Perasaan Kennan benar-benar tidak tenang. Bahkan hari mulai sore, tapi tidak tampak batang hidung Joanna di mana pun.
Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponselnya, namun tidak kunjung diangkat.
Saat ini, Kennan lebih memilih menunggunya di rumah sakit. Berharap sewaktu-waktu, gadis itu muncul.
‘Kamu di mana sih, Jo?’
Seorang dokter yang menangani Oma Elle mendekat.
“Selamat sore, apakah Anda salah satu wali Nyonya Elle?”
Kennan berdiri. “Oh, bukan dok. Saya hanya teman dari cucunya beliau. Tapi, jika ada hal penting, jangan ragu memberitahu saya.”
“Baiklah. Mari bicara di ruangan saya.”
****
Dokter itu menyerahkan sebuah bukti transfer dengan nilai nominal yang tidak sedikit.
“Seseorang yang entah siapa, mentransfer uang untuk biaya operasi Nyonya Elle. Orang tersebut, tampaknya sangat tahu kondisi pasien, dan pihak medis berencana untuk melakukan tindakan, namun harus memiliki izin dari keluarga terlebih dahulu.”
Dokter menjeda ucapannya.
“Jika Anda bukan keluarganya. Kira-kira bisa bantu saya menghubungi keluarga pasien?”
Kennan tampak bingung.
“Bagaimana ya dok. Saya taunya, Oma hanya tinggal sama cucunya, yang sering jagain.”
“Oh, iya Nona Joanna kan? Itu cukup, tolong segera hubungi, karena pasien harus segera diambil tindakan operasi.”
Glek!
Bagaimana bisa, ia menghubungi Joanna. Sementara keberadaan gadis itu tidak tahu di mana. Ditambah, sepanjang mengenal, Kennan benar-benar tidak mengetahui keluarga Joanna yang lain.
“B-baik dok, saya coba.”
“Terima kasih. Tolong segera kabari.”
Kennan mengangguk dan mengusap wajahnya setelah dokter itu pergi.
****
Kennan mencari tempat yang sering didatangi Joanna, termasuk panti untuk menemui teman-teman kecilnya. Namun tidak ada yang mengetahui keberadaan gadis itu.
Ponselnya berdering.
“Halo.”
“Ken, apa lo udah bertemu Joanna?” tanya Jimmy di seberang.
Kennan mendesah dengan berat.
“Belum. Gue udah cari ke mana-mana, bahkan menelepon teman kampusnya tapi tetap gak ada.”
“Umm ... begini Ken, gue dapat info dari teman-teman kita, katanya tadi pagi Mark dan Sean berkeliaran sekitar kampus. Mungkin gak ya, mereka bertemu Joanna, kemudian ....” Jimmy menggantung ucapannya.
Sementara Kennan membeku seketika dengan mata membola.
“Jim! Lo senggang kan?”
“Iya, kenapa?”
“Bantu ya. Tapi, gue harus balik dulu ke rumah sakit. Nanti gue jemput."
“Oke Bray.”
Bip.
****
Chevrolet Camaro, melesat menembus pekatnya malam.
Kennan dan Jimmy, berada satu mobil menuju kampus tempat mereka kuliah.
“Tadi, ngapain ke rumah sakit dulu, bukannya udah?” tanya Jimmy.
“Menandatangani surat izin operasi, Oma Elle. Soalnya, harus segera. Urgent.”
“Coba ada Joanna ya. Sebenernya, cewek itu ke mana, sih?”
Mendengar kalimat itu, Kennan kembali khawatir. Ia yakin, ada yang tidak beres dengan Joanna.
Selang lima belas menit. Mereka sampai, dan di sana sudah terparkir dua mobil mewah berwarna hitam, merek BMW dan Mercedes.
“Ken, lo ngajak seseorang selain gue?”
Kennan melepas seat belt dan mulai membuka pintu mobil.
“Ya nggak lah.”
“Trus, mobil-mobil itu?” Jimmy kembali bertanya.
“Gue juga penasaran. Tapi kita akan segera tau. Ayo!”
Ada yang terasa aneh dan tidak biasa di bangunan kampus. Biasanya jika malam hari, semua ruangan dan sudut lampunya dimatikan, namun semua menjadi terang benderang.
Keduanya menyusuri koridor kampus.
“Cuy. Aslinya, gue takut diajak lo ke kampus ini. Soalnya, pasti gelap dan khawatir ketemu kunti atau genderuwo. Kan rugi, gue belum kawin! Tapi, demi persahabatan gue jabanin, lagian melihat semua ruangan terang begini, moodku juga jadi bagus,” ucap Jimmy panjang lebar.
Kennan mendelik sambil menoyor kepala Jimmy. “Nyerocos mulu. Diem, atau kunti beneran ngikutin lo!”
Jimmy sontak meremat lengan Kennan kuat-kuat. “Rese lo! Jangan nakutin gue!”
Sreekk!
Sreekk!
“Anjir! Ken, suara apa itu?” Jimmy langsung mengusap tengkuknya. Seketika bulu kuduknya meremang. Ia yakin, baru saja mendengar seolah seseorang tengah berjalan dengan cara diseret, sesekali terdengar suara menginjak dedaunan kering.
Keduanya terus berjalan.
“Cuma angin, ayo cepet jalan!”
Craaakk!
“Aaaa! Ken!” pekik Jimmy. Ia menutup kuat-kuat matanya, dan membenamkan wajah di balik punggung sahabatnya.
“Balik yuk!” ujar Jimmy, ia masih setengah teriak, bahkan tubuhnya sudah bergetar.
Kennan berusaha melepas cengkraman itu. Namun Jimmy semakin memegang lengannya kuat-kuat.
“Lepas Jim. Lo cuma halusinasi, di sini gak ada apa-apa.”
Tapi nihil, Jimmy tetap dengan posisi itu – membuat Kennan sangat kesal dibuatnya.
“Jimmy!!” Kali ini, Kennan membentaknya. Membuat ....
Crakk!
Brugh!
Kennan dengan cepat memeluk Jimmy.
“Jim, suara apa itu?” Giliran ia yang takut.
Mereka saling mengeratkan pelukan.
“Lo sih, gak percaya sama gue! Au, ah takut nih.”
Lalu ... terdengar suara rintihan, “Akh ....” di belakang mereka, membuat keduanya saling menatap dengan raut wajah pucat. Secara perlahan Kennan dan Jimmy menoleh ke arah suara, dan mendapati seorang lelaki kisaran usia 35 tahun, jatuh tersungkur.
“Itu bukan hantu, tapi orang Jim!” Kennan melangkah cepat mendekati lelaki itu.
Sementara Jimmy sibuk mengelus daddanya. “Tadi, jantungku hampir copot,” gumamnya.
“Anda tidak apa-apa?” tanya Kennan, saat ia telah sampai dan berjongkok menghadap lelaki itu.
“Tidak, Mas . Makasih, saya kurang hati-hati.”
“Sedang apa?”
“Tuh. Lampu taman ini mati, dan saya lagi naik buat menggantinya. Tapi tangganya licin, makanya jatuh.”
Kennan membantunya bangkit. “Syukurlah Bapak tidak apa-apa. Lain kali, hati-hati.”
“Iya, Mas.”
“Tumben semua lampu kampus menyala,” ujar Kennan kemudian.
Mereka berjalan beriringan, mendekati Jimmy yang masih mematung di tempatnya.
“Iya, saya diperintah pihak kampus untuk memasang dan menyalakan semua lampu. Karena sedang ada tamu kehormatan malam ini.”
Kennan menghentikan langkah. “Tamu kehormatan?”
Lelaki itu mengangguk. “Maaf. Mas sendiri, sedang apa di sini?”
Ditanya seperti itu, Kennan menjadi salah tingkah dan sibuk memutar otak, memikirkan alasan apa yang kira-kira masuk akal, agar lelaki yang lebih dewasa darinya itu mempercayainya.
“Sa-saya ... kehilangan hp, dan coba nyari ke sini, siapa tau ketemu. Tapi udah dicari-cari, gak ketemu juga,” ucap Kennan.
“Wah, kalau benar hilangnya di sini, ya susah. Pasti udah ditemukan orang lain, dan dibawa pulang,” ucap bapak itu.
“Begitu ya. Oke deh, Saya ikhlaskan saja, kalau beneran hilang.”
“Semoga bisa ketemu ya, Mas.”
“Makasih, Pak.”
“Kalau begitu, saya permisi, mau kembali bekerja di sebelah sana.”
“Baik Pak, hati-hati. Selamat bekerja.”
Hfff
Kennan menarik napas panjang.
“Kenapa lagi lo?” tanya Jimmy.
“Agak penasaran sama tamu kehormatan yang dimaksud bapak tadi,” ujar kennan.
“Hah?” Jimmy tidak paham apa maksud ucapan sahabatnya.
“Bapak tadi bilang, cahaya lampu di kampus ini dinyalakan karena lagi ada tamu istimewa. Nah, kira-kira siapa ya, tamu itu?”
Jimmy tampak mengetuk-ngetuk dagunya.
“Apa mungkin, kalau tamu kehormatan yang dimaksud adalah pemilik kampus ini?”
Netra Kennan membulat seketika. “Oh, ya? Siapa?”
Rose, sang ibu memang penyumbang dana terbesar. Namun pemilik yayasan serta kampus itu adalah orang lain.
“Gak tau deh, yang jelas menurut gosipnya, orang itu kaya dan memiliki perusahaan di dalam dan di luar negeri,” terang Jimmy sambil mengendikan bahu.
“Wow ....” Kennan tanpa sadar merasa takjub.
“Ya sudah. Kita pulang aja,” ujar Kennan dengan langkah cepat.
“Hey! Tunggu aku!” Jimmy sibuk mengimbangi langkah Kennan.
Ia sempat menahan bahu Kennan.
“Kenapa pulang? Bahkan kita baru saja sampai,” ucap Jimmy dengan tatapan bingung.
“Gak enak Jim. Lo tau kan, di sini lagi ada tamu kehormatan, kita gak mungkin ganggu.”
Jimmy menggaruk tengkuknya. “Iya, juga ya. Tapi, emang sebenarnya, lo ke sini mau ngapain? Gue gak dikasih tau lo dari tadi.”
Kennan terkekeh mendengarnya. “Sorry lupa. Tadinya gue ke kampus mau cek layar CCTV, cari tau apa yang bikin Joanna menghilang. Berharap dapat petunjuk dan semoga dia baik-baik saja.”
“Oh, gue baru paham. Trus, kalau udah gini gimana caranya biar Joana bisa diketemukan?” tanya Jimmy.
Kennan menarik napas berat.
“Cari cara lain aja. Kita pikirkan sambil naik mobil, yuk!” ucap Kennan.
Klung!
Baru lima menit dalam perjalanan di dalam mobil, satu chat muncul.
Kennan membuka dan membacanya.
“Kiriman GPS??” Kennan kembali mengalihkan pandangan, menatap sahabatnya.
“Kenapa Ken?”
“Ini, ada kiriman dari nomor tidak dikenal, entah siapa. Lalu mengirimkan alamat GPS. Apa maksudnya ya?” Kennan balik bertanya.
Keduanya saling menatap, sebelum akhirnya Jimmy meraih ponselnya.
“Apartemen Lotus?” gumam Jimmy.
“Sebaiknya, kita ikuti arahan GPS ini. Gue yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Joanna. Gimana?” cetus Kennan.
“Bagaimana kalau ini sebuah jebakan? Hati-hati, ah," tanya Jimmy.
"Iya, juga ya."
Klung!
Satu chat kembali muncul.
[Selamatkan Joanna, lewat GPS yang baru saja saya kirim.]
Deg!
Kennan dan Jimmy saling menatap.
"Bro ... bulu kudukku kembali merinding," bisik Jimmy. Matanya sibuk beredar ke depan, samping kanan dan kiri. wajahnya pun nampak gusar.
Kennan menggeleng. “Tenanglah. Gue yakin, yang chat ini orang baik. Tinggal nanti kita cari tau siapa orangnya. Sekarang, mending fokus aja langsung ke apartemen itu. Tapi tetap harus waspada dan berhati-hati.”
Jimmy mengangkat kedua pundaknya dengan pasrah.
“Ya udahlah, gue bisa apa? Berdoa aja, moga abis ini gue baik-baik aja dan masih hidup."
Kennan terkekeh pelan. "Lo emang sohib gue. Thank's ya."
Mobil kembali melaju.