Titik gerimis meruntuhkan kesunyian, di malam temaram. Sayup terdengar, suara angin berhembus ke arah utara.
Joanna merapatkan jaketnya hangatnya, dan duduk sambil mengusap-ngusapkan kedua telapak tangan, kemudian meniupnya.
Tatapannya mengarah ke lelaki yang berjalan mendekatinya.
“Maaf Jo, mini marketnya antri jadi lama,” ucap Kennan. Ia memasang senyum penuh kehangatan, terukir untuk Joanna.
‘Senyummu penawar banget,' batin gadis itu.
Joanna menerima minuman kaleng itu, dan membukanya.
“Makasih, harusnya malam ini kita dinner untuk yang pertama kali. Tapi malah gagal,” ucapnya seraya meminum minuman itu.
“Gak apa-apa. Kita bisa lakukan lain kali, sekarang fokus aja ke kesehatan Oma.”
Joanna tersenyum lega. Ia bersyukur, memilik kekasih yang pengertian.
Seseorang mendekat ke arah mereka dengan memakai jas putih ciri khasnya.
“Dokter Gerald.” Joanna bangkit dari tempat duduknya diiringi Kennan.
“Hai, Jo. Kennan memintaku untuk datang ke taman ini, baru sadar kamu juga ada di sini, ada apa?” tanya dokter muda itu.
Joanna melemparkan pandangan ke arah Kennan, karena tidak paham.
“Joanna akan sering di sini nemenin Omanya. kalau pas gak ada gue. Tolong temenin dia ya,” pinta Kennan.
Alis Gerald bertaut. “Kalian, terlihat dekat. Apakah lagi pacaran?”
“Ya, begitulah,” ucap Kennan tersenyum tipis.
Gerald menarik napas berat. Sudah ia duga sejak awal, jika keduanya diam-diam saling menyukai, jika sudah begitu ia harus berlapang dadda.
“Oke, jangan khawatir.” Ucap gerald kemudian.
“Sekarang, waktunya kamu pulang, Ken. Besok, aku gak masuk ke kampus dulu,” ujar Joanna.
Kennan mengangguk samar, masih ingin menemani gadisnya sebenarnya tapi ia harus pulang.
Kennan pamit dan memeluk sepupunya dan saling menepuk punggung.
“Thank’s Bro!”
“Sama-sama. Salam buat Tante Rose,” ucap Gerald
“Siap.”
Kemudian Kennan melangkah ke arah parkiran rumah sakit.
Masih di tempat, Joanna menatap punggung Kennan yang semakin menjauh, tidak menyadari jika Gerald diam-diam menatapnya.
“Ayo, Jo. Kuantar ke ruang tunggu,” ucap Gerald sambil membimbing arah langkahnya.
“Makasih.”
Keduanya melangkah dengan ritme yang selaras. Selama menuju ruang tunggu, Joanna tampak pendiam. Padahal, biasanya selalu ceria dan banyak bahan obrolan.
Gerlad, bisa menangkap jika gadis itu benar-benar sedih.
“Jo. Aku siap jadi teman curhatmu,” ucap Gerald memecah keheningan.
Joanna menoleh ke arah lelaki itu. “Sekali lagi makasih.”
“Apa yang membuatmu sedih?”
Joanna tidak langsung menjawab. Setelah mereka sampai, gadis itu memilih duduk di sudut sendirian sambil merapatkan syal cokelatnya. Gerald pun ikut duduk di sampingnya.
“Aku khawatir sama keadaan Oma. Itu aja.”
Gerald mengangguk paham.
“Apa pun itu, Oma mu pasti bangga memiliki cucu sebaik dirimu.”
“Oh, ya? Aku sering buat dia sakit dan terluka karena kenakalanku.”
Dokter muda itu terkekeh. “Kenakalan apa yang bisa dilakukan gadis seimut kamu? Gak sampe merampok atau mabuk-mabukan kan?”
Joanna menggeleng kuat. “Gak lah!”
“Tuh, kan. Makanya, Oma mu tidak merasa susah memilikimu, bahkan bangga. Aku yakin.”
Dokter Gerald menatap wajah bersih milik Joanna. Sejak awal bertemu, ia yakin jika gadis itu lain dari gadis pada umumnya. Maka, jika Kennan jatuh cinta padanya, itu wajar.
‘Apakah dia menyadari, jika dia itu istimewa?’
“Makasih dok, ucapanmu buatku tenang.”
“Ayolaah, panggil Gerald aja.”
Joanna seketika menutup mulutnya. “Ups! Maaf aku lupa.”
Keduanya saling melempar senyum.
****
Siang, menjatuhkan kelopak pejam
pada selaput cahaya matahari.
.
Trap
Trap
Langkah pemuda yang tingginya mencapai 1.8 meter, dengan cepat memasuki sebuah ruangan yang cukup riuh.
Banyak pasang mata tiba-tiba tertuju padanya, saat tangannya dengan gerak kilat menggenggam lengan Bella, dan ditarik keluar ruangan itu.
Setengah tertatih, Bella mengikuti kecepatannya hingga mereka sampai di belakang bangunan.
“Kak Kennan, tanganku sakit!” rintih Bella. Ia mengusap-usap lengannya.
Kennan pun melepasnya.
Langsung seulas senyum terukir di bibir merah Bella.
“Kamu agresif juga, Kak. Santai aja dong, bikin aku kaget aja,” imbuhnya.
“Gak usah basa basi. Aku gak bisa lama-lama," tegas pemuda itu.
Bella tersenyum sinis, langsung menyadari raut wajah tak bersahabat dari Kennan serta ucapannya yang terkesan ketus.
“Oke, oke.”
Kennan menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, agar emosinya tidak meledak-ledak.
“Aku mau tanya. Kenapa, kamu harus bohong sama Joanna? Jawab aja, gak usah pura-pura polos!” tegasnya.
Sengaja, ia melakukan ini, agar memberikan efek jera pada gadis itu.
“Sebelum aku jawab. Nanya dulu ya, emang kamu beneran suka sama Joanna? Tipemu kok rendahan banget," ucap Bella terkesan meledek.
“Begitu? Kalau dia rendahan, kamu apa dong? Gak bisa nerima kenyataan lalu memfitnahku. Kamu bahkan lebih buruk dari kelihatannya.”
Wajah Bella merah padam.
“Kamu ... udah salah manfaatin aku, Ken. Dan aku bisa balas lebih dari yang kemarin,” ancamnya.
“Betul aku salah, makanya segera kuselesaikan dengan permohonan maaf ke kamu waktu itu, dan menyadari kesalahan. Tapi, kenapa kamu malah memfitnah?”
Bella berdecih. Ia mendekatkan wajah ke arah Kennan.
“Jika semua, bisa diselesaikan dengan maaf, penjara akan kosong!” desisnya.
“Jangan mengalihkan obrolan. Jawab pertanyaanku tadi. Kenapa kamu bohong sama Joanna, dan memfitnahku segala?” Kennan merasa gusar dan tidak mempedulikan kalimat dari Bella.
Gadis berambut panjang itu mengendikkan bahu. “Simpel. Biar imbang, anggap aja sebuah balasan!” ujarnya dengan suara lantang.
Bahkan tanpa sepengetahuan Kennan, Bella bertekad tidak ingin berhenti sampai di sini.
“Kamu ... salah menjadikanku alat, karena itu artinya kalian gak bisa lepas dari aku," cetus Joanna.
Kennan meraup wajahnya dengan kasar. Bella benar, jika ia telah salah memilihnya, karena ternyata gadis itu bukan tipe orang, yang menerima dengan lapang d**a.
“Oke cukup. Sia-sia saja kita bicara!”
ujar Kennan.
Bella sekuat tenaga menahan lengan Kennan yang hendak beranjak.
“Mau ke mana? Kamu masih berhutang maaf padaku,” cetus Bella.
Mendengarnya, Kennan menarik napas dengan berat.
“Aku sudah minta maaf berkali-kali. Emangnya, apa yang harus kulakukan lagi?” tanya Kennan kemudian.
Senyuman kembali terukir di bibir Bella, walau itu membuat Kennan sedikit merinding.
“Mari kita bicara lebih detail, temui aku di hotel Alluna, lantai tiga nomor 19, jam delapan malam.”
Mata Kennan membola. “Di hotel?”
“Iya, aku lagi tinggal di sana sementara waktu, sampai renovasi rumahku selesai. Itu pun kalau kamu mau, jika tidak ya terserah. Tapi jangan melarangku berbuat apa saja semauku, termasuk mengganggu Joanna."
Mendengarnya, membuat Kennan terpaku. Rupanya, urusannya dengan Bella tidak semudah itu berakhir.