“Well, apa pun jawabanmu. Papa akan tetap memasukanmu ke universitas pilihan papa di Perancis. Lagi pula, kamu akan betah tinggal di sana. Karena, itu kampung halaman mamamu. Bisa bertemu sanak keluarga, jadi gak akan merasa sendiri. Ditambah, papa dan mama akan sering mengunjungimu. Betul kan, Ma?” Pandangan Hans mengarah kepada Rose.
“Papamu benar, Sayang.”
Entah, apakah Rose menyetujui sepenuhnya keinginan suaminya. Ataukah manut karena takut.
Kennan berdecih pelan. ‘Di sini aja, jarang ketemu. Pake ngomong gitu segala,' batinnya.
Mendengar itu, Kennan hanya mengangkat bahu tak peduli.
‘Kita lihat saja nanti, Tuan otoriter!’
“Lakukan apa yang bikin Papa bahagia,” desis Kennan.
“Bukan begitu, seperti yang papa bilang tadi. Ini demi kebaikanmu.”
Kalimat-kalimat terus mengalir di mulut Hans, membuat Kennan semakin muak dibuatnya. Hingga ia benar-benar tidak menyentuh makanannya lagi, dan memilih keluar dari rumah.
Yup! Seperti kebiasaannya, ia akan menghindar dari lelaki yang bernama Hans sesaat setelah bicara. Entah, kapan terakhir mereka bicara berdua dengan gelak tawa, penuh canda.
****
Motor sport silvernya, terparkir di halaman rumah Joanna. Ia menyempatkan melirik kaca spion untuk merapikan rambut. Setelah terlihat rapi, ia berjalan dan mengetuk pintu.
Tak lama, seseorang membukanya namun Kennan tampak heran dengan raut wajah pemilik rumah.
“Kusut banget mukanya, lupa disetrika?” seloroh Kennan. Yang ditanya hanya mencucu.
‘Gemas deh?’
“Masuklah!” ujar Joanna.
Kennan manggut, dan melepas jaket jeans-nya sebelum duduk.
Ia melihat Joanna berjalan ke arah dapur dengan gontai, tanpa menawarkan minuman apa yang pemuda itu inginkan terlebih dahulu.
Suasana rumah tampak sepi, tidak ada nanny yang biasa menjaga Oma Elle.
Joana pun muncul dengan membawa segelas air putih.
“Sorry ya, adanya itu,” ucap Joanna tanpa ekspresi.
“Nggak apa-apa, makasih.”
Joanna mengangguk.
“Lo ... em ... kamu ngapain pagi-pagi ke sini? Aku bahkan belum mandi,” ujar Joanna.
Kennan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sendiri, tidak ada niatan datang ke rumah gadis itu. Ini semua akibat dari pertemuannya dengan Hans.
“Kangen,” alibinya.
Mata Joanna membulat karena tak percaya. “Baru kemaren sore ketemu. Udah kangen?”
Kennan menyeringai. “Iya. Maklum, namanya juga baru jadian. Gak boleh ya?”
“Ya boleh sih, tapi ini masih pagi, Kennan!”
Lelaki itu hanya menunduk malu.
Kruuuk!
Sontak tatapan keduanya beradu mendengar suara itu.
“Suara perut siapa itu?” tanya Joanna mendelik ke arahnya.
Lagi, Kennan dibuat malu. Ia menyesal, kenapa tidak memakan sandwich buatan bi Mui di rumahnya.
“Aku belum sarapan,” ucap Kennan pelan.
Joanna mendesah panjang. “Orang kaya emang se-absurd ini ya? Ya udah, ikut aku yuk!”
Joanna mengisyaratkan Kennan untuk mengekornya ke arah dapur.
Kennan sedikit celingukan mencari Oma Elle.
“Jo, Oma Elle mana? Beliau tidur?” bisik Kennan.
Joanna tersenyum tipis lalu menggeleng. Tangannya terulur membuka kulkas dan meraih sayuran dan bahan masakan lain.
Kennan masih penasaran dengan mimik Joanna yang dirasa berbeda.
“Lalu, mana Oma?” Lagi, Kennan bertanya.
Joanna menatapnya lekat-lekat. Matanya berkaca-kaca.
“Ingat gak, kemarin aku bilang kalau sikap Oma aneh?” tanya Joanna.
Kennan mengangguk.
“Semalam, beliau kumat bahkan aku gak pernah melihat Oma kesakitan kayak gitu,” ucapnya bergetar. Kennan segera mendekatinya dan menaruh telapak tangan di bahu Joanna.
“Malam itu juga, aku bawa beliau ke rumah sakit. Kamu tau apa kata dokter?”
Kennan sedikit ragu walau hanya menggeleng.
“Oma, koma.”
Joanna memalingkan wajah, pipinya mulai basah.
“Sedihnya, aku gak bisa nemenin beliau di rumah sakit karena Oma dibawa ke ruangan isolasi dengan alat-alat yang entah apa ....” tangisnya pecah.
Kennan menarik pinggang Joanna untuk ia peluk, dan memilih diam untuk membiarkan gadis itu meluapkan emosinya terlebih dahulu.
“Pasti ini yang bikin kamu tampak mendung. Ada aku kan? Jadi jangan sedih. Kita doakan yang terbaik buat Oma.”
Setelah napas Joanna terasa teratur, Kennan melepasnya perlahan. Dugaannya benar, Joanna tampak kuat di luarnya saja, di dalam begitu rapuh.
Pandangan pemuda itu mengarah pada sayuran di atas meja mini bar.
“Oke, kita mau buat apa?” Ia mencoba mengalihkan obrolan, agar Joanna berhenti bersedih.
“Aku bingung. Cuma ada telur, sayuran dan nasi,” jawab Joanna.
Kennan mengangguk, ia menyingsingkan kaos lengan panjangnya dan meraih pisau dan mulai memotong kecil-kecil wortel serta sayuran lain.
“Bikin apa?” Kembali Joanna bertanya.
Ia sungguh baru tahu, jika Kennan lihai memainkan pisau untuk mengiris sayur-sayur itu.
“Omurice. Salah satu makanan kesukaanku.”
“Jenis makanan apa itu?”
“Emm ... Ya, nasi goreng omelet ala Jepang.”
“Ooh ....”
Karena tidak tahu cara membuat, Joanna hanya jadi penonton dan hanya sedikit membantu sesuai arahan Kennan.
“Hei, Jo. Ayo, cicipi nasinya,” seru Kennan.
Gadis itu mendekati Kennan yang tengah mengaduk nasi di wajan. Dan menyendok sedikit ke mulutnya.
“Hati-hati panas,” imbuh Kennan.
“Em, garamnya sih, pas. Tapi kayak ada yang kurang apa ya?” tanya Joanna. Tanpa sadar wajah keduanya berdekatan.
“Begitu?”
Joanna mengangguk.
Sedetik kemudian Kennan menepuk dahinya. “Aku lupa memberinya sedikit gula pasir. Tolong ambilkan.”
Joanna mengangguk dan meraih wadah berisi gula, serta memasukkannya sesuai arahan lelaki itu.
“Sudah cukup, jangan terlalu manis karena kamu udah manis,” ujar Kennan menatap ke arah wajan.
Tanpa sadar, itu membuat pipi Joanna merah seperti kepiting rebus.
‘Gak bertanggung jawab,' batin Joanna.
Akhirnya, acara masak memasak selesai. Mereka menaruhnya di meja dan menikmatinya bersama.
Tawa menghiasi suasana rumah yang mendadak hangat. Keduanya saling mengisi kekosongan hati masing-masing.
****
Sesuai kesepakatan, saat matahari mulai naik. Joanna dan Kennan mengunjungi rumah sakit.
Keduanya berjalan di koridor sambil menggoyangkan kedua tangan yang bertaut.
“Ingat ya, Ken. Jangan pernah ninggalin aku. Oma masuk rumah sakit aja, udah bikin aku kesepian,” pinta Joanna.
Ada yang perih di dasar hati mendengarnya. Kembali Kennan mengingat percakapannya dengan Hans tentang rencana kuliah di Perancis.
‘Apa pun yang terjadi. Aku gak akan pergi ke sana, sekali pun papa memaksa,' batin Kennan.
“Ken! Kamu dengar aku?” ujar Joanna.
“Eh, i-iya Jo. Aku dengar. Kamu tenang aja, sesuai janjiku sejak awal. Kita akan terus bersama, nemenin kamu. Saling mengisi, dan saling menguatkan, ya!”
Senyum mengembang di bibir Joanna. Ia bahagia luar biasa.