada pihak kepolisian, sambil menunjuk alat pemukul bisbol.
Melihatnya, membuat hati Kennan teriris.
‘Setangguh apa pun kamu di depan orang lain. Tetap aja, bagiku kamu cewek yang harus kulindungi,' batinnya.
“Lalu, bagaimana Anda bisa berhasil melarikan diri?” tanya salah satu polisi.
“Oh, karena bantuan ini.” Joanna merogoh sesuatu dari saku jeans-nya. Dan ia memperlihatkan bungkusan berwarna bening.
“Ini obat tidur punya Oma-ku yang baru ditebus. Beliau sedang dirawat di rumah sakit, Pak. Ceritanya, saya tadi berpura-pura ingin ke kamar mandi, Mark dan Sean pun melepas ikatannya. Ketika mereka lengah, saya memasukkan serbuk obat itu ke minuman mereka. Kemudian masuk ke kamar mandi dan menunggu lama, sampai obatnya bereaksi. Setelah dipastikan mereka tertidur, barulah saya cepat-cepat keluar," terangnya panjang lebar.
Pihak kepolisian tersenyum sambil mengangguk.
“Anda pintar juga. Kalau begitu terima kasih infonya, kami pun akan mengecek CCTV luar maupun dalam, dan segera melakukan penyelidikan.”
Joanna menatap ke arah Kennan, dan tersenyum bersamaan.
“Baik, Pak. Terima kasih banyak.”