Perempuan Bertopeng

1067 Kata
Joanna memilih duduk di belakang bangunan kampus yang terdapat taman yang jarang dikunjungi mahasiswa. Sengaja, biar gadis itu bisa sepuasnya menangis. Pikirannya masih teringat pertemuannya dengan Laura, yang benar-benar membuatnya muak. ‘Rese tu cewek!’ Klung! Satu notifikasi chat muncul di ponselnya. [Joanna, kamu di mana? Aku ke rumah sakit, kata Oma ke kampus, tapi aku cari ke kelas gak ada.] Joanna tersenyum. Ia menyeka air matanya, dan membalas chat. [Aku di taman belakang kampus, Ken. Sini aja.] [Okay. Tungguin ya.] ‘Kadang lupa, kalau gue masih punya lo, Ken.’ Bibirnya mengukir senyuman, tapi tidak lama. Karena seseorang membekap mulutnya dari belakang. “Hhhmmpttt!” Joanna berusaha berontak dan berteriak. Tapi tak ada satu pun yang melihatnya, hingga ia dimasukkan ke dalam mobil. Menit berikutnya, Joanna tidak sadarkan diri. “Obat bius di kain ini, udah bekerja Bos!” ujar lelaki yang membekap mulut Joanna. Lelaki satunya lagi terbahak. “Bagus. Ayo kita cabut.” **** Pandangan mata Kennan beredar ke sekeliling. Namun, Joanna tidak ada di sana, bahkan taman tampak sepi. ‘Ni, anak lagi ngerjain aku apa gimana sih!’ Ia mendekatkan ponsel ke telinganya, berusaha menghubungi gadis itu. Namun Joanna tidak mengangkatnya sekali pun, walau sudah berkali-kali. Menyerah. Kennan memilih memakan dua mangkuk ramyeon dengan raut kesal. “Oi, pelan-pelan makannya. Lo lapar, apa kesurupan? Tumben banget!” ujar Jimmy. Tiba-tiba saja, Jimmy ditarik paksa ke kedai mie itu oleh Kennan dan menjadi penonton gaya makan Kennan yang tidak biasa. “Lihat lo gini, gue jadi gak laper,” sambung Jimmy. Ia memilih diam menunggu sampai sahabatnya itu selesai makan. Hingga, Kennan pun selesai dan melap mulutnya dengan tissu. “Ada apa Ken, ada masalah di rumahmu?” tanya Jimmy. Kennan menggeleng samar sambil menumpuk dua mangkuk yang isinya telah kosong. “Gue mau nanya sama lo yang berpengalaman soal pacaran,” ucap Kennan. Jimmy mengangguk, kedua tangannya bersedekap di meja, bersiap mendengarkan kalimat apa lagi yang akan meluncur. “Ciri-ciri pacar gak benar-benar menyukai kita, gimana?” Mendengar pertanyaan itu, Jimmy menyeringai lalu menaik turunkan telunjuknya. “Gue paham, ke arah mana omongan lo. Mau bahas Joanna kan?” “Iya. Tapi jawab dulu pertanyaan gue.” “Emm, gimana ya. Soalnya, pacar-pacar gue, semuanya bucin ke gue.” Kennan mencebik kesal. “Tapi, bukan berarti gue gak tau ciri-cirinya. Nih, ya gue kasih tau. Pertama, dia bakalan cari alasan buat menghindar, lalu jarang balas chat atau angkat telepon, kalau lagi sama kita dia cenderung sibuk main hp, kemudian ... biasanya, gak akan ngasih kabar ke mana dia pergi. Itu baru sebagian Bro, masih ada lagi,” terang Jimmy. “Poin terakhir, gak ngasih kabar ke mana pergi. Itu benar-benar udah jelas ya, si cewek gak suka kita?” “Nggak juga, mungkin dia punya alasan kuat. Tapi, kalau kita benar-benar dianggap penting, sekali pun bersifat rahasia, pasti dikasih tau.” Kennan menjadi tidak bersemangat mendengarnya. Joanna datang ke kampus, bahkan pergi begitu saja. Gadis itu tidak memberitahunya. "Artinya, gue gak penting di mata Joanna. Dia pergi gitu aja tanpa kabar,” ucapnya pelan walau masih bisa Jimmy dengar. “Mungkin emang buru-buru, jadi gak sempat kasih tau.” “Minimal chat gue kek, ngabarin mau pergi dulu, kan gak bakalan habisin waktu. Dia sendiri yang bilang suruh nyusul ke taman, tapi sampe sana Joana gak ada, kayak dipermainkan deh.” Jimmy berdecak mendengarnya. “Ken, sejak pacaran lo kok jadi lebay dan cengeng, sih. Santai dong, denger penjelasan dari dia barulah ditarik kesimpulan. Sekarang mending, kita jalan-jalan yuk, sambil nunggu kabar dari Joanna,” cetus Jimmy. Walau malas melanda, Ken tidak punya pilihan lain. Pulang ke rumah pun, hanya akan menambah rasa kesal. **** _Di tempat lain_ Di sebuah apartemen kosong. Mata Joanna mulai sedikit bergerak, dan terbuka sedikit. Cahaya lampu masuk ke celah itu, membuatnya sigap memicingkan manik matanya. Hingga mata itu sudah mampu beradaptasi, ia membukanya bulat-bulat dan menyadari, jika itu bukan di rumahnya atau di kursi tempat terakhir Joanna duduk. Kembali ada yang aneh, saat tangan dan kakinya terasa sulit digerakkan. Bahkan untuk bangun saja, ia kesusahan. Ternyata, kedua kaki dan tangannya diikat kuat dengan tali. “Shitt! Gue di mana?” gumamnya. Matanya menyapu kamar luas itu, namun tidak ada seorang pun di sana. “Apa ada orang?” ujarnya sedikit nyaring. Hening. “Ada seseorang gak di situ. Tolong aku!” Kali ini, ia memekik. “Hei!!” Kembali, tidak ada sahutan terdengar. Napas Joanna naik turun, detak jantungnya mulai tidak karuan. Tubuhnya semakin berusaha berontak, walau lagi-lagi nihil, karena ikatannya sangat kuat. Ia pun sibuk mencari ransel untuk mengambil ponsel namun tidak nampak di mana pun. Di tengah kebimbangan itu, ‘Mungkinkah, seperti di cerita dongeng bahwa pangeran tampan akan datang menolongku.’ Kenyataannya, ini bukan dongeng. Lagi pula, Kennan sama sekali tidak tahu di mana Joanna saat ini, ditambah ponselnya raib entah ke mana. ‘Ya Tuhan, cobaan apalagi ini,' batinnya. Ceklek. Nyaris saja, jantung Joanna melompat mendengarnya, padahal suara itu tidak terlalu keras. Hanya saja cukup membuatnya kaget karena ruangan itu terlalu sepi. Seseorang dengan wajah tertutup topeng mendekatinya, membuat Joanna menatap tak percaya. “Selamat malam, Joanna. Kaget ya?” ujarnya. Wajah Joanna menegang, ia menelan saliva dengan susah payah. “Eh, kenapa tegang begitu? Biasanya kamu cewek paling santai.” “S-siapa kamu?” Perempuan bertopeng itu tertawa dengan nada yang membuat Joanna merinding. Ia benar-benar tidak mengenali wajah dan suara, di balik topeng itu. “Aku gak menculikmu. Mereka yang membawamu ke sini.” Sedetik kemudian, Mark dan Sean muncul di balik pintu sambil tersenyum sinis. “Apa kabar cewek jadi-jadian? Long time no see,” ujar Sean diiringi tawa Mark di sampingnya. “Tolong jelaskan. Aku benar-benar gak paham,” ucap Joanna. Perempuan itu tertawa diiringi Mark dan Sean. Membuat Joanna muak melihatnya. “Persahabatan itu, kadang bisa hancur jika belahan hatinya direnggut. Tapi, jika semuanya karena uang maka musuh pun bisa jadi sahabat,” cetus perempuan bertopeng. “Terserah. Apa mau kalian?” tanya Joanna. Perempuan itu mengisyaratkan sesuatu yang entah apa, pada Mark dan Sean. “Tapi nanti. Kasih dia makan dan minum terlebih dahulu, barulah bersenang-senang.” Lalu ia mendekat ke arah Joanna. “Gimana. Aku masih baik kan?” Darah Joanna berdesir menahan emosi, namun ia hanya bisa menatap gadis itu berlalu meninggalkannya diikuti Mark dan Sean. “Arrrgh! Siaallan! Siapa sih, dia?” umpatnya. . . Maaf kalau ada typo ya, ngetiknya sambil ngantuk hehe. Happy reading.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN