Otoriter

1422 Kata
Brukk!! Buku-buku yang dipegang terlepas begitu saja, tatapannya tertuju pada pemandangan yang menyesakkan dadda. Sambil terisak ia berjongkok, menundukkan kepala - memungut satu persatu buku-buku itu, hingga matanya tertuju pada sepasang flatshoes cream yang mendekat ke arahnya, membuat ia mendongakkan kepala dan mendapati seorang gadis cantik berambut bergelombang sedikit cokelat, tersenyum padanya. Gadis itu membantu mengambil buku dan menyerahkan padanya. “Kamu habis nangis?” tanya gadis itu. Bella tersenyum tipis sambil menyeka air matanya. “Makasih.” “Aku Dasya, mahasiswa semester akhir. Kamu?” Dasya mengulurkan tangan. “Oh, aku Bella.” Keduanya bersalaman. Tampak Dasya menghela napas panjang. Sesekali ia menatap ke bawah, ke arah parkiran. “Kamu sedih lihat mereka ya?” tanya Daysa ke arah mobil Kennan yang sudah keluar dari gerbang. Bella mengangguk ragu, sesaat ia merasa heran mengapa gadis itu seolah tahu perasaannya. “Kamu kenal?” Dasya tersenyum. “Kennan kan? Kami satu jurusan yang sama. sebelum dia kenal sama cewek tomboi itu, kami berteman baik,” terangnya. Bella menautkan alis. “Sebelum? Apa itu artinya __” “Ya, dulu akrab sering satu kelompok. Sekarang kami jadi renggang. Malah kesannya, Kennan selalu menjauh dari aku, mungkin karena cewek itu,” ucap Dasya, ia lalu menyilangkan tangan di dadda dan mendekat ke arah Bella. “Kamu suka Kennan ya?” selidik Dasya. Bella menelan saliva sambil menggeleng. “Yakin? Padahal, tadinya aku mau berteman dan bisa membantumu memisahkan mereka,” imbuh Dasya, tatapannya tiba-tiba menukik tajam. Mendengar itu, Bella merinding sambil menatapnya penuh arti. **** Di dalam mobil. Tanpa sadar, sekelebat ucapan Hans melewati pikiran Kennan tanpa permisi. “Jangan sia-siakan masa mudamu dengan kesenangan semu, dan berleha-leha Ken. Kalau begini terus, kamu gak bisa sukses. Semua aset atas namamu, mau sebanyak apa pun bisa saja hancur, jika tidak bisa mengelolanya.” Suka tidak suka, ucapan Hans ada benarnya. Ia tidak boleh bersantai ria, jika tidak ingin hancur. Hatinya pernah terluka, setidaknya bisa dibalut dengan masa depan yang lebih baik. “Ken, kok kamu diam aja?” Ucapan Joanna membuyarkan lamunannya, untuk sekian menit ia lupa jika di sampingnya ada gadis itu. “Oh, maaf Jo. Sedikit melamun.” “Hei, nyetir jangan sambil ngelamun, bahaya!” “Hehe, oke Bos!” Tak berapa lama, Joanna tampak terkantuk. Kennan sibuk berpikir, kata-kata apa yang harus diucapkan agar Joanna tidak suntuk. Tapi, tak kunjung dapat bahan obrolan. “Kamu tau gak Ken, dari tadi pagi hatiku merasa gak enak, selalu mikirin Oma.” Kennan menoleh sekilas karena terkejut. “Kamu bikin kaget, kirain tadi tidur. Apa Oma lagi kambuh?” Joanna menggeleng samar. “Nggak sih, tapi gak tau kenapa sikapnya bikin aku kepikiran. Gak biasanya Oma lengket dan selalu cari-cari perhatian sama aku.” Sebelah tangan Kennan terulur mengusap rambut mullet-nya yang semakin panjang. “Kamu terlalu menyayangi Oma, jadinya bersikap kayak gini. Tenang aja ya, yakin beliau gak apa-apa.” Joanna mengangguk saja. Tak lama, mereka sampai di depan gerbang rumah. “Ken, masuk dulu yuk!” “Sorry, Jo. Mau langsung pulang aja, aku mau ngerjain proyek.” Alis Joanna bertaut. “Proyek apa?” “Bukan hal besar, cuma lagi belajar desain aja buat nambah-nambah uang saku.” Joanna mengangkat alisnya. “Hah? Seorang Kennan Alister Edberth nyari uang tambahan?” Mendengar itu, Kennan mencebik. “Yee, emang aku gak boleh?” “Ya aneh aja, orang kaya masih nyari kerjaan sampingan,” ucap Joanna di sela tawa. Kennan meremat jemari Joanna sambil menatapnya dalam-dalam. “Jangan meremehkan. Aku udah mikir ke depan soal hubungan kita Jo.” “Eh?” “Serius. Akhir-akhir ini, lagi coba-coba belajar mempelajari banyak hal. Biar serba bisa, biar bisa menafkahimu, biar aku pantas buat jadi suami kamu nanti.” Joanna membeku seketika, ia tidak menyangka jika pemuda itu sudah berpikir sejauh itu. “Ken ... bahkan kita baru jadian hari ini, tapi kamu udah mikir jauh. Kayaknya, ini bukan mendadak kamu ngerjain hal itu.” “Emang. Udah lama mau bikin proyek, tepatnya sejak aku jatuh cinta sama kamu.” “Sejak kapan cinta aku?” tanya Joanna. “Kayaknya dari pertama ketemu deh, cuma aku baru nyadar aja,” ucap Kennan, sambil menerawang mengingat pertemuan unik mereka pertama kali. Pipi Joanna memerah, tapi juga tidak enak hati. “Kasihan kamu, cinta sama aku, Ken. Padahal, bisa dapat yang lebih baik.” “Lebih baik dari apanya nih? Fisik?” selidik Kennan. Joanna mengangguk cepat. “Pikiranmu dangkal banget menilaiku, Jo. Kecewa aku,” ucap Kennan dengan wajah sendu. “Kenyataannya, para cowok begitu.” “Tapi aku nggak!” tegas Kennan. Mereka terdiam dan saling menatap tajam. “Hff! Udah deh, Jo. Aku gak mau bahas ini, nanti kita berantem. Dan aku mohon jangan minder ya, aku tulus cinta sama kamu dan gak usah banyak mikirin apa-apa, oke!” Joanna mengangkat bahu dramatis. “Oke lah." “Sini aku peluk dulu.” Kennan merentangkan tangannya. Sejurus kemudian, Joanna menjulurkan lidah. “Ogah ah! Pelukan mulu.” Gadis itu dengan cepat membuka pintu mobil sebelum lelaki itu melakukan hal yang iya-iya. Eh. ‘Awas kamu, Jo!’ batin Kennan. **** Pagi, menyambut mentari menghangatkan sepi. Rose mengetuk pintu tiga kali, sebelum masuk ke kamar anak lelakinya. Ia mendekat dan mengguncang halus tubuh yang masih bergumul dalam selimut. “Bangun, Ken. Papa sudah menunggu di bawah, mari sarapan bareng.” Kennan bergerak sedikit, dan menampakkan sedikit wajahnya dari selimut. Matanya menyipit menatap sang ibu. “Ayo, sarapan bareng.” Rose mengulang ucapannya. “Duluan aja, Ma. Aku libur kuliah hari ini,” ucap Kennan dengan suara serak. Tampak Rose menghela napas panjang. “Tapi mama harap kita sarapan bareng, lagian ada hal yang ingin papamu katakan.” “Soal wanita jallang itu ya?” Rose tersenyum kecut. “Bukan. Soal kamu pastinya, Nak.” Kennan menyingkap selimut hingga separuh tubuhnya. Sejujurnya, ia bahagia jika Hans memperhatikannya walau sekedar obrolan ringan. “Oke, mau mandi dulu. Sepuluh menit lagi aku turun.” Rose menggasak surai arangnya. “Gitu, dong! Barulah anak Mama." **** Kennan benar-benar turun tepat waktu. Ia menatap wajah Hans yang tengah menyuapkan nasi ke mulut. Sadar, ia datang lelaki paruh baya itu langsung menyambut dengan senyuman. “Pagi semua,” sapa Kennan. “Pagi Sayang, mau makan nasi atau sandwich?” tawar Rose. Kennan menyapu seisi meja. “Sandwich,” jawabnya pendek. Rose menyiapkan dan menaruhnya di piring berwarna putih polos. “Ken, sudah selesai bikin skripsi kan? Kira-kira, kapan jadwal sidang?” tanya Hans. “Semingguan lagi.” Hans mengangguk-anggukkan kepala. “Setelah itu, kamu siap-siap ya.” “Untuk apa?” Hans menatap Rose. “Kamu sudah bicarakan hal ini pada Kennan kan, Ma?” Alis Kennan bertaut, dan menatap pada kedua orang tuanya bergiliran. “Belum sih, Pa. Rencananya, setelah wisuda saja," jawab Rose. Hans menarik napas sambil menaruh sendok di piring. “Sebaiknya sekarang, agar Kennan bersiap jauh-jauh hari,” cetusnya. “Ada apa? To the point aja,” ujar Kennan. Ia merasakan hal yang tidak enak. “Begini Ken. Kamu tau kan, untuk memimpin perusahaan, harus memiliki ilmu yang kompeten, dan butuh konsentrasi penuh. Papa tidak mau, pikiranmu terbagi entah hal apa pun itu. Jadi, biar fokus, kamu selesaikan S2 mu di Perancis,” terang Hans. Mata Kennan membesar. “Kenapa harus di luar negeri. Di sini, banyak universitas yang gak kalah bagus.” Hans menggeleng. “Sudah papa bilang. Semua ini, agar kamu fokus dan dapat nilai terbaik.” Kennan berdecih. Selera makannya mendadak hilang. Ia kembali menaruh sandwich yang dipegangnya, yang belum sempat digigit sedikit pun. “Pa, serius deh. Aku malas berdebat lagi. Tapi, anakmu ini udah besar, bisa mengambil keputusan sendiri, termasuk masa depan.” “Ken, Papa lakukan demi kebaikanmu.” “Ayolah, Pa. Stop jadi orang tua otoriter! Kuliah di luar negeri gak jaminan kesuksesan kok, yang penting kan aku mendapatkan nilai bagus selama ini.” “Ini zaman globalisasi! Rata-rata, perusahaan akan melirik dan menghargai lulusan internasional.” Kennan tergelak hingga bertepuk tangan mendengarnya. “Wow!! Jadi, kalau kuliah di negeri sendiri gak dianggap?” “Ken!!” bentak Hans. Rose meremat bajunya, berusaha menenangkan diri dari kedua lelaki yang mulai bersitegang. “Kenapa Pa? Jawab kata-kataku dong!” Hans terdiam dengan gigi bergemeletuk menahan emosi. “Apa Papa lupa, kalau nantinya aku akan memegang perusahaan keluarga? Jadi, mau kuliah di mana pun, bebas aja,” imbuh Kennan. Seharusnya, Hans menyetujui ucapan anaknya, karena ada benarnya. Tapi baginya, tetap saja Kennan harus berada di Perancis, bagaimana pun caranya. 'Ada apa ini? Kenapa Papa kekeh, ingin aku ke luar negeri?' batin Kennan bertanya-tanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN