Sebelum pulang. Kennan mewanti-wanti pada Joanna, untuk tidak terlalu dekat dengan Bella.
“Kenapa?” tanya Joanna polos.
Kennan merasa heran, terbuat dari apa hati dan pikiran gadis itu. Bisa-bisanya, masih mau berteman dengan seseorang yang telah berbohong dan memfitnah dirinya.
“Dia udah menuduhku macam-macam kalau kamu lupa,” ucap Kennan terdengar sinis.
Joanna terkekeh dibuatnya.
“Cie ngambek. Maap deh.”
“Kejadian kemarin jadiin pelajaran, dong. Kamu kan masih bisa temenan sama yang jauh lebih baik.”
“Iya Tuan es batu, aku usahain ya. Kita juga harus ngertiin perasaannya juga, aku gak mau punya musuh.”
Kennan menarik napas panjang.
“Ya udah. Nih, es boba nya, aku balik dulu ya. Bye!”
“Hey! Main pergi aja!” pekik gadis itu.
Kennan tidak menggubris, ia terus berjalan menjauh.
“Dih, kebiasaan!” sungut Joanna berkacak pinggang.
Joanna putar balik setelah yakin Kennan menghilang dari pandangan. Namun, saat lelaki itu belok. Seseorang muncul dari arah berlawanan, menyusul Joanna.
Seorang perempuan, rambut sebahu, memakai blazer hitam bergaya classy, berhenti sambil membuka kaca mata hitamnya.
“Joanna.”
Joanna langsung terpaku, tidak menoleh atau berniat melanjutkan langkah. Karena langsung hafal suara siapa itu.
“Bagaimana kondisi Oma mu? Kudengar dia koma,” ujarnya.
Masih dengan posisi sama, Joanna memejamkan mata. Menahan rasa ingin memukul seseorang.
Wanita dewasa itu mendekat, hingga mereka berhadapan.
Lalu, tangan putihnya menyodorkan amplop besar berwarna cokelat.
“Ini uang tunai, untuk bantu biaya pengobatannya.”
Joanna menepis tanpa ekspresi.
“Nggak usah. Lagian tumben banget menemui kami, kirain udah lupa,” ujar Joanna sarkas.
Tampak wanita itu mengendikkan bahu. “Terima aja, aku yakin kamu butuh.”
“Pengobatan Oma sebagian besarnya dibantu pemerintah. Aku cuma bayar sisanya aja, dan itu udah cukup dari gajiku.”
Tawa terdengar dari wanita itu.
“Wah, kalau udah dewasa kamu seberani ini ya. Mulai sombong?”
Joanna berdecih mendengarnya.
“Kamu mengira aku sombong? Kalau begitu, aku banyak belajar darimu, Mamaku sayang.”
Wanita itu sibuk menoleh ke kanan dan kiri.
“Jaga mulutmu, gak usah kencang-kencang.”
Melihat raut wanita itu yang tampak khawatir, Joanna seperti di atas angin.
“Kenapa gak boleh kencang? Kenyataannya, kamu kan ibu kandungku, mama Laura,” ucap Joanna nyaring, seolah sengaja agar orang-orang di sekitar sana mendengar.
Sontak Laura melotot tajam.
“Kamu! Benar-benar anak kurang ajarr.”
Joanna tersenyum kecut. “Wow, ibuku sendiri mengatakan kalau aku ini kurang ajarr. Tega sekali. Lagian, kenapa harus malu, mereka bahkan gak kenal sama kita,” desis Joanna
“Aku bilang, diam!” ujarnya tertahan sambil merapatkan gigi.
Joanna memasang wajah, seolah siap menantangnya.
“Ambil uang ini!” Laura menaruh paksa uang itu di telapak tangannya, dan ia hendak melangkah pergi.
Tapi, tanpa di duga, Joanna melempar kuat amplop itu tepat di wajah Laura.
“Udah kubilang, aku gak butuh uang kamu! Bawa pergi sana!” Joanna membalasnya dengan segera berlalu, tanpa peduli seperti apa raut wajah itu.
“Brrengsek!!” ujar Laura menahan kesal.
Joanna melangkah cepat memasuki toilet. Ia duduk dan menangis sepuasnya.
“Kenapa, gue mesti keluar dari rahim wanita siallan itu!” gumam Joanna.
****
Hey, you
I'm just now leaving
Can I come around later on this evening?
Or do you need time?
Yes, of course, that's fine
.
Joanna sengaja, mengencangkan volume ear phone-nya. Membuatnya tidak menyadari, jika Gerald sejak tadi memanggil namanya. Akhirnya, pundaknya ditepuk dua kali.
“Eh? Dokter. Dari tadi ya?” Joanna beringsut sambil melepas ear phone.
Gerald mengangguk.
“Iya, sepertinya kamu lagi nikmatin banget denger lagunya, sampai gak menyadari kehadiranku.”
Joanna menggaruk tengkuknya, merasa salah tingkah.
“Ma-maaf, Ger. Udah mau pulang ya?”
“Hu-um. Mampir ke sini dulu, lihat kamu. Maklum, aku diperintah sama sepupu tercinta untuk jagain kamu.”
Joanna terkekeh. “Kennan berlebihan, kamu gak usah menganggapnya serius. Aku cewek mandiri sejak kecil.”
Gerald mendudukkan dirinya, tepat di samping Joanna.
“Gak apa-apa. Aku, senang kok melakukannya.” Gerald menatap intens manik cokelat milik gadis itu.
“Kennan beruntung punya sepupu kayak kamu.”
“Biasa aja sih. Itu, karena aku disuruh jagain kamu, kalau orang lain belum tentu aku mau.”
“Eh?” Joanna memiringkan kepala ke arahnya.
Ia mencoba menyerap ucapan dokter itu. Walau tetap tidak memahami.
Sadar ditatap Gerald terkekeh.
“Santai aja Jo. Jangan merasa gak enak ya, aku senang bisa nemenin kamu,” imbuhnya. Ia merogoh dompet dari saku celananya, lalu mengeluarkan selembar foto.
“Siapa itu?” tanya Joanna.
“Gyna, adik kandungku. Dia meninggal sekitar tiga tahun lalu, saat usianya delapan belas tahun. Kalau saat ini masih ada, mungkin sudah seusiamu, dua puluh satu tahun,” jelasnya.
“Meninggalnya kenapa?”
“Dia kabur dari rumah, sesaat setelah kami bertengkar. Gyna mencoba mengendarai mobil sendirian malam itu. Akhirnya, mengalami kecelakaan tunggal. Jika mengingatnya, aku sangat menyesal, bahkan rasanya lupa hal apa yang membuat kami bertengkar, kuharap itu sesuatu yang penting.”
Joanna tertegun, matanya masih tertuju pada wajah dan penampilan Gyna.
“Lihat, dia sama sepertimu cara pakai bajunya. Pakai topi, baju over size, celana jeans robek-robek atau hodie.”
“Tapi Gyna jauh lebih cantik. Aku turut berduka cita, ya.”
“Makasih. Sebenarnya, aku sama Gyna akrab banget, nyaris gak pernah bertengkar. Makanya, pertengkaran waktu itu hal pertama dan terakhir yang sangat kusesali.” Wajah Gerald berubah sendu. Membuat Joanna tanpa sadar mengusap punggungnya.
“Sabar ya. Aku yakin, dia gak pernah menyalahkanmu, malah pasti bangga punya kakak yang sayang banget sama dia.”
Gerald mengangguk, dan menatap wajah Joanna.
“Melihatmu, seolah lagi bersama Gyna. Makanya, aku senang bisa nemenin kamu. Kangennya terobati,” ucap Gerald kemudian.
Joanna merespon dengan senyuman.
“Oh, ya. Tadi, aku gak sengaja lihat kamu lagi ngobrol sama seorang wanita dewasa. Kalau boleh tau, dia siapa?” tanya Gerald.
Deg!
Joanna tidak menyangka, jika Gerald melihat ia dan Laura. Apa jadinya, jika orang tahu gadis itu memilik seorang ibu muda yang tidak menganggapnya anak?
“I-itu ... dosennya Kennan. Kami gak sengaja bertemu dan mengobrol sekedar menyapa dan basa basi,” terang Joanna mencoba meredam rasa gugup.
Tanpa setahu Joanna, sebenarnya Gerald tidak mempercayai ucapan gadis itu. Mengingat bahasa tubuh dan raut wajah mereka yang tidak bersahabat saat berbicara, ditambah saat Joanna melempar amplop ke wajah Laura.
‘Gak mungkin, Joanna dengan lancang menampar wajah dosen itu pakai amplop tebal. Pasti mereka saling kenal dan ada sesuatu,' batinnya bertanya-tanya.
“Ya sudah. Baiknya kamu istirahat, aku udah simpan bantal dan selimut untukmu di ruangan tempatmu istirahat. Pakai ya.” Gerald mulai beranjak.
“Wah, jadi merepotkan. Makasih banyak.”
“Sama-sama. Pagi sekali, jangan beli makanan, nanti aku kirimkan," ujar Gerald menutup obrolan.
Entah harus berapa kali, ia berterima kasih pada dokter muda itu. Yang jelas, Joanna cukup beruntung mengenalnya.