Tidak Sesuai

2025 Kata
Cinta sama seperti secangkir kopi. Selalu ada rasa pahit yang mengiringi rasa manis. Dua rasa yang membersamai satu sama lain. Pahitnya cinta mengurai sakit dan air mata. Namun ia hadir menjadi penyeimbang, agar tidak terbuai rasa manis yang perlahan hambar. ~~~~~~~~~~~~~~ Kennan dan Joanna satu meja, menikmati hidangan kopi latte di cafe Princess. Pemuda itu tidak percaya, jika Joanna sudah masuk kerja, padahal ia yakin kondisi gadis itu belum sepenuhnya pulih. “Kalau gue gak kerja, gimana bisa dapat duit buat makan?” Begitu ucapan Joanna, saat Kennan menyusulnya di kafe. Hanya hembusan napas kasar yang bisa pemuda itu lakukan untuk menahan kekesalannya. Ia lebih memilih membahas foto-foto Joanna yang tersebar. “Bagaikan bunga dandelion yang tertiup angin ya. Kabar foto gue yang lagi tergeletak akibat over dosis obat terlarang, menyebar ke seluruh warga kampus. Mampus gue!” ucap Joanna tersenyum getir. Jika sudah begini, yakinlah ia akan di keluarkan dari kampus. “Tapi ini kan hanya fitnahan. Lo ingat kan siapa orangnya? Besok kita ke kantor polisi.” Glek! Joanna menelan saliva susah payah. Mungkin, mudah saja baginya menceritakan siapa yang melakukan tindakan buruk itu padanya. Tapi, ia langsung tersadar pada ancaman Mark dan juga Sean. ‘Sial! Gue bener-bener dijebak!’ batinnya. “Jo, lo kok malah bengong?” tanya Kennan. Joanna tersadar. “Oh, soal itu ... sayangnya, gue gak tau siapa orangnya. Gak usahlah lapor polisi.” Alis Kennan bertaut. “Lo yakin? Coba ingat-ingat lagi.” “I-iya, soalnya mereka berdua pake penutup wajah, jadi gue gak tau siapa,” kilahnya, padahal kedua lelaki itu telah memperlihatkan wajah mereka. “Pelakunya dua orang?” Joanna mengangguk samar. Ia menggigit bibir bawahnya, berharap Kennan tidak menindak lanjuti perkara ini. “Gue lagi butuh bukti, soalnya kemarin emang udah lapor polisi. Dan mereka akan segera menyelidiki kasus ini,” cetus Kennan membuat Joanna membulatkan mata dengan sempurna saat tengah menyeruput kopi miliknya. “Uhuk! Uhuk!!” Joanna tersedak saking terkejutnya. “Lo nggak apa-apa?” Kennan bangkit dan menepuk punggung gadis itu berkali-kali. Joanna mengangguk dan meminum air mineral di depannya. “Aduh! Kenapa lo malah lapor polisi? Tanpa seizinku pula!” ujar Joanna mulai kesal. Ia tak menyangka, jika Kennan akan bertindak sejauh itu. “Sorry. Tapi, ini jalan terbaik agar lo gak di DO. Pihak kampus pasti akan menimbang kembali kejadian yang menimpamu.” Joanna meremat rambut mullet-nya. Sekarang ia bukan hanya takut di drop out dari kampus, tapi juga takut kalau Mark dan Sean mengetahui hal ini, dan berimbas pada Kennan. Gadis itu bangkit berdiri sambil memasang wajah geram “Ken. Ini kali terakhir, lo ikut campur soal gue. Masalah ini biar gue aja yang selesaikan, lo fokus ke persiapan bikin skripsi aja, oke!” Joanna bangkit, dan hendak melangkah namun Kennan sigap menarik lengannya. “Kenapa Jo, kita kan teman. Gue seneng bisa bantu.” “Tapi ini berlebihan untuk hanya seorang teman. Dan gue gak mau melibatkanmu lebih dari ini, paham?” Joanna menepis cengkraman pemuda itu. Eits, lagi-lagi Kennan memegang pergelangannya dan malah menariknya keluar dari kafe. “Ken!” ujar Joanna meninggikan suaranya. Mereka sudah berada di pelataran kafe. “Kebiasaan banget sih, narik-narik tangan orang! Lo, mau gue dipecat sama bos?” sungut Joanna. Kennan bergeming, malah membuka pintu mobil, dan sedikit mendorong Joanna untuk masuk. Ia bahkan memasang seat belt pada gadis itu. “Tenang, Jo. Lo free hari ini, gue udah minta bantuan temenmu, si Ben buat bikin lo cuti beberapa hari sampai pulih.” “Kok, jadi ngatur-ngatur gini sih. Gaji gue apa kabar?” Kennan hanya tersenyum tipis. Melihat itu, Joanna merasa frustasi. “Ken, gimana gue bisa bayar hutang ke lo kalau gini? Ayolah, turunin di sini aja dan biarkan gue kerja.” Joanna terus berbicara. Kennan menggeleng malah menginjak pedal gas keluar dari kafe itu. **** Well, you done done me in, you bet I felt it I tried to be chill, but you're so hot that I melted I fell right through the cracks Now I'm trying to get back .... . Sepanjang jalan, mereka terdiam seribu bahasa hanya alunan lagu yang mengisi ruang sepi di mobil itu. Sesekali, Joanna melirik ke arah Kennan, ia dibuat gusar dan sibuk membendung amarah, bahkan gadis itu ingin rasanya menonjok wajah tampan milik Kennan. Namun tak sampai hati, pada kenyataannya, Joanna membiarkan lelaki itu membawanya pergi entah ke mana. Hingga lambat laun, gadis itu tertidur sambil kepalanya miring ke arah jendela. Kennan melihat itu, dan menarik lembut kepala Joanna untuk disandarkan di bahunya. ‘Jangan selalu nolak Nona keras kepala! Biarkan gue membantumu!’ batin Kennan. Dua jam perjalanan, hawa dingin mulai menusuk. Joanna sedikit menggigil dalam posisi masih bersandar pada Kennan, hingga mobil itu terparkir di sebuah tempat yang cukup lapang. “Joanna, kita sudah sampai ....” bisik Kennan menyentuh pelan salah satu bahunya. Joanna melenguh dan menyipitkan mata, ia mencoba menerka situasi di mana mereka. Namun ia langsung berjengit saat mata keduanya bersiborok dalam keadaan tubuhnya menempel pada Kennan. “Anjirr!” pekiknya menjauh lalu sibuk merapikan duduknya. Namun, ia tersadar dan langsung menutup rapat bibirnya. Kennan terkekeh. “So-sorry. Gue, ketiduran ya?” “Hu-um.” “Sorry ....” Hanya itu yang bisa ia ucapkan. Joanna yakin, pasti pipinya sudah merah seperti kepiting rebus. “It’s oke. Gue ngerti lo belum sepenuhnya pulih, jadi cepat ngantuk. Ayo, kita turun.” Kennan mulai membuka pintu mobil, begitupun Joanna. Matanya gadis itu mulai menyapu. Sepanjang memandang, terdapat tanaman teh yang luas. “Perkebunan teh? Di mana ini?” tanya Joanna. “Puncak.” Kennan mengitari mobilnya dan mendekat ke arah Joanna seraya menyerahkan sweater miliknya. “Pakai ya. Kegedean buat lo, tapi gak apa-apa,” imbuh Kennan. Joanna manut saja dan segera memakai baju hangat itu. Sehangat sweater, hati Joanna pun ikut hangat. Walau pun belum paham kenapa ia diajak ke tempat itu, namun Joanna lebih mengikuti alur lelaki itu saja. Tokh, ia kadung terhipnotis pada suasana yang hijau dan sejuk itu. Mereka menatap beberapa penjual aneka syal dan aksesoris. Kennan memegang pergelangan tangan Joanna ke arah penjual gelang etnik. “Unik ya? Lo suka gak?” tanya Kennan. Manik matanya sibuk menelisik detail gelang dan kalung yang kebanyakan terbuat dari kayu dan batok kelapa. “Suka,” jawab Joanna singkat. Tangannya terulur pada gelang berwarna cokelat, ada inisial huruf yang diapit bulatan-bualatan kecil. Kennan bisa melihat itu. “Pak, ini bisa diukir nama sesuai keinginan?” tanya Kennan. “Bisa Mas, bayar dua puluh ribu satu nama.” “Oke, saya ambil dua dan tolong ukirkan nama kami.” Kennan menulis namanya dan juga nama Joanna. Joanna terkikik geli. “Please, Ken. Lo udah kayak anak TK!” Kennan membalas dengan senyuman. “Ini seru, Jo.” Sambil menunggu gelang pesanannya jadi, Kennan meminta gadis itu untuk duduk di kursi panjang. “Gue beli air kelapa muda di seberang sana, tunggu ya.” Joanna mengangguk, lalu menatap punggung Kennan yang menyeberang jalan. ‘Lo baik juga, Ken.’ Ponsel Joanna berdering tepat saat Kennan telah selesai membeli minuman, ia mendekat namun memilih diam mendengarkan obrolan Joanna di telepon. “Kamu, Bella. Aku udah membaik, tapi belum bisa masuk kuliah, mungkin besok.” Joanna terdiam, seperti tengah mendengarkan suara di seberang sana. “Iya tau. Makasih ya, kamu lebih percaya padaku. Besok, aku harus menghadap rektor, entahlah nasibku gimana,” ucapnya di sela tawa. “Oke, sampai ketemu besok. Bye!” Joanna mematikan sambungan, dan terkejut saat Kennan sudah duduk di sampingnya. “Haish! Lo kayak hantu, bikin kaget.” “Hantu ganteng ya,” seloroh Kennan. Joanna hanya mendelik. Penjual aksesoris, datang mendekat dan menyerahkan dua gelang pesanan Kennan. Tampak pemuda itu tersenyum tipis, menatap nama ia dan Joanna. “Berapa jadinya Pak?” “Sembilan puluh ribu, Mas." Kennan mengangguk lalu menyodorkan selembar warna merah dan biru. "Lebihnya buat Bapak." Lelaki tua itu tersenyum senang. "Makasih banyak Mas." "Sama-sama." Sementara Joanna menyambar minuman miliknya dari tangan Kennan dan diseruput memakai sedotan, tanpa sadar Kennan menatapnya lekat-lekat. Iris matanya, menatap mata yang jika ditatap dengan teliti, Joanna memiliki bulu mata yang lentik, hidung kecil tapi mancung, bibir tipis, dan berkulit putih. Semua hal yang dimiliki gadis itu, membuat daddanya berdesir tanpa permisi. “Joanna, gue ... mau mengatakan sesuatu, boleh?” tanya Kennan kemudian. “Ngomong aja, gue gak pernah larang lo kan.” Kennan terkekeh. Rasa gugup menyergapnya tiba-tiba. “Sebelumnya, gue tanya dulu sesuatu. Lo akrab ya sama Bella?” “Iya, lumayan. Dia baik, bahkan masih percaya padaku, kalau gue cuma difitnah soal obat-obatan itu.” Kennan mengangguk-anggukkan kepala. “By the way. Lo percaya cinta yang tulus?” Kennan kembali bertanya. Alis Joanna bertaut. Ia tak paham, kenapa lelaki di hadapannya mengucapkan itu. Namun, pertanyaan itu sulit untuk dijawab. “Ada aja kali. Cuma, gue emang gak mau nyoba-nyoba. Takut malah terluka.” Kennan belum paham maksud ucapan Joanna, ia masih bergeming untuk tetap mendengarkan. “Jangankan cinta dari pasangan kekasih, cinta dari seorang ibu atau ayah aja gua gak ngalamin. Mereka tega ninggalin gue, gak peduli apa pun. Makanya, malas rasanya jatuh cinta.” Mendengar itu, Kennan tersenyum hambar. Apa yang Joanna alami, mirip dengannya walau hakikatnya berbeda. Namun, entah sejak kapan semua itu berubah, dan ia malah ingin perasaan cinta itu tumbuh bersemi di hati. “Sama. Gue mencoba menutup perasaanku selama ini pada siapa pun. Tapi, pertemuanku dengan seorang gadis, malah membuatku berubah pikiran dan ingin memilikinya.” Joanna menatapnya dengan tatapan berbinar. “Wah. Pasti cewek itu istimewa,” ujar Joanna. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. “Iya. Di hatiku, dia sangat istimewa.” Mata elang Kennan menatap intens iris hazel Joanna. Cukup lama, mereka saling memandang satu sama lain. Bahkan tanpa sadar Kennan mendekatkan wajah ke arah Joanna, pandangannya turun perlahan ke bibir gadis itu. Untuk sedetik, mata keduanya tampak sayu. Namun, Kennan mengerjap – tersadar, membuat mereka sedikit menjauh sambil sibuk memperbaiki tempat duduknya. “Si-siapa dia?” tanya Joanna tergagap mencoba mengalihkan suasana. Degup jantungnya terasa lebih berisik dari sebelumnya. “Dia, Bella,” jawab Kennan singkat. Mata Joanna membulat seketika, sejurus kemudian ia tertawa namun terdengar hambar. ‘Iya, pasti Bella. Gak mungkin gue kan, mikir apa sih, gue tadi!’ batin Joanna. Kennan kembali menatap wajah bersih milik Joanna. Yang ditatap sibuk mengetuk-ngetuk keningnya. “Gue minta bantuanmu untuk jadi comblang gue, mau kan?” tanya Kennan kemudian. “Gu-gue??” tanya Joanna tak percaya. “Iya. Lo kan deket sama Bella, bisa jadi perantara gue buat pendekatan. Jujur aja, gue kurang pengalaman soal ini walaupun pernah pacaran sebelumnya.” Joanna menelan saliva dengan kasar. “Gimana caranya, Ken?” “Gampang. Nanti gue kasih tau, lo Cuma tinggal melakukan arahanku dan tenang aja, ada imbalannya.” “Imbalan?” “Yup! Lo kan selalu mengatakan jika biaya pengobatan di rumah sakit jadi hutang. Nah, mulai detik ini itu kulunaskan, dan satu imbalan lagi.” “Apa?” “Itu nanti, kalau Bella udah mulai suka sama gue.” Joanna mengangguk samar. “Oke. Sebenernya, tanpa imbalan gue mau kok bantu lo. Kita kan teman.” “Bukan soal pamrih Jo. Tapi, gue menghargaimu." Joanna mengangkat bahu dramatis, seraya bangkit dari tempat duduknya. Angin sore mulai menyapu wajahnya, bahkan olesan mega jingga di langit tampak indah terhampar. Tapi entah kenapa, ada yang terasa sesak di dadda Joanna mendengar semua kalimat yang telah pemuda itu ucapkan tentang perasaannya pada Bella. 'Gue kenapa?' “Makasih ya, Joanna ....” ucap Kennan pelan. Ia pun ikut berdiri sambil merapatkan jaketnya. “Sama-sama. Kita pulang yuk, perkiraan sampe rumah malam deh, kasihan Oma sendirian. “Oke. Tapi, pakai ini dulu." Kennan memakaikan gelang yang tadi dibelinya, ke tangan Joanna. namun gadis itu langsung tersadar sesuatu. "Tertukar Ken. Di gelang ini, malah tertulis namamu." Kennan terkekeh pelan. "Ya emang, biar lo terus inget sama gue." "Dih, apaan sih lo. Gak jelas." "Udah pakai aja, Joanna Olivia!" ujar Kennan di sela tawa. Walau bingung, Joanna lagi-lagi manut saja apa yang diucapkan pemuda itu. Detik berikutnya, Kennan menggenggam jemari Joanna untuk bersama mendekati mobil miliknya. Hal itu, menghadirkan desiran di hati Joanna. ‘Ya elah! Kenapa sih, dia pegang tanganku kayak gini, tapi sukanya sama orang lain. Bikin gue makin nyesek!’ batin Joanna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN