Senyum Palsu

1080 Kata
“Gak usah. Ngapain lah, tar lo dijebak baru tau rasa,” tegas Jimmy. Mereka baru saja, menyelesaikan permainan basket hanya berdua, dengan peluh membanjiri. Minuman isotonik, diminum hingga tandas dan hampir berbarengan, keduanya melap keringat dengan handuk kecil. “Gue bukan anak kecil lagi, jadi gak mungkin dengan mudah dijebak. Tapi, jika gak memenuhi permintaan cewek itu, dia bakalan terus mengganggu hubunganku termasuk pada Joanna. Menyebalkan,” terang Kennan. Jimmy memperbaiki tempat duduknya, dan menghadap ke arah sahabatnya itu. “Gue tanya, dia mau ngapain ketemuan cuma berdua? Di hotel pula!” “Kayaknya, mau barter dengan sesuatu. Mungkin, itu bisa buat dia puas.” Kembali, Jimmy tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kennan. “Lo bener-bener harus hati-hati menghadapi cewek aneh itu. Bukankah, terakhir aja dia tega memfitnahmu?” “Iya. Gue janji akan berhati-hati.” Jimmy akhirnya mengangguk. Ia menepuk tiga kali bahu Kennan. Walau pikirannya masih terasa janggal dengan permintaan Bella. **** Angin sore mulai menyusup ke celah baju. Joanna hendak masuk ke ruang tunggu, namun seseorang memanggil – membuatnya menghentikan langkah. “Joanna.” Gadis itu tampak sayu, namun berusaha tersenyum. “Ken, kok kamu ke sini lagi? Jangan sering-sering ya, kamu butuh istirahat dan quality time sama keluargamu,” cetus Joanna. Kennan meraih bahunya dan berjalan berdampingan. “Papa sering gak ada, mama sibuk di kamar dengan segudang kerjaan. Jadi, gak ada yang peduli padaku selain dirimu.” Joanna menghentikan langkah, lalu mengangkat wajah ke arah lelaki yang lebih tinggi darinya. “Seburuk apa pun, mereka tetaplah orang tuamu. Seenggaknya, keduanya masih hadir dan menganggapmu ada. Dari pada orang tuaku yang gak jelas masih ada atau nggaknya. Jadi, belajarlah dariku, tentang arti kehilangan, Ken.” Sebenarnya, Kennan tersentuh dengan ucapan gadis mungil itu. Tapi, ia terlalu gengsi mengakui dan malah mencebik, sambil mengulurkan ibu jari dan telunjuknya untuk mencubit hidung bangir Joanna. “Ceramah mulu! Mau kucium ya.” “Dih, ogah!” Joanna melepas rengkuhan Kennan dan berjalan di depannya. Angin kembali menusuk, dan Kennan bisa melihat jika gadis itu tampak kedingingan. "Kamu dingin ya?" tanya Kennan. "Iya. Mulai mendung juga, kayaknya mau hujan." "Ya udah, ayo masuk.” Tepat di depan ruang isolasi, Baik Joanna atau pun Kennan, bergilir menatap Oma Elle di balik kaca pintu. Melihat sang nenek terpasang infus dan nasal cannula, membuat Joanna terasa sesak. "Aku ambil air minum hangat dulu, duduklah,” ucap Kennan. Joanna mengangguk saja tanpa mengucap apa pun lagi. **** Tanpa mengetuk pintu, Kennan langsung masuk ke ruangan Gerald. Sontak membuat lelaki itu terkejut karena tengah menerima pasien. Dengan santai ia mengisi mug dengan air panas yang tersedia di sana. Tanpa ba-bi-bu, pemuda itu kembali keluar. ‘Dasar anak ingusan?’ batin Gerald bergemuruh. “Nih!” Kennan menyodorkan mug itu, saat ia sampai dan mendudukkan dirinya di kursi. "Makasih. Dapat dari mana?” tanya Joanna, lalu satu tegukan ia minum. “Gampang, tinggal ngambil di ruangan Gerald,” jawab Kennan lalu terkekeh pelan. “Serius? Nyusahin deh. Dia lagi praktek juga!” “Bodo amat. Yang penting kamu gak kedinginan, minum yang banyak.” Sesaat hening menyelimuti. Kennan masih bisa melihat wajah sembab Joanna. Ia mengusap lembut rambut mullet gadis itu yang mulai panjang. “Jo, jangan sedih ya. Aku tau, kamu masih mikirin Oma, sampai lupa istirahat begini!” Joanna mendelik sebelum akhirnya tertawa. “Sok tau!” “Tau lah, lihat tuh matamu sampe mirip panda,” seloroh Kennan. Joanna hanya memalingkan wajah karena malu. “Udah, ah. Jangan lihat-lihat aku terus, tengsin.” Kennan tersenyum dan semakin sayang pada Joanna. “By the way, mana Jimmy? Kalian jarang jalan bareng?” “Baru tadi main basket, dia emang lagi galau karena baru saja menyandang status jogaba.” “Jogaba?” Alis Joanna bertaut. “Iya. Jomblo gabut bahagia,” ucap Kennan. Keduanya tergelak bersamaan. “Garing ih!” “Kalau garing. Gak mungkin lo ketawa gini, tapi gue seneng lihatnya. Sering-sering ya.” Ah, sebenarnya Joanna sedikit kesal, karena Kennan selalu sukses membuat wajahnya merah. “Tapi, serius ya. Apa yang bikin kamu gak berhenti menangis sampai bengkak begini?” tanya Kennan kemudian. Joanna memandangnya lekat-lekat. “Dokter bilang, usia Oma gak lama lagi,” ujar Joanna dengan bibir bergetar. “Jadi, itu kerjaan kamu sekarang?” “Maksudmu?” Joanna balik bertanya. “Menghitung umur orang.” “Kennan! Aku serius.” “Aku juga.” Keduanya saling menatap, lalu gadis itu kembali memalingkan wajahnya. “Kalau Oma meninggal, fix aku sebatang kara.” “Kamu lupa punya aku?” Joanna tersenyum hambar. “Kadang, ada rasa takut kita gak berjodoh, dan kamu pergi ninggalin aku.” Kennan mendecih. “Caramu bicara seolah kamu itu orang yang pesimis,” balas Kennan. Ia sangat kesal dengan sikap tak biasa Joanna yang sangat rapuh. Joanna menghentak-hentakkan kaki. “Kamu nyebelin!” Kennan terkekeh, lalu menarik dagu Joanna agar menghadapnya. “Gak ada yang tau ke depannya hidup kita gimana, itu rahasia Tuhan. Lebih baik, kita jalani aja dengan baik bersama-sama. Kurasa, selama masih bersama, jangan pernah takut apa pun, ya!” Joanna menunduk, entah sejak kapan air matanya keluar, Kennan membantu menyeka air matanya. “Istirahatlah di pundakku. Aku gak mau kamu terlalu capek, dan banyak pikiran,” ujar Kennan kemudian. Lelaki itu membantu gadis itu menyandarkan kepala di bahunya. Tak lama, terdengar suara langkah seseorang mendekat. “Bella?” Mata Joanna membulat. Ia menegakkan tubuh sambil merapikan rambutnya. Melihat itu, Bella terkikik pelan. “Hayo. Kalian ngapain berduaan?” tanyanya. Joanna menelan saliva dengan kasar lalu menatap Kennan. “Ng-nggak kok, cuma ngobrol biasa. Ya kan Ken?” Kennan tersenyum tipis. “Tenang aja, Jo. Aku sama kak Kennan tadi di kampus udah kembali ngobrol atas kesalah pahaman selama ini. Intinya kami udah damai, dan aku juga udah tau soal hubungan kalian,” terang Bella. Walau di sisi lainnya, ia tidak sepenuhnya benar. “Bella benar.” Kennan menimpali, dalam diam ia menatap tajam ke arah Bella. “Congrats ya!” Bella mengulurkan tangan. Joanna walau sedikit ragu, menyambut uluran itu. “Makasih pengertianmu, Bell. Kamu ... sahabat yang baik,” ucap Joanna. “Sama-sama. Nih, aku bawain buah, aku tau oma mu pasti belum boleh makan buah ini, tapi buat kamu aja. Karena nemenin pasien, tubuhmu harus fit.” Bella menyodorkan satu wadah plastik besar. Seolah ada angin segar menerpa wajah Joanna. Ia bersyukur, bisa dekat dengan Kennan dan masih bisa bersahabat dengan Bella. “Terima kasih, Bell.” Keduanya saling berpelukkan. Dalam diam, Kennan bisa melihat senyum palsu milik Bella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN