Brakk!!
Pintu kamarnya, ditutup dengan paksa.
Laura melemparkan tubuhnya di ranjang sambil meremat rambutnya kuat-kuat.
‘Harusnya, kamu berterima kasih Joanna. karena aku masih peduli. Susah payah menemuimu, karena melihat wajahmu saja, sudah membuatku sangat benci,' batinnya bergemuruh.
Seseorang membuka pintu dan langsung memeluknya dari belakang.
“Ada apa sayang? Baru datang wajahmu terlihat kacau,” ucap Hans.
Wanita berusia 39 tahun itu duduk dan langsung menyandarkan kepala ke pundak lelaki paruh baya itu.
“Bagaimana soal bujukanmu, mengirim Kennan ke Perancis?” tanya Laura mengalihkan obrolan.
Tentu saja, ia tidak ingin Hans mengetahui jika dirinya pernah memiliki seorang anak di masa lalu.
Lelaki itu menarik napas. “Masih kucoba bujuk. Misalnya kekeh tidak mau, aku punya cara jitu.”
Sebelah sudut bibirnya terangkat.
Mendengarnya, Laura cukup lega. Ia yakin, suaminya itu akan mampu menyingkirkan Kennan secara halus.
‘Hama, memang harus segera dibasmi.’
“Oh ya, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa sedih?” Hans kembali bertanya.
Laura menelan saliva dan merapikan baju.
“Biasalah, ada beberapa mahasiswa yang membuatku kesal.”
Tampak Hans menganggukkan kepala. “Aku yakin, kamu bisa mengatasinya. Lalu, Kennan bagaimana? Ada perkembangan?”
“Perkembangan apa maksudmu? Nilai? Soal itu, jangan diragukan, dia mahasiswa pandai,” ucap Laura.
“Bukan. Tapi ... perkembangan hubungan kalian, apakah masih saling bermusuhan?”
Laura mengangkat bahu dramatis.
“Itu, gak usah kamu tanya lagi. Bahkan mendekati sidang skripsi, anakmu masih kekeh gak ingin mengikuti mata pelajaranku. Sialnya, tiap aku kasih tugas, nilainya selalu sempurna.”
Mendengar itu, Hans tertawa. Detik berikutnya, merangkul istrinya lalu mendaratkan satu kecupan di kening.
“Sabar ya Sayang. Setelah ini, kamu gak akan lagi dibebani hal-hal kayak gini. Berikan saja dia nilai terbaik, biar setelah wisuda akan kuantar ke Perancis,” ucap Hans.
“Oke, serahkan padaku. Tapi jangan lupa janjimu waktu itu, untuk segera ubah kepemilikan perusahaan si Rose, atas namaku,” ujar Laura.
Mendengarnya, Hans menelan saliva dengan susah payah. Entah kenapa, ada yang terasa sakit di ulu hatinya.
“So-soal itu. Kamu jangan khawatir, kita jangan terburu-buru. Tenang saja, akan kubereskan semua.”
Untung saja, Laura tidak membahas ini menjadi panjang. Membuat Hans bisa bernapas lega.
****
Tidak sedikit pun, awan gelap berani menutupi sinar matahari siang itu.
Joanna terduduk lemas, menatap nanar hasil tes pemeriksaan milik Oma Elle.
“Nona Joanna. Nyonya Elle, sudah sadarkan diri, beliau telah melewati masa krisis.”
Wajahnya langsung sumringah.
“Tapi ....”
Baru saja, Joanna akan bereuforia, mendadak terpaku saat mengucapkan kata ‘tapi’.
“Ta-tapi apa, dok?”
“Tapi bukan berarti beliau baik-baik saja. Hasil tes menunjukkan jika penyakitnya telah mencapai stadium lanjut. Jika memungkinkan, akan menjalani operasi.”
“Lakukan saja dok, jangan ragu,” ujar Jaonna. Sedikit pun, ia tidak memikirkan dari mana biayanya, yang penting bagaimana caranya agar Oma Elle sembuh.
Dokter itu mengangguk.
“Sepertinya, akan dilakukan prosedur gastrektomi. Mengangkat sebagian atau seluruh lambung. Tapi faktor usia ditambah penyakit komplikasi lainnya, menjadi pertimbangan besar. Intinya, kami tengah menimbang-nimbang dampak atau resikonya jika tetap dilakukan operasi tersebut,” terang dokter.
Mendengarnya, Joanna meraup wajahnya. Ingin menangis sejadi-jadinya, tapi ia harus tetap waras.
Ia benar-benar tidak sanggup membayangkan, bagaimana jadinya jika hidup tanpa sang nenek.
“Tidak perlu banyak memikirkan hal itu, banyak berdoa saja.”
“Iya dok.”
“Saat ini, Anda boleh menjenguk Nyonya Elle. Nanti perawat akan mengantarmu,” ucap dokter kemudian.
Joanna mengangguk. “Baik, terima kasih dok.”
Joanna keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. Tangannya masih erat memegang map berisi hasil diagnosa.
****
Setelah mengetuk pintu, Joanna mendekati Oma Elle yang tengah duduk sambil menatap ke arah jendela.
“Oma.”
Wanita itu menoleh.
“Jo. Kamu di sini.”
Joanna mengangguk seraya memeluknya dengan erat. Entah kenapa, ia tidak ingin melepas pelukan itu.
“Pasti kamu berhari-hari di sini ya?”
Joanna mengangguk. “Iya. Pulang buat mandi dan ganti baju aja, Oma.”
Oma Elle mengusap pipi cucunya.
“Kamu sangat perhatian, pasti sangat capek. Sebaiknya pulang buat istirahat, karena Oma ada suster yang jagain,” cetus Oma Elle.
Bukan tidak ingin ditemani, tapi baginya ia sudah cukup menyusahkan Joanna. Tidak ingin cucu tersayangnya susah dan kelelahan.
“Joanna senang, kok. Pokoknya, Oma harus sembuh, biar bisa nemenin aku lagi, sepi tau gak ada Oma!” gerutunya.
Oma Elle terkekeh mendengarnya, walau sebenarnya, rasa sedih menyeruak di rongga dadda.
“Jangan sedih, kamu gak akan sendirian kok,” ucap sang nenek.
Joanna merengkuh jemari renta milik Oma Elle.
Tiba-tiba, wanita paruh baya itu teringat sesuatu.
“Oh, ya, Kalau kamu pulang ke rumah, tolong buka lemari Oma. Di bagian bawah, ada kotak hitam. Tolong simpan baik-baik, ya.”
Kening Joanna bertaut. “Emang isinya apa?”
Oma Elle tersenyum. “Buka aja kalau mau tau, nanti Oma jelaskan.”
Joanna hanya mengangguk. Ia belum ingin melakukan apa-apa selain menjaga neneknya. Pandangannya teralih pada makanan yang tersaji di atas nakas.
Ia mendekat dan melihat seksama. Sepengetahuannya, itu adalah makanan khusus pasien VIP.
“Makanannya sepertinya enak Oma.”
“Hu’um, Oma habis sepiring tadi. Kamu mau coba?”
Joanna menggeleng. Ia cuma merasa aneh, kenapa Oma Elle diberi makanan istimewa, dan baru saja ia menebus obat tapi semuanya gratis. Padahal, biaya perawatan tidak termasuk obat.
‘Gue curiga, ada orang yang diam-diam membantu Oma. Tapi siapa? Kennan, atau si Laura?’
“Jo, malah ngelamun. Ayo makan kalau mau, masih banyak ini.”
“Oh, nggak. Aku udah makan tadi.”
“Oya, aku ke kampus dulu ya, Oma. Gak lama kok cuma ambil satu mata pelajaran.”
Awalnya, ia tidak masuk kuliah dulu sampai neneknya bisa pulang. Tapi, Joanna penasaran, siapa yang diam-diam membantunya? Ia harus mencari tahu.
“Iya, Cu. Kamu memang harus kuliah. Oma udah mendingan, ada perawat juga yang bantu.”
Joanna mengangguk dan mengecup keningnya.
****
Setelah menarik napas panjang, sebelum akhirnya Joanna mengetuk pintu.
“Masuk!”
Joanna membukanya dan mendapati Laura tengah berkutat di laptopnya.
Melihat Joanna muncul, Laua tersenyum yang sulit diartikan.
“See, siapa yang datang. Masuklah!”
Joanna merapatkan bibir, rasa malas menghadapi wanita itu langsung menyergap. Namun ia berusaha menahan sebelum selesai bertanya sesuatu hal padanya.
Ia duduk di hadapan wanita itu.
Laura bergeming, masih menatap dengan tatapan mengintimidasi.
“Jika bukan karena urgent. Aku yakin, kamu gak akan susah-susah menemuiku. Sudah kubilang, kamu akan membutuhkan dana untuk nenekmu, jadi ....”
Tubuh Laura terangkat dan mendekatkan wajah ke arah Joanna. “... Jangan sok jual mahal.”
Joanna membuang muka sambil menelan saliva, sementara Laura kembali duduk di posisinya .
“Well. Berapa jumlah yang diperlukan, katakan saja.”
Deg!
Joanna menatapnya dengan rasa tak percaya. ‘ Kenapa, dia malah tanya nominal? Apa itu artinya, bukan dia yang menolong nenek?’
“Kenapa diam? Aku gak punya waktu banyak, sebentar lagi jam mengajarku, cepat katakan berapa jumlahnya?”
Gadis itu memilih diam, ia bangkit dan hendak berlalu.
“Stop! Kamu jangan seenaknya muncul, lalu pergi gitu aja. Itu, membuang waktu berhargaku!” bentak Laura.
Joanna mendecih mendengarnya. Miris.
Ibu mana pun pasti merindukan anaknya, terlebih sudah belasan tidak bertemu. Tapi lihatlah, apa yang Laura katakan.
“Kamu tau, bahkan binatang pun menyayangi anaknya,” desis Joanna.
Ia kali ini, benar-benar keluar, tanpa menghiraukan panggilan penuh bentakan dari Laura.
.
Sorry for typo